Penjalaran Gelombang Tsunami Dari Zona Megathrust Laut Sulawesi

Oleh: Ir. Drs. Abdullah, MT

Zona Megathrust di Laut Sulawesi

Dalam Abdullah (2025a) dijelaskan tentang mekanisme gempabumi megathrust, sebarannya di wilayah Indonesia dan seismic gap-nya. Juga, dalam Abdullah (2026) dijelaskan tentang dampak gempabumi megathrust, epesenter gempabumi dan sumber tsunami, ancaman gempabumi megathrust dan seismic gap di Laut Sulawesi.

Gempabumi megathrust tergolong gempabumi tektonik yang terjadi di zona subduksi atau zona konvergen (pertemuan) 2 lempeng tektonik, dengan magnitudo yang besar sampai sangat besar. Gempabumi dengan magnitudo > 8 hanya terjadi di zona ini. Gempabumi jenis ini memiliki karakteristik khusus karena melibatkan patahan naik atau sesar naik (thrust fault) dengan pergeseran yang besar. Karenanya, zona tersebut juga disebut zona megathrust. Gempabumi megathrust selalu menimbulkan bencana besar dan mencakup wilayah yang luas. Umumnya, gempabumi megathrust disertai tsunami.

Gambar 1.  Sebaran ancaman gempabumi megathrust di Indonesia. Kotak merah menunjukkan ancaman gempabumi megathrust Mmaks 8,5 di Laut Sulawesi. (Sumber gambar: Vina Fadhrotul Mukaromah, 2020)

Laut Sulawesi terletak di bagian barat Samudra Pasifik dengan kedalaman mencapai 6.200 m. Wilayah laut ini membatasi wilayah Indonesia bagian utara dengan Filipina bagian selatan. Laut Sulawesi berbatasan langsung dengan bagian utara Palau Sulawesi dan pulau-pulau di Provinsi Sulawesi Utara. Laut ini juga berbatasan dengan bagian timur-laut Pulau Kalimantan. Gambar 1 menunjukkan posisi Laut Sulawesi. Di Laut Sulawesi terdapat zona subduksi atau zona megathrust yang memanjang timur – barat, seperti yang ditunjukkan dalam Gambar 1 (garis hitam di sebelah utara Pulau Sulawesi). Di zona ini terdapat ancaman gempabumi megathrust dengan magnitudo maksimum 8,5 (M8,5).

Wilayah Terdampak

Jika terjadi gempabumi megathrust dengan M8,5 di Laut Sulawesi, bisa diperkirakan gempabumi tersebut akan disertai tsunami dengan tinggi gelombang lebih dari 20 m. Perkiraan ini didasarkan pada gempabumi megathrust Aceh M9,2 pada 26 Desember 2004 yang disertai gelombang tsunami setingggi 30 m. Dampak tsunami Aceh 2004 mencakup 14 negara. Adapun perkiraan wilayah terdampak jika terjadi gempabumi M8,5 dan tsunami di Laut Sulawesi, dengan memperhatikan Gambar 1, adalah sebagai berikut:

  • Bagian selatan Filipina (di bagian utara),
  • Kepulauan Sangihe-Talaud Prov. Sulut (di bagian timur),
  • Prov. Sulteng, Prov. Gorontalo dan Prov. Sulut (di bagian selatan), dan
  • Prov. Kaltim dan Prov. Kaltara (di bagian barat).

Gempabumi M8,5 akan menimbulkan bencana alam yang besar di wilayah pesisir sekitar Laut Sulawesi seperti yang disebutkan di atas. Jenis bencana alam yang akan terjadi adalah bencana gempabumi sendiri yang pasti diikuti oleh bencana tsunami. Selain itu, kemungkinan besar juga akan terjadi bencana likuefaksi, bencana longsor serta perubahan lanskap, di beberapa wilayah terdampak.

Penjalalaran Gelombang Tsunami

Perhatikan Gambar 2. Dalam hal ini, diasumsikan terjadi gempabumi megathrust M8,5 di Laut Sulawesi dengan episenter S. Jika lokasi episenter gempabumi adalah juga sumber tsunami, dapat dihitung waktu penjalaran gelombang tsunami dari S ke daratan sekitarnya. Dalam tulisan ini, hanya dihitung waktu dari S ke A, dari S ke B dan dari S ke C. Aplikasi yang digunakan untuk mengetahui titik koordinat dan kedalaman dasar laut adalah Google Earth 31 Desember 2020. Selain itu, digunakan pendekatan 1o = 111, 226 km, 1’ = 1,854 km dan 1” = 0,031 km.

Gambar 2  Simulasi terjadinya gempabumi megathrust di zona subduksi Laut Sulawesi serta jarak S (episenter gempa) ke A (Pulau Salando, Kab. Toli-Toli), B (Kota Buol, Kab. Buol) dan C (Dermaga Ponelo Kepulauan, Kwandang, Kab. Gorontalo Utara)

Dari aplikasi tersebut didapatkan koordinat S: (121°32’36″ BT dan 02°25’18″ LU), koordinat A: (120°47’48″ BT dan 01°20’11″ LU), koordinat B: (121°32’36″ BT dan 01°04’18″ LU), dan koordinat C: (122°53’07″ BT dan 00°53’49″ LU). Dari aplikasi yang sama juga diketahui kedalaman laut di S = 5.452 m serta profil dan kedalaman laut antara S – A, S – B, dan S – C. Profil dasar laut dan kedalaman rata-ratanya ditunjukkan dalam Gambar 3.

Gambar 3  Profil dasar laut antara S – A, S – B dan S – C dan kedalaman laut rata-rata (Sumber: Hasil analisis Lab. Palu-Koro FMIPA UNTAD, 2026)

Untuk menghitung kecepatan (v) dan waktu penjalaran gelombang tsunami (t) dari S ke A, B dan C, masing-masing digunakan rumus sederhana berikut:

dimana:

g = percepatan graviasi bumi (9,78 m/detik2)

h = kedalaman laut rata-rata antara S dengan masing-masing A, B dan C

x = jarak antara S dengang masing-masing A, B dan C.

Jarak (x) bisa didapatkan dari aplikasi Google Earth dengan menghubungkan S dengan masing-masing A, B dan C. Jarak (x) juga bisa didapatkan melalui perhitungan biasa. Hasil pengukuran dan perhitungan parameter-parameter gelombang tsunami yang menyertai gempabumi M8,5 di Laut Sulawesi ditampilkan dalam tabel berikut:

Tabel  Nilai parameter-parameter penjalaran gelombang tsunami di Laut Sulawesi

 Sumber: Hasil analisis Lab. Palu-Koro FMIPA UNTAD, 2026

Tabel di atas memperlihatkan bahwa kecepatan gelombang tsunami bergantung pada kedalaman laut yang dilewati, semakin dalam semakin cepat gelombangnya. Tabel tersebut juga memperlihatkan waktu atau durasi penjalaran gelombang tsunami dari episenter gempa (S) yang juga sebagai pusat tsunami ke pantai Pulau Salando (A), pantai Buol (B) dan pantai Kwandang (C).

Tsunami Regional dan Tsunami Lokal

Dalam Abdullah (2017) disebutkan bahwa berdasarkan durasi penjalarannya, ada 3 jenis tsunami, yakni tsunami global, regional dan lokal. Dengan melihat durasi gelombang tsunami dari S ke A, B dan C, ketiganya tergolong tsunami regional. Tsunami seperti ini mempunyai golden time yang lebih besar dibanding tsunami lokal. Golden time tsunami adalah waktu kritis yang tersedia yang bisa digunakan oleh orang yang berada di sekitar pantai untuk menyelamatkan diri ke lokasi yang aman sebelum tsunami menerjang pantai.

Dari tabel di atas diketahui durasi penjalaran gelombang tsunami dari S ke A (Pulau Salando) 14 menit 47 detik dan dari S ke B (Kota Buol) 16 menit 13 detik. Untuk wilayah yang berbukit durasi ini cukup longgar untuk digunakan menyelamatkan diri dari kejaran tsunami ketika tsunami sudah tiba di garis panti, tetapi sempit untuk wilayah yang datar. Karena, kecepatan gelombang tsunami di darat masih lebih cepat dibanding kecepatan lari manusia.

Bisa diperkirakan bahwa setelah gelombang tsunami tiba di Pulau Salando, sekitar 5 menit kemudian gelombang tsunami akan tiba di pantai Kota Toli-Toli. Keberadaan beberapa pulau di depan Kota Toli-Toli tidak bisa dianggap sebagai benteng tsunami, karena gelombang tersebut dapat “terbelah” ketika menabrak pulau dan menyatu kembali di belakang pulau sambil tetap meneruskan penjalarannya. Bahkan, ketika gelombang yang terbelah tersebut menyatu kembali, bisa mengalami interferensi konstruktif (saling menguatkan) dan gelombangnya menjadi lebih tinggi dari sebelumnya.

            Selain itu, jika terjadi gempabumi megathrust di zona ini, yakni gempabumi dengan M8,5 atau M > 8, selain terjadi tsunami yang bersumber dari episenter gempa, juga diperkirakan terjadi tsunami yang bersumber dari tebing-tebing terjal baik di darat dekat pantai maupun tebing-tebing terjadl di dasar laut, termasuk muara-muara sungai. Perkiraan ini didasari oleh peristiwa gempa PADAGIMO Sulteng 28 September 2018 dengan M7,4, yakni 1 episenter gempa tapi memicu tsunami di 5 perairan pada saat yang bersamaan (Abdullah, 2026).

Tsunami yang dibangkitkan oleh longsor tersebut termasuk tsunami lokal karena jaraknya sangat dekat dengan daratan. Di sepanjang daratan pantai Kab. Toli-Toli dan Kab. Buol, cukup banyak tebing terjal yang berbatasan langsung dengan Laut Sulawesi. Juga terdapat beberapa sungai yang bermuara ke Laut Sulawesi. Tsunami lokal ini lebih cepat tiba di darat dibanding tsunami regional, pada kejadian gempabumi yang sama. Golden time tsunami lokal hanya beberapa menit saja. Gempabumi M7,4 pada 28 September 2018, memicu longsor muara beberapa sungai yang mengalir ke Teluk Palu. Longsor tersebut, di beberapa muara sungai, membangkitkan tsunami lokal. Dalam kejadian ini, secara rata-rata, golden time tsunaminya hanya 2 menit 22 detik (Abdullah, 2025b).

Toli-toli, Buol serta Palu dsk.

Beberapa daerah di wilayah pesisir utara Pulau Sulawesi dan berhadapan langsung dengan zona subduksi yang menyimpan potensi gempabumi M8,5 yang disertai tsunami. Daerah yang dimaksud adalah Kab. Toli-Toli dan Kab. Buol Prov. Sulteng serta Prov. Gorontalo dan Prov. Sulut, lihat Gambar 2 dan Gambar 4, yang dipastikan akan terdampak buruk jika terjadi gempabumi dan tsunami yang dimaksud. Dalam tulisan ini, uraian hanya difokuskan pada Kab. Toli-Toli dan Kab. Buol serta Kota Palu dsk (dan sekitarnya) yang juga bisa terdampak buruk dari gempabumi dan tsunami tersebut, lihat Gambar 4.

Gambar 4  Posisi geografis zona megathrust serta Kab. Buol, Kab. Toli-Toli,

Kota Palu, Kab. Donggala. Kab. Sigi dan Kab. Parimo Dalam hal ini, Toli-Toli dan Buol akan merasakan getaran gempa sesuai dengan getaran gempa M8,5. Bagaimana dengan Kota Palu dsk.? Semakin jauh dari episenter M8,5 kekuatan getaran akan semakin berkurang. Bagi Kota Palu dsk., yang wilayahnya lebih jauh dari zona megathrust dibanding Toli-Toli dan Buol, pasti merasakan kekuatan getaran yang kurang getaran M8,5 dan bisa saja berkurangnya sampai pada kekuatan M7,4, seperti kekuatan getaran gempa yang terjadi pada 28 September 2018, yang berdampak terhadap wilayah PADAGIMO (Palu, Donggala, Sigi dan Parimo) dan disebut bencana PADAGIMO Sulteng 2018.

Penutup

Gempabumi selalu terjadi secara tiba-tiba, dengan tiba-tiba bangunan roboh dan korban pun berjatuhan. Bencana Aceh 2004 dan bencana PADAGIMO Sulteng 2018 menimbulkan dampak buruk di wilayah yang luas. Kedua bencana ini dipicu oleh gempabumi. Karenanya, sangat penting dan mendesak untuk memutakhirkan atau menyusun konsep mitigasi bencana (pengurangan risiko bencana) yang tepat dan akurat sebagai antisipasi menghadapi ancaman gempabumi M8,5 dan tsunami di Laut Sulawesi. Tujuannya, untuk mengurangi risiko bencana yang dapat mencegah dampak buruk bencana yang besar jika terjadi gempabumi megathrust. Tindakan-tindakan mitigasi bencana meliputi:

  1. Pencegahan bencana: serangkaian kegiatan yang dilakukan sebagai upaya untuk menghilangkan dan/atau mengurangi ancaman bencana;
  2. Mitigasi fisik dan mitigasi non-fisik: serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana;
  3. Kesiapsiagaan: serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta melalui langkah yang tepat guna dan berdaya guna; dan
  4. Peringatan dini: serangkaian kegiatan pemberian peringatan sesegera mungkin kepada masyarakat tentang kemungkinan terjadinya bencana pada suatu tempat oleh lembaga yang berwenang.

Pemutakhiran atau penyusunan tersebut bukan hanya untuk Kab. Toli-Toli dan Kab. Buol saja, yang wilayahnya berhadapan langsung dengan Laut Sulawesi, tetapi juga untuk Kota Palu, Kab. Donggala, Kab. Sigi dan Kab. Parimo serta yang lainnya. Karena, gelombang gempabumi bisa menjalar baik di darat maupun di laut dan perairan lainnya, sedangkan gelombang tsunami hanya bisa menjalar di perairan saja. Dengan demikian, konsep mitigasi bencana Prov. Sulteng, juga perlu dimutakhirkan.

Konsep mitigasi bencana bukan hanya kepentingan pemerintah saja, melainkan kepentingan seluruh komponen warga. Karenanya, penyusunannya harus melibatkan seluruh komponen pentaheliks, yakni pemerintah, masyarakat, pengusaha, akademisi dan jurnalis.

Daftar Pustaka

Abdullah, 2017, Tsunami Teluk Palu dan Sesar Palu-Koro, publishing tadulako, Palu.

Abdullah, 2025a, Mekanisme dan Sebaran Ancaman Gempabumi Megathrust di Indonesia, HU. Mercusuar.WEB.ID: 12 Juni 2025, https://mercusuar.web.id/opini/mekanisme-dan-sebaran-ancaman-gempabumi-megathrust-di-indonesia/ (Diakses 29 Juni 2026).

Abdullah, 2025b, Mitigasi Bencana  Alam untuk Perguruan Tinggi (Bahan Ajar), Prodi Teknik Geofisika, Jurusan Fisika dan Matematika FMIPA UNTAD, Palu.

Abdullah, 2026, Ancaman Gempabumi Megathrust dan Tsunami di Laut Sulawesi, HU. Mercusuar.WEB.ID: 28 Januari 2026, https://mercusuar.web.id/opini/ancaman-gempabumi-megathrust-dan-tsunami-di-laut-sulawesi/ (Diakses 29 Juni 2026)

Vina Fadhrotul Mukaromah, 2020, Penjelasan soal Potensi Gempa Megathrust dan Perlunya Mengakhiri Kepanikan …, KOMPAS.com, 27 September 2020, https://amp.kompas.com/tren/read/2020/09/27/143500065/penjelasan-soal-potensi-gempa-megathrust-dan-perlunya-mengakhiri-kepanikan- (Diakses 17 Mei 2025)

(Penulis adalah Dosen Prodi Teknik Geofisika dan Kepala Laboratorium Palu-Koro, Jurusan Fisika dan Matematika Fakultas MIPA Universitas Tadulako, Palu)

Pos terkait