Oleh: Umar Hannase
Akhir-akhir ini, Muhammadiyah mungkin terlihat begitu memikat di matamu. Di beranda media sosial, kamu melihat wajah organisasi ini tampil begitu rapi, progresif, rasional, dan modern. Di sana terpampang kerja-kerja nyata: deretan sekolah yang megah, rumah sakit yang sibuk melayani, kampus yang terus bertumbuh, hingga gerakan kemanusiaan yang tanggap. Kamu melihat tokoh-tokohnya berbicara dengan jernih, serta barisan kader muda yang melangkah penuh percaya diri membawa identitas Muhammadiyah ke tengah riuhnya ruang publik. Semua itu benar. Namun, izinkan saya mengatakan sesuatu dengan jujur bahwa Muhammadiyah tidak seindah potongan-potongan gambar dan video yang kamu lihat di layar gawaimu.
Di Balik Layar Media Sosial
Muhammadiyah bukanlah entitas yang sempurna, dan ia tidak melulu berisi kabar baik. Di balik kemegahan amal usaha yang sering dibanggakan, terdapat ruang-ruang kerja sunyi yang jarang tersorot kamera. Di dalamnya ada kelelahan kader, konflik-konflik kecil yang menguras emosi, rapat-rapat yang terasa terlalu panjang, hingga dinamika antarindividu yang kompleks.
Kita juga berhadapan dengan realitas akar rumput yang tak selalu ideal. Ada kesenjangan yang kadang menganga antara gagasan besar di tingkat pimpinan dan eksekusi di lapangan. Ada Ranting yang hidup dan berdampak, namun harus diakui, ada juga yang nyaris mati suri. Ada amal usaha yang melesat maju, namun ada pula yang harus berjuang berdarah-darah hanya untuk memastikan agar tetap hidup. Di sini, ada kader yang bergerak dengan keikhlasan penuh, dan ada pula yang masih tertatih belajar menata niatnya.
Fondasi yang Dibangun dalam Sunyi
Ketenaran dan respek yang diraih Muhammadiyah hari ini tidak lahir dari euforia sesaat atau tren media sosial. Bangunan besar ini ditegakkan oleh tangan-tangan kasar yang bekerja jauh sebelum kamera menyala.
Kekuatan kita ada pada guru-guru yang tetap setia mengajar meski dengan gaji terbatas. Pada pengurus ranting yang bersikeras menjaga nyala pengajian kecil di pelosok desa. Pada tenaga kesehatan yang melayani warga tanpa banyak retorika. Pada kader-kader yang berjibaku mengurus kebencanaan, merawat pendidikan, membangkitkan ekonomi umat, dan menjalankan dakwah sehari-hari tanpa pernah merasa perlu diumumkan ke mana-mana.
Di Muhammadiyah, kamu akan segera menyadari bahwa dakwah tidak selalu berwujud dalam bentuk ceramah di atas mimbar. Dakwah bisa berupa tata kelola sekolah yang profesional, klinik yang tulus melayani masyarakat kecil, penggunaan data yang presisi untuk merumuskan kebijakan, respons cepat saat bencana datang, hingga pengajian mingguan yang tetap konsisten berjalan meski hanya dihadiri segelintir orang.
Panggilan untuk Bertumbuh, Bukan Sekadar FOMO
Jadi, jika hari ini kamu tergerak untuk bergabung dengan Muhammadiyah hanya karena ia sedang ramai dibicarakan, saya sarankan pikirkan lagi. Pernyataan ini bukan untuk menakut-nakuti, apalagi untuk menutup pintu rapat-rapat. Muhammadiyah tidak boleh dan tidak seharusnya menjadi ruang eksklusif yang hanya diisi oleh mereka yang merasa paling paham agama. Persyarikatan ini justru harus selalu terbuka bagi siapa pun yang memiliki tekad untuk belajar, bertumbuh, dan ikut turun tangan bekerja.
Namun, masuklah dengan kesadaran penuh. Muhammadiyah bukanlah tempat untuk mencari panggung semata. Bukan tempat untuk memupuk arogansi dan merasa lebih benar dari kelompok lain. Bukan pula alat untuk menjatuhkan organisasi Islam yang berbeda jalan dengan kita. Muhammadiyah bukanlah agama; ia hanyalah wadah perjuangan. Nilai Islam itu sendiri jauh lebih besar dan lebih agung daripada organisasi mana pun di dunia ini.
Maka, jika kamu datang, datanglah bukan sebagai pengagum yang rapuh dan mudah kecewa saat melihat ketidaksempurnaan kami. Datanglah sebagai seorang pembelajar. Jika hari ini niatmu belum sepenuhnya bersih, tidak apa-apa. Niat manusia memang sering kali butuh waktu untuk tumbuh dan menjernih pelan-pelan.
Satu hal yang pasti: jangan biarkan langkahmu berhenti hanya pada Fear Of Missing Out (FOMO). Jangan sekadar ikut tren atau sekadar memakai atribut identitas. Belajarlah. Hadirlah. Dengarkan. Berkontribusilah. Muhammadiyah tidak membutuhkan orang yang hanya sekadar ingin terlihat Muhammadiyah. Persyarikatan ini membutuhkan orang-orang yang sudi ikut memikul beban kerja-kerja kemanusiaan dan kebangsaan.
Kritik untuk Diri Sendiri dan Pesan bagi Tuan Rumah
Sebagai organisasi besar, Muhammadiyah juga harus lapang dada menerima kritik dari dalam. Kita tidak boleh terjebak dan hanya bangga pada nama besar. Jangan sampai kita hanya sibuk mengulang-ulang romantisme sejarah masa lalu, atau terlalu asyik memoles citra modern, sementara di saat yang sama kita abai terhadap problem kaderisasi, pemerataan gerakan, dan kepekaan sosial di tingkat akar rumput. Kapal sebesar Muhammadiyah bisa menjadi lamban dan karam jika kita terlalu nyaman bernaung di bawah bayang-bayang reputasi sendiri.
Bagi kita yang sudah lebih dulu berada di dalam rumah ini, fenomena ketertarikan anak-anak muda belakangan ini harus menjadi cermin refleksi. Jangan terlalu cepat menaruh curiga, jangan terjebak pada sindrom senioritas yang merasa paling berhak. Jangan membuat Muhammadiyah tampak seperti rumah tua yang pintunya terlalu berat dan berderit saat hendak dibuka oleh generasi baru.
Jika ada anak-anak muda yang datang mengetuk pintu karena rasa kagum, tugas kita bukanlah mengusir mereka dengan berbagai “ujian niat”. Tugas kita adalah merangkul dan membantu mereka menemukan makna dari gerakan ini dengan cara yang lebih jujur dan membumi. Sebab pada akhirnya, nilai seseorang di Muhammadiyah tidak pernah diukur dari seberapa lama ia telah menetap di dalamnya. Muhammadiyah adalah tentang siapa yang terus konsisten berusaha menghidupkan amal, memperdalam ilmu, dan menebar kebermanfaatan bagi semesta.
Jadi, pikirkanlah baik-baik sebelum melangkah masuk, dan jika pada akhirnya kamu memilih untuk berada di barisan ini, jangan hanya sibuk membanggakannya, tapi berbuatlah. ***
Penulis adalah Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Sulawesi Tengah






