Oleh: Temu Sutrisno
Tahun Baru 1 Muharam 1448 Hijriah bukan sekadar penanda pergantian kalender bagi umat Islam. Momentum ini membawa pesan mendalam tentang perubahan, pembaruan, dan keberanian meninggalkan kebiasaan lama menuju keadaan yang lebih baik. Semangat hijrah yang diwariskan Nabi Muhammad SAW sejatinya tidak hanya relevan bagi kehidupan individu, tetapi juga dapat menjadi inspirasi bagi perjalanan bangsa Indonesia di tengah berbagai tantangan yang dihadapi saat ini.
Indonesia sedang berada dalam situasi yang membutuhkan energi perubahan sekaligus energi persatuan. Perekonomian nasional masih menghadapi tekanan akibat ketidakpastian global, mulai dari gejolak geopolitik, perlambatan ekonomi dunia, hingga fluktuasi harga komoditas. Di sisi lain, praktik korupsi masih terus ditemukan dan menggerogoti kepercayaan publik. Tidak kalah mengkhawatirkan, rasa kekeluargaan nasional juga menghadapi ujian akibat polarisasi sosial, pertentangan politik, serta mengerasnya perdebatan di ruang digital.
Saat ruang publik dijejali narasi kebencian atas nama kritik dan kebebasan berpendapat, saat perbedaan pandangan politik menjelma menjadi permusuhan, dan saat kepentingan kelompok sering kali lebih diutamakan daripada kepentingan bangsa, semangat hijrah Nabi Muhammad SAW layak menjadi bahan perenungan bersama.
Hijrah yang dilakukan Rasulullah SAW dari Mekkah ke Madinah bukan sekadar perpindahan tempat. Hijrah merupakan transformasi besar yang mengubah masyarakat yang terpecah menjadi masyarakat yang bersatu. Di Madinah, Nabi Muhammad SAW berhasil membangun fondasi kehidupan sosial, politik, dan ekonomi yang kokoh di tengah masyarakat yang majemuk.
Langkah pertama yang dilakukan Rasulullah SAW adalah mempersaudarakan kaum Muhajirin dan kaum Anshar. Kaum Muhajirin datang dari Mekkah dengan meninggalkan harta dan kampung halaman. Mereka membutuhkan tempat hidup baru dan dukungan sosial. Sementara kaum Anshar adalah penduduk Madinah yang telah memiliki kehidupan yang relatif mapan.
Dalam kondisi seperti itu, konflik sosial sebenarnya sangat mungkin terjadi. Namun Rasulullah SAW justru membangun ikatan persaudaraan yang melampaui hubungan kekerabatan dan kepentingan ekonomi. Kaum Anshar membuka rumah mereka, berbagi pekerjaan, bahkan menawarkan sebagian harta mereka kepada saudara-saudara baru dari Mekkah. Solidaritas, kepedulian, dan semangat berbagi menjadi fondasi utama kehidupan masyarakat Madinah.
Pelajaran besar dari peristiwa tersebut adalah bahwa persatuan tidak lahir dari kesamaan latar belakang, melainkan dari kesediaan untuk saling memahami dan saling menguatkan. Persatuan membutuhkan pengorbanan, keikhlasan, dan komitmen terhadap tujuan bersama.
Langkah kedua yang tidak kalah penting adalah lahirnya Piagam Madinah. Kota Madinah saat itu dihuni oleh berbagai kelompok, mulai dari suku Aus, Khazraj, kaum Muhajirin, hingga komunitas Yahudi. Potensi konflik sangat besar. Namun Rasulullah SAW tidak memilih jalan dominasi atau pemaksaan kehendak. Beliau membangun kesepakatan sosial-politik yang dikenal sebagai Piagam Madinah.
Piagam tersebut menjamin kebebasan beragama, mengatur hak dan kewajiban setiap kelompok, serta menegaskan tanggung jawab bersama dalam menjaga keamanan dan ketertiban kota. Melalui kesepakatan itu lahirlah konsep ummah wahidah, yaitu masyarakat yang bersatu meskipun berbeda latar belakang suku, agama, maupun kepentingan.
Semangat inilah yang relevan bagi Indonesia hari ini. Bangsa Indonesia juga dibangun di atas keberagaman. Perbedaan suku, agama, budaya, bahasa, dan pilihan politik merupakan kenyataan yang tidak dapat dipisahkan dari identitas nasional. Karena itu, hijrah harus dimaknai sebagai transformasi kolektif menuju kehidupan kebangsaan yang lebih matang.
Pertama, hijrah dalam bidang ekonomi. Sudah saatnya masyarakat dan negara beralih dari budaya konsumtif menuju kemandirian ekonomi. Ketahanan ekonomi tidak akan lahir dari ketergantungan, melainkan dari produktivitas, inovasi, dan penguatan sektor riil. Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) harus terus diperkuat sebagai tulang punggung ekonomi nasional. Budaya menabung, berinvestasi, serta mencintai produk dalam negeri perlu ditingkatkan agar Indonesia memiliki fondasi ekonomi yang kuat menghadapi tantangan global.
Kedua, hijrah dalam tata kelola pemerintahan dan kehidupan publik. Korupsi masih menjadi salah satu hambatan terbesar pembangunan bangsa. Karena itu, semangat hijrah harus diwujudkan dalam perubahan moral dan integritas. Aparatur negara, pelaku usaha, dan masyarakat perlu meninggalkan mentalitas transaksional yang mengutamakan keuntungan pribadi di atas kepentingan umum. Tata kelola yang bersih, transparan, dan akuntabel merupakan syarat mutlak untuk mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial. Bangsa ini tidak boleh dikendalikan oleh kepentingan segelintir kelompok yang hanya mengejar keuntungan bagi dirinya sendiri.
Ketiga, hijrah sosial untuk memperkuat persaudaraan nasional. Perbedaan pilihan politik maupun pandangan sosial tidak boleh menjadi alasan untuk saling menjauh. Indonesia dibangun oleh semangat gotong royong dan persatuan. Karena itu, hijrah hari ini berarti meninggalkan prasangka, kebencian, dan permusuhan menuju budaya dialog, toleransi, dan saling menghormati. Ruang digital yang sering menjadi arena pertentangan harus diubah menjadi ruang edukasi, kolaborasi, dan penyebaran nilai-nilai kebajikan.
Hijrah dengan demikian dimaknai bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan perpindahan cara berpikir, cara bekerja, dan cara membangun kehidupan bersama. Rasulullah SAW telah menunjukkan bahwa kemajuan suatu masyarakat tidak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi atau politik, tetapi juga oleh kemampuan merawat persaudaraan dan membangun keadilan bagi seluruh warga.
Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi bangsa saat ini, semangat hijrah menjadi pengingat bahwa masa depan Indonesia tidak akan ditentukan oleh siapa yang paling keras suaranya, melainkan oleh siapa yang paling mampu menyatukan perbedaan untuk tujuan yang lebih besar. Sebagaimana Madinah menjadi kuat karena persatuan yang tumbuh di tengah keberagaman, Indonesia pun akan menjadi bangsa yang besar apabila seluruh anak bangsa mampu berhijrah dari perpecahan menuju persaudaraan, dari kepentingan sempit menuju kepentingan nasional, serta dari stagnasi menuju kemajuan.
Selamat Tahun Baru 1 Muharam 1448 Hijriah. Semoga semangat hijrah menjadi energi perubahan yang mengantarkan Indonesia menjadi bangsa yang lebih adil, lebih sejahtera, dan lebih bersatu.***
Penulis adalah Wartawan Mercusuar-Trimedia Grup, Sekretaris PWI Sulteng






