Oleh: Ir. Drs. Abdullah, MT.
Sesar dan Terban
Umumnya, struktur geologi dibagi atas 3 jenis, yaitu lipatan (fold), kekar (joint), dan patahan (fault) atau sesar. Sesar adalah bidang retakan atau rekahan pada kerak bumi yang disertai pergeseran relatif antara blok batuan dengan blok batuan lainnya yang sebelumnya menyatu. Terban (graben atau slenk) adalah zona depresi yang diapit oleh 2 sesar turun (normal fault) yang saling saling berhadapan dengan arah memanjang yang sejajar, seperti yang ditunjukkan dalam Gambar 1. Adapun sembul (horst) adalah bagian dari zona yang tidak mengalami penurunan, atau bagian yang terangkat ke atas.

Gambar 1 Terban, sesar turun dan sembul
Gambar 1 bisa dianggap sebagai ilustrasi bentuk dasar Lembah Palu (Abdullah, 2026). Lembah Palu memanjang dengan arah utara – selatan. Panjangnya sekitar 30 km, lebar bagian utara ± 10 km, lembah ini menyempit dari utara ke selatan, hingga lebar ± 5 km (Adjat Sudradjat, 1981). Model 2 dimensi (penampang timur – barat) Terban Palu dapat dilihat dalam Abdullah (1998).
Pusat Gempabumi Tektonik
Jalur Sesar Palu-Koro di Pulau Sulawesi ditunjukkan dalam Gambar 2. Ada 3 jenis pusat gempabumi tektonik dan ketiganya ada di dan sekitar Pulau Sulawesi, yaitu:
- Zona divergen, ditunjukkan dengan garis putus-putus di Selat Makassar, antara Sulawesi dan Kalimantan. Gempa yang dihasilkan bermagnitudo kecil dan pusat gempanya berkedalaman dangkal. Zona ini tidak berbahaya.
- Zona konvergen (zona subduksi atau zona megathrust), ditunjukkan dengan garis bergergaji. Terdapat di Laut Sulawesi, dan kemungkinan di Laut Maluku dan di laut sebelah timur Kolonedale sampai Kendari. Kedalaman pusat gempanya bisa dangkal, sedang atau dalam. Zona ini sangat berbahaya karena bisa menimbulkan gempa bermagnitudo > 8 dengan pusat gempa yang dangkal. Di Laut Sulawesi, zona ini mempunyai potensi gempa megathrust dengan magnitudo maksimum (Mmaks) 8,5.
- Zona sesar atau patahan, ditunjukkan dengan garis lurus antau hampir lurus. Beberapa sesar aktif yang ditunjukkan dalam peta tersebut adalah Sesar Gorontalo, Sesar Sula-Sorong, Sesar Palu-Koro, Sesar Matano, Sesar Saddang, Sesar Walanae dan Sesar Lawanopo. Magntudo gempa yang dihasilkan selalu < 8. Karena pusat gempanya berkedalaman dangkal, zona ini tetap berbahaya.

Gambar 2 Peta Geotektonik Pulau Sulawesi (Kaharuddin M. S., 2006, ditambahkan)
Karakteristik
Dari ekspedisi dan perjalanan ilmiah Sarasin Bersaudara dan kemudian dilanjutkan oleh E. C. Abendanon, serta dari sejumlah penelitian yang dilakukan terhadap Sesar Palu-Koro setelah ekspedisi tersebut, bisa disusun karakteristik Sesar Palu-Koro sebagai berikut:
- Terban (Graben) Sarasina, yang kemudian lebih dikenal sebagai Terban Palu atau Graben Palu, merupakan pembentuk dasar Lembah Palu, lihat Gambar 1. Karenanya, Sesar Palu-Koro di Lembah Palu, sejatinya disebut Sistem Sesar Palu-Koro atau Zona Sesar Palu-Koro.
- Sesar Palu-Koro memanjang dengan arah “utarabaratlaut – selatantenggara”, atau hampir “utara – selatan.” Ujung utaranya di wilayah pertemuan Selat Makassar dengan Laut Sulawesi. Ujung selatannya di pantai utara Teluk Bone, di Kecamatan Masamba Kabupaten Luwu Utara Sulawesi Selatan, lihat Gambar 2.
- Secara umum, Sesar Palu-Koro adalah sesar horizontal [dengan pergeseran mengiri (sinistral)], tetapi pada beberapa tempat pergeserannya vertikal.
- Panjang Sesar Palu-Koro sekitar 500 km. Di darat 250 km dan di perairan laut 250 km.
- Di darat, jalur Sesar Palu-Koro melewati Kota Palu, Kabupaten Sigi dan Kabupaten Poso Provinsi Sulawesi Tengah serta Kabupaten Luwu Utara Provinsi Sulawesi Selatan.
- Pada dekade 1980-an, kecepatan pergeseran Sesar Palu-Koro sekitar 14 – 17 mm/tahun (Adjat Sudradjat, 1981).
- Pada dekade 2010-an, kecepatan pergeseran Sesar Palu-Koro sekitar 40 mm/tahun dengan batas atas 58 mm/tahun (Mudrik Rahmawan Daryono, 2016).
- Sesar Palu-Koro adalah sesar aktif. Sejak pertama kali diidentifikasi pada 1901 sampai tulisan ini dibuat, Sesar Palu-Koro telah beberapa kali memicu terjadinya bencana gempabumi. Beberapa diantaranya disertai bencana geologi lainnya.
- Sesar Palu-Koro adalah sesar paling aktif di Indonesia dan salah satu sesar paling aktif di dunia.
Karakteristik Sesar Palu-Koro lainnya, yang sifatnya lebih spesifik, diketahui dari kejadian gempabumi M7,4 pada 28 September 2018, yakni:
- Gempabumi M7,4 pada 28 September 2018 tergolong gempabumi supershear (Bao dkk., 2019). Gempabumi supershear ini adalah yang kelima yang pernah terjadi sepanjang sejarah gempabumi.
- Panjang retakan permukaan bumi (surface rupture) ± 156 km, melewati wilayah Kabupaten Donggala, Kota Palu dan Kabupaten Sigi, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3.
- Ddurasi gempa M7,4 sekitar 2 menit (USGS dalam WIKIPEDIA).
- Beberapa jam sebelum dan sesudah gempa M7,4, suhu udara di sekitar jalur Sesar Palu-Koro meningkat signifikan.
- Di Kelurahan Donggala Kodi Kecamatan Ulujadi Kota Palu, terjadi pergeseran “ekstrim” horizontal ± 5,4 m, seperti yang ditunjukkan Gambar 4, lokasinya ditunjukkan pada Gambar 3.
- Di Desa Rogo Kecamatan Dolo Selatan Kabupaten Sigi, terjadi pergeseran “ekstrim” vertikal ± 5 m, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 5, lokasinya ditunjukkan pada Gambar 3.

Gambar 3 Surface rupture Sesar Palu-Koro ±156 km, sebagai sumber utama getaran gempabumi M7,4 pada 28 September 2018 (Abdullah dkk., 2019, ditambahkan)

Gambar 4 Pergeseran horizontal Sesar Palu-Koro (SPK) ± 5,4 m, memotong Jl. Cemara di Kel. Donggala Kodi Kec. Ulujadi Kota Palu (Abdullah, 2025)
Tampak dalam Gambar 4, Sesar Palu-Koro memotong Jl. Cemara. Di lokasi ini, pergeseran horizontal Sesar Palu-Koro (SPK) sebesar 5,4 m dan menyebabkan kelurusan badan jalan sangat berbeda antara sebelum dan sesudah gempabumi M7,4.
Gambar 5 menunjukkan pergeseran vertikal Sesar Palu-Koro ± 5 m. Sebelum gempabumi M7,4, jalan poros Palu – Bangga di lokasi tersebut rata. Setelah gempabumi, jalan tersebut tidak lagi rata. Tampak jalan sebelah timurlaut rata dengan halaman rumah dan jalan sebelah baratdaya rata dengan atap rumah.

Gambar 5 Pergeseran vertikal Sesar Palu-Koro ± 5 m, memotong jalan poros Palu – Bangga di Desa Rogo Kec. Dolo Selatan Kab. Sigi (Abdullah, 2025)
Masih terkait dengan gempa M7,4 pada 28 September 2018, menurut Lijia He dkk.: Pada segmen-segmen di darat, pergeseran maksimum ± 8,4 m dengan komponen geser mengiri ± 6,8 m pada kedalaman 4 km di segmen tengah dekat Kota Palu, komponen sesar turun ± 4,3 m di area pelepasan tegangan sebelah kiri (left releasing step-over), dan komponen sesar naik ± 3,2 m di area lepas pantai dekat Teluk Palu. Pada segmen lepas pantai, pergeseran maksimum ± 4,2 m dengan komponen sesar turun ± 1,8 m.
Sementara itu, informasi dari Adi Permana: “Pergeseran Sesar Palu-Koro di permukaan sekitar 4 – 6 m. Perbedaannya mencapai 2 – 3 m dari satu tempat dengan tempat yang lain.”
Penutup
Gempabumi supershear merupakan salah satu fenomena langka dalam sejarah gempabumi. Dalam hal ini, kecepatan retakan kerak bumi melebihi kecepatan gelombang geser (shear wave) atau gelombang S lokal. Hal ini menimbulkan bom seismik (seismic bomb) yang memicu getaran ekstrem di sekitar surface rupture yang menambah daya rusak gempabumi M7,4 pada 28 September 2018 di PADAGIMO Sulteng. Akibatnya, gempabumi M7,4 tersebut, selain memicu bencana gempabumi, juga memicu 4 bencana geologi lainnya (tsunami, likuefaksi, longsor di darat dan di dasar laut, dan downlift (penurunan permukaan tanah) pada saat yang bersamaan.
Daftar Pustaka
- Abdullah, 1998, Penerapan Metode Gradien Gaya Berat dan Analisis Model 2-D StrukturnSesar PaluKoro dan Sesar Janedo Kabupaten Donggala – Sulawesi Tengah, Tesis S2 ITB, Bandung.
- Abdullah, Muh. Dahlan Th. Musa, Muh. Rusli, Abd. Rahman, Ketut Sulendra dan Ahmad Imam Abdullah, 2019, Kajian dan Penelitian Wilayah Pesisir Pasca Gempabumi dan Tsunami di Kabupaten Donggala Tahun 2019, Kerjasama BALITBANGDA Kab. Donggala – FMIPA UNTAD, Donggala.
- Abdullah, 2025, Geologi Bencana (Bahan Ajar), Prodi Teknik Geofisika FMIPA UNTAD, Palu.
- Abdullah, 2026, Sesar Sarasina Menjadi Sesar Palu-Koro, WEB.ID: 30 Agustus 2026, https://mercusuar.web.id/opini/sesar-sarasina-menjadi-sesar-palu-koro/ (Diakses 03 September 2026).
- Adi Permana, 16 Oktober 2018, Peneliti Kegempaan ITB Lakukan Pemetaan Surface Rupture Sesar Palu-Koro, Institut Teknologi Bandung, Bandung. https://itb.ac.id/berita/peneliti-kegempaan-itb-lakukan-pemetaan-surface-rupture-sesar-palu-koro/56848 (Diakses 25 Agustus 2019).
- Adjat Sudradjat, 1981, Penyelidikan Geologi Lembah Palu, Sulawesi Tengah dengan Teknik Penginderaan Jauh, Disertasi Doktor, ITB Bandung.
- Bao, H., Ampuero, J.P., Meng, L., Fielding, E. J., Liang, C., Milliner, C. W., Feng, T., Huang H., 2019, Early and Persistent Supershear Rupture of the 2018 Magnitude 7.5 Palu Earthquake. Nat. Geosci, 12, 200–205.
- Kaharuddin M. S., 2006, Perkembangan Tektonik dan Gempa Bumi Kawasan Sulawesi, Sosialisasi dan Mitigasi Bencana Alam, Distamben Sulteng, 2006, Palu.
- Lijia He, Guangcai Feng, Zhiwei Li, Zhixiong Feng, Hua Gao and Xiongxiao Wu, 2019, Source Parameters and Slip Distribution of the 2018 Mw 7.5 Palu, Indonesia Earthquake Estimated From Space-Based Geodesy, ScienceDirect (Tectonophysics Vol. 772), 05 Desember 2019, https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0040195119303312 (Diakses 25 Agustus 2019).
- Mudrik Rahmawan Daryono, 2016, Paleoseismologi Tropis Indonesia (Dengan Studi Kasus di Sesar Sumatra, Sesar Palukoro-Matano, dan Sesar Lembang), Disertasi Doktor, ITB Bandung.
- WIKIPEDIA, Gempabumi dan Tsunami Sulawesi 2018, https://id.wikipedia.org/wiki/Gempa_bumi_dan_tsunami_Sulawesi_2018 (Diakses 27 Agustus 2026).
Penulis adalah Dosen Prodi Teknik Geofisika dan Kepala Laboratorium Palu-Koro, Jurusan Fisika dan Matematika Fakultas MIPA Universitas Tadulako, Palu






