Sesar Sarasina Menjadi Sesar Palu-Koro

Oleh: Ir. Drs. Abdullah, MT.

Sarasin Bersaudara

Pada zaman kolonial ada beberapa peneliti asal Eropa yang melakukan ekspedisi atau perjalanan ilmiah di Indonesia. Dua di antaranya adalah Sarasin Bersaudara, yakni Paul Benedict Sarasin (Paul Sarasin) seorang naturalis dan sepupunya yang bernama Karl Friedrich Sarasin (Fritz Sarasin) seorang etnolog. Keduanya dikenal melalui karya ilmiah terkait dengan ekspedisi atau perjalanan ilmiah yang mereka lakukan di Pulau Sulawesi (Celebes).

Sarasin Bersaudara melakukan 2 kali perjalanan ilmiah di Pulau Sulawesi, yakni pada 1893–1896 dan 1902–1903. Awal perjalanannya dimulai dari Makassar (Sulawesi Selatan) pada 1893. Dari Makassar, keduanya bergerak menjelajahi wilayah pedalaman, serta ke Teluk Palu (Sulawesi Tengah) dan Mekongga (Sulawesi Tenggara) hingga 1903.

Masih dalam perjalanan yang pertama, dari Teluk Palu, Sarasin Bersaudara melintasi lembah dan pegunungan, mulai dari Palu di utara hingga menembus Palopo di selatan. Dari perjalanan ini, mereka bisa memperbaiki peta rangkaian pegunungan yang dipetakan secara keliru oleh kartografer Eropa sebelumnya. Sarasin Bersaudara juga mengidentifikasi bentuk geografis-geologis yang unik berupa fossa (lembah linier) di wilayah Lembah Palu sampai wilayah Kulawi – Pipikoro (Sulawesi Tengah) dan menerus ke arah wilayah Palopo (Sulawesi Selatan).

Adapun wilayah Sulawesi Tengah yang mereka kunjungi dan jelajahi adalah:

  • Teluk Palu serta Lembah Palu yang meliputi Kerajaan Palu dan Kerajaan Sigi.
  • Wilayah Danau Lindu, Kulawi dan Pipikoro.
  • Wilayah Danau Poso (Danau Tentena) dan sekitarnya.
  • Wilayah Lore (Lembah Napu, Lembah Behoa dan Lembah Bada).

Hasil perjalanan ilmiahnya dipublikasi melalui buku berbahasa Jerman yang berjudul Reisen in Celebes: ausgeführt in den Jahren 1893–1896 und 1902–1903 (Perjalanan di Sulawesi: dilaksanakan pada tahun 1893–1896 dan 1902–1903). Buku ini terdiri atas 2 volume dan diterbitkan pada 1905. Buku tersebut mendokumentasikan hasil penelitian geografi, geologi, flora, fauna, serta kehidupan sosial budaya suku-suku asli di Sulawesi pada masa kolonial.

Dari keseluruhan informasi hasil perjalanan ilmiah Sarasin Bersaudara, 3 di antaranya adalah:

  • To Ala: Sarasin Bersaudara melakukan penelitian di gua-gua karst di Sulawesi Selatan dan menemukan jejak kehidupan manusia purba penghuni gua karst tersebut dan mereka namakan To Ala.
  • Ikan Gobi Sarasin: Sarasin Bersaudara melakukan penelitian di Danau Poso Sulawesi Tengah. Mereka menemukan beberapa spesies biota akuatik endemik, salah satunya adalah ikan endemik yang kemudian diberi namai berdasarkan nama mereka, seperti ikan Gobi Sarasin.
  • Fossa: Sarasin Bersaudara melakukan identifikasi geografis dan geologis di Sulawesi Tengah dan mendeskripsikan fossa yang memanjang dengan arah utara – selatan.

Kemungkinan informasi yang terkait dengan geografi dan geologi, yang di dalamnya termuat fossa, mempunyai daya tarik dan kepentingan tersendiri, sehingga dipublikasi secara tersendiri dan mendahului publikasi informasi-informasi lainnya. Informasi tentang geografi dan geologi dipublikasi melalui buku, juga berbahasa Jerman, berjudul Entwurf einer geographisch-geologischen Beschreibung der Insel Celebes (Draft Deskripsi Geografis-Geologis Pulau Sulawesi), diterbitkan pada 1901.

Sama dengan buku terbitan 1905, penulis juga belum pernah melihat buku terbitan 1901 tersebut, termasuk terjemahannya. Penulis hanya berpikir, dalam buku tersebut Sarasin Bersaudara berusaha mendeskripsikan selengkap mungkin tentang fossa tersebut, yang memanjang dengan arah utara – selatan. Adapun deskripsi yang terpenting adalah “Ke arah utara atau di bagian utara, yakni Lembah Palu, fossa melebar. Ke arah selatan atau di bagian selatan, yakni Kulawi – Pipikoro menerus ke arah Palopo, fossa menyempit.”

Sesar Sarasina

Pada 1909 – 1910, ahli geologi asal Belanda Eropa, Eduard Cornelis Abendanon, melakukan ekspedisi lanjutan di Sulawesi Tengah. Tujuan utamanya adalah meneliti lebih rinci mengenai fossa yang disebut oleh Sarasin Bersaudara dalam bukunya yang terbit pada 1901.

Sebagai ahli geologi, E. C. Abendanon memperjelas bahwa bentuk geografis fossa atau lembah linier yang dideskripsikan oleh Sarasin Bersaudara dalam bukunya, adalah salah satu bentuk struktur geologi. Dalam hal ini, fossa yang lebar adalah terban (graben) dan fossa yang sempit adalah patahan (fault) atau sesar.

Sesar adalah bidang retakan atau rekahan pada kerak bumi yang disertai pergeseran relatif antara blok batuan dengan blok batuan lainnya yang sebelumnya bersambungan. Terban adalah zona depresi yang diapit oleh 2 sesar turun (normal fault) yang saling saling berhadapan dengan arah memanjang yang sejajar, seperti yang ditunjukkan dalam gambar berikut. 

Sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi Sarasin Bersaudara, selaku pionir penjelajah dan peneliti di wilayah Sulawesi, khususnya sebagai orang pertama yang mengidentifikasi fossa di Lembah Palu sampai Kulawi Pipikoro menerus ke arah Palopo, E. C. Abendanon menamakan terban tersebut sebagai Terban Sarasina (the Graben of the Sarasin’s) dan sesar tersebut sebagai Sesar Sarasina. Secara keseluruhannya disebut Sesar Sarasina, karena di terban pasti ada sesar, seperti yang ditunjukkan dalam gambar tersebut. Gambar ini sekaligus menunjukkan bentuk dasar Lembah Palu.

Selain itu, melihat keberadaannya di Sulawesi Tengah, pada 1909 – 1910, bisa dipastikan bahwa E. C. Abendanon cukup mudah mendapatkan data dan informasi tentang gempa Kulawi yang terjadi pada 30 Juli 1907. Adapun gempa Kulawi 18 Maret 1909, mungkin saja E. C. Abendanon merasakannya secara langsung, paling tidak merasakan gempa susulannya yang terjadi sampai Juli 1909. Kedua gempa tersebut menimbulkan dampak bencana yang besar di wilayah Kulawi dan sekitarnya.

Hasil penelitian E. C. Abendanon dalam ekspedisinya, dipublikasi melalui buku/jurnal berjudul Midden Celebes Expeditie (1909 – 1910) Vol. 1 dan 2 pada 1915 serta Vol. 3 dan 4 pada 1917. Semua dampak dari kedua gempa Kulawi tersebut, juga dicatat secara rinci oleh E. C. Abendanon dalam buku/jurnalnya tersebut. 

Menjadi Sesar Palu-Koro

Jika disebut Sesar Wellington, pikiran orang pasti menuju ke Wellington di Selandia Baru. Jika disebut Sesar Sumatera, pikiran orang akan menuju ke Pulau Sumatera. Jika disebut Sesar Sarasina, pikiran orang bisa menjelajah ke Eropa atau ke benua lainnya, atau negara lain, atau pulau lain di Indonesia, padahal sesar tersebut berada di Indonesia, di Pulau Sulawesi.

Kemungkinan besar, atas pikiran orang yang bisa menjelajah tersebut, nama Sesar Sarasina diganti menjadi Sesar Palu-Koro. Penggantian nama tersebut terjadi pada 1970-an dan dipopulerkan oleh Bapak Geolog Indonesia, yakni Prof. Dr. John Aryo Katili, asal Gorontalo. Penamaan Sesar Palu-Koro didasarkan pada pertimbangan geografis dan kewilayahan yang sudah dikenal luas, agar lokasi jalur Sesar Palu-Koro bisa langsung diketahui begitu namanya disebut.

Pemilihan nama Sesar Palu-Koro sangat tepat karena jalur sesar tersebut melewati Teluk Palu, Kota Palu di Lembah Palu dan lembah kecil antara Kulawi Selatan dan Pipikoro. Sebut saja lembah kecil tersebut sebagai Lembah Koro, yang di dasarnya mengalir Sungai Koro. Dengan demikian, begitu Sesar Palu-Koro disebut, orang bisa langsung mengetahui dimana jalur sesar tersebut berada.

Sesar Sarasina menjadi Sesar Palu-Koro tidak berarti Terban Sarasina menjadi Terban Palu-Koro, tetapi cukup Terban Palu saja. Karena, terban tersebut hanya mencakup Lembah Palu, sementara Sungai Koro di Lembah Koro jauh ke arah selatan. Dan, ketika Terban Palu atau Graben Palu disebut, orang bisa langsung mengetahui bahwa terban atau graben tersebut berada di Lembah Palu.

Teluk Palu atau Teluk Donggala sudah sejak lama dikenal sebagai salah satu tujuan ataupun tempat persinggahan pelayaran. Di Lembah Palu pernah berdiri Kerajaan Palu dan Kerajaan Sigi. Kota Palu merupakan pewaris utama Kerajaan Palu. Selanjutnya, Kota Palu dalam posisinya sebagai ibukota provinsi, semakin hari akan semakin dikenal secara lebih luas. 

Ke arah hulu, di Desa Maholo, nama lain Sungai Koro adalah Salo Rampo, bagian hulu Salo Rampo adalah sungai jernih yang mengalir di Desa Sedoa, dan yang paling hulu adalah Rano Raba (danau rawa kecil). Salo Rampo, sungai jernih dan Rano Raba, ketiganya terletak di Lembah Napu bagian utara, Kabupaten Poso Sulawesi Tengah. Sungai Koro bermuara di Selat Makassar, tepatnya di Desa Lariang Kabupaten Pasangkayu Sulawesi Barat. Di daerah ini, Sungai Koro dikenal sebagai Sungai Lariang.

Penutup

  • Di kalalangan antropolog (dulu disebut etnolog) dan pemerhati bencana geologi, khususnya di Sulawesi Tengah, nama Paul Sarasin dan Fritz Sarasin serta E. C. Abendanon, bukanlah nama yang asing.
  • Dalam perkembangannya, penyebutan Graben Palu leibh populer dibanding Terban Palu.
  • Sungai Koro atau Sungai Lariang, dengan panjang 245 km, adalah sungai terpanjang di Pulau Sulawesi.

Bahan Tulisan

Penulis adalah Dosen Prodi Teknik Geofisika dan Kepala Laboratorium Palu-Koro, Jurusan Fisika dan Matematika Fakultas MIPA Universitas Tadulako, Palu

Pos terkait