Keluarga Menunggu Kepulangannya: Penantian Kepulangan Wiji Thukul di Akhir Hayat

Oleh: Angga Riyon Nugroho S.Pd (Guru SMP Budya Wacana Yogyakarta)

Wajah sayu itu di depan mesin jahitnya tetap berjuang demi menghidupi kedua anak-anaknya. Sebut saja namanya Sipon (Siti Dyah Sujirah) istri dari Wiji Thukul yang tetap terus berjuang menjadi kepala keluarga setelah menghilangnya Wiji pasca runtuhnya kekuasaan Orde Baru. Untuk menyambung hidup Sipon membuka jasa menjahit, sedangkan Fitri Nganti Wani dan Fajar Merah membantu ibunya dengan bekerja sebagai seniman (musik dan penyair). Darah seni yang ada pada Wiji ternyata menurun kepada kedua anaknya, Fajar menyukai musik dan banyak menggubah syair puisi ayahnya kedalam lagu sedangkan Fitri melanjutkan pendidikannya ke jurusan Sastra serta aktif di berbagai kegiatan membaca puisi.

Ketika Amnesty Internasional mendirikan sekertariat nasional di Jakarta, Sipon sempat singgah. Suatu hari Sipon bertanya, apa Amnesty punya seragam? Sipon menceritakan soal usaha jahit pakaian. Labelnya “Penjahit Nganti Merah”, Amnesty Internasional kemudian memesan puluhan batik jahitan kepada mbak Pon, demikian biasa Sipon dipanggil. Batik karya mbak Pon ini dipakai oleh Tim Amnesty Internasional generasi pertama, “kerjanya cepat, tepat waktu dan itu bukan untuk sebuah kemewahan, tetapi untuk membayar hutang bulanan” demikian ujar Papang dan Puri dari Amnesty Internasional.  Memang semenjak Wiji hilang, Sipon harus berjuang sendiri membesarkan kedua anak mereka. Dalam Seri Buku Saku Tempo: “Wiji Thukul Teka-Teki Orang Hilang” dikatakan bahwa pada suatu siang Agustus 1996, Wiji pamit kepada istrinya untuk pergi bersembunyi. Sejak itu, penyair pelo ini mengembara dari satu kota ke kota lain. Tapi, bahkan setelah rezim Soeharto tumbang Wiji tak juga pulang. Banyak yang menduga ia menjadi korban penculikan dan pembunuan di sekitar prahara Mei 1998. Istri dan beberapa kerabat dekatnya pecaya dia masih hidup dan suatu ketika akan kembali.

Menanti Kepulangan Keluarga Tercinta

Menceritakan Wiji Thukul tidak terlepas dengan penantian istrinya, Sipon untuk menanti kepulangan orang tercinta kepada keluarganya. Di sekitar prahara Orde Baru kisah hilang atau terbunuhnya anggota keluarga karena tindak kekerasan menjadi pembelajaran bagi kita bersama. Terbunuhnya wartawan Udin, Wawan, Marsinah dan hilangnya Wiji Thukul menjadi catatan kelam keotoriteran negara terhadap warganya di masa tersebut. Eskalasi politik Indonesia sempat memanas, tepatnya di pertengahan tahun 1996 pasca peristiwa 27 Juli 1996. Penyerbuan kantor PDI di Jakarta berbuntut pada penangkapan beberapa aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD). Dalam Aldera “Potret Gerakan Politik Kaum Muda 1993-1999 dijelaskan bagaimana pencarian seluruh anggota PRD secara massif dilakukan oleh aparat dan militer, menyusuri rumah kontrakan hingga tempat persembunyian mahasiswa di beberapa kota yang ada di Indonesia. Wiji Thukul menjadi salah satu target pencarian aparat tersebut karena keterlibatannya di Jaker (Jaringan Kerja) Partai Rakyat Demokratik.

Dalam Seri Buku Saku Tempo: “Wiji Thukul Teka-Teki Orang Hilang” sejak peristiwa Kudatuli 1996, Wiji mulai bergegas: dari Solo ke Salatiga, Yogyakarta, Magelang, Jakarta dan Kalimantan. Sambil bersembunyi, dia terus terlibat aksi menantang Orde Baru, mengkordinasi buruh hingga membuat plakat dan selebaran. Bahkan sebelum Wiji pergi sempat menitipkan pesan kepada anaknya, Fitri: ‘kalau teman-temanmu tanya kenapa bapakmu dicari-cari polisi  jawab saja karena bapakku orang berani’.

Pelarian Wiji Thukul dibantu oleh beberapa aktivis Pro-demokrasi, dibantu oleh Arief Budiman (kakak Soe Hok Gie), Wiji belajar ilmu menyamar agar tidak diketahui identitasnya oleh aparat militer. Kepada Tempo, Sipon mengaku terakhir bertemu dengan Wiji menjelang Natal tahun 1997. Dia mengatakan mendapat pesan dari anak Partai Rakyat Demokratik (PRD)-tapi dia tidak ingat siapa namanya-bahwa Wiji ingin bertemu. “Saya mesti membawa anak-anak”, katanya. Kami bertemu di stasiun Tugu (Yogyakarta). Waktu itu tepat ulang tahun Fajar yang ketiga, 23 Desember 1997, Sipon menambahkan. Setelah itu, mereka pergi ke Parangtritis selama sepekan. “Kami menyewa penginapan. Setiap hari Wiji bermain dengan anak-anaknya. Tampak sekali kalau ia kangen”. Ujar Sipon. Kepulangan Wiji di akhir tahun 1997 merupakan kepulangan terakhir sebelum hilang sampai saat ini. “Tidak ada lagi perjumpaan kedua di Parangtritis dengan Wiji menjelang atau setelah lebaran tahun 1998”.  Hal serupa ternyata juga diungkapkan oleh Wahyu Susilo, adik Wiji. Menurut Wahyu, pertemuan fisik terakhir dirinya dengan Wiji adalah pada November 1997 dirumah kos Wahyu di Pengumben, Jakarta Barat. Setelah itu, kata Wahyu, ia ditelepon sang kakak menjelang Lebaran 1998.

Pertemuan secara sembunyi-sembunyi dengan keluarga tercinta selama proses persembunyian dan pelarian bukan tanpa resiko, namun karena kecintaan Wiji kepada keluarga dirinya terus memastikan bahwa keluarganya tetap aman walau Wiji harus mengorbankan dirinya tak kembali hingga sampai saat ini. Curhatan Wiji kalau merasa rindu dengan istri beserta anak-anaknya diceritakan kepada Margiyono, salah satu rekan aktivisnya di PRD saat bertemu di rusun (Rumah Susun) Kemayoran, Jakarta Pusat. Saat itu Margiyono satu rusun dengan Andi Arief (kemudian di culik) dan Petrus Bima Anugerah (diculik dan hilang sampai saat ini). Kepada Margiyono Wiji bercerita romantis tentang istrinya, Sipon. “Selama aku kawin dengan Sipon, aku benar-benar merasa mencintai dia ya saat ini. Aku benar-benar ingin bertemu dengan dia”. Demikian Margiyono menuturkan. Penantian Sipon dalam menunggu kepulangan Wiji pada akhirnya berada pada titik nadir, rasa lelah menggantikan posisi Wiji sebagai kepala keluarga kini berlahan sirna dengan rasa cinta kepada suaminya tersebut yang tanpa batas. Wiji tak kembali sampai rezim berganti, namun penantiannya tak pernah mati kepada sosok yang dicintainya tersebut.

Mengenang Wiji Thukul: Indonesia Belum Merdeka  

Hari ini Rabu, (26/8/2026) merupakan hari dimana mengenang kelahiran Wiji Thukul (26/08/1963). Untuk memperingati hari ulang tahun Wiji, IKOHI (Ikatan Kemanusiaan Untuk Orang Hilang) yang diperuntukan bagi para korban Prahara 1998 bekerjasama dengan Rekam DOC, mengadakan kegiatan diskusi, lauching buku “Indonesia Belum Merdeka” dan nonton bareng film dokumenter “Nyanyian Akar Rumput”. Publik mungkin mengenal Wiji melalui puisi-puisinya seperti “Peringatan” dan “Bunga dan Tembok”, namun tak banyak yang tahu jika Wiji juga merupakan seorang penulis esai. Wahyu Susilo sendiri mengungkapkan fakta yang jarang diketahui publik jika Wiji pernah bekerja sebagai koresponden di beberapa media cetak di kota Solo selama enam bulan di tahun 1988. “Kemampuan merangkai kata dalam menulis puisi Wiji asah saat bekerja sebagai koresponden”, ujar Wahyu.

Setahun yang lalu sebenarnya buku kumpulan esai Wiji Thukul sudah mulai di launching sebelum memperingati hari pahlawan tahun 2025. Dibantu oleh Social Movement Institute, Indonesia Belum Merdeka di launching di Omah Jayeng, Yogyakarta. Dengan menanggapi isu pengangkatan Soeharto sebagai pahlawan, kesempatan untuk membagikan buku secara cuma-cuma kepada peserta yang hadir adalah wujud memperkenalkan karya-karya Wiji kepada publik. Pada tahun ini IKOHI mengadakan acara yang sama dengan mencetak kembali buku Indonesia Belum Merdeka untuk merayakan hari ulang tahun Wiji Thukul.        

Wilson Obrigados (sahabat Wiji, Aktivis PRD) dan Wahyu Susilo sebagai inisiator dari kegiatan ini berharap bahwa karya-karya Wiji dapat dikenal oleh masyarakat luas. Semangat rela berkorban, keberanian dan konsistensi Wiji dapat menular pada aktivis-aktivis muda masa kini. Sehingga walaupun secara fisik Wiji hilang, namun jiwanya masih tetap terjaga dan hidup bagi perjuangan-perjuangan akan ketidakadilan di masyarakat.

Romansa Itu Menunggunya Sampai Menutup Mata

Kisah cinta dan perjuangan Sipon dan Wiji Thukul menjadi inspirasi berbagai pasangan yang harus dipisahkan karena keadaan. Kesetiaan Sipon menunggu Wiji sampai akhir hayat Sipon dibuktikan dengan tetap setia mengurus kedua anaknya tanpa berpaling kepada pria lain untuk menggantikan posisi Wiji sebagai ayah dan kepala keluarga. Sipon meninggal pada Kamis, (5/1/2023) karena serangan Jantung. Berita berkaitan meninggalnya Sipon diunggah dalam media sosial Kontras (Komisi Nasional Untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan). Dalam postingannya Kontras menyatakan bahwa “Mbak Sipon adalah orang yang tangguh”. Kontras sendiri adalah komisi yang selalu mendampingi mencari keadilan atas hilangnya Wiji Thukul oleh negara, hingga di detik terakhir nafasnya Mbak Pon masih menunggu kedatangan Wiji untuk pulang kembali kepangkuannya.

Semangat Sipon untuk menanti sang suami pulang juga dialami oleh Tuti Koto, ibu Yani Afri yang juga hilang pasca Prahara 1998. Sama seperti Sipon, bu Tuti juga sudah meninggal dan hingga kini anaknya belum ditemukan. Mungkin kedua wanita ini menjadi gambaran betapa beratnya kehidupan tanpa orang tercinta disisi mereka, terkadang mungkin mereka menangis, berteriak, berdiam diri, terjatuh sakit, mati rasa, marah dan menyalahkan diri sendiri. Itu semua karena trauma kehilangan. Namun perjalanan kehidupan tetap harus berjalan. Kisah keberanian kehidupan dua wanita hebat ini menjadi inspirasi dari Usman and The Blackstones untuk membuat lagu “Kemanakah” sebagai wujud penghormatan kepada Sipon dan Tuti Koto saat menunggu orang tercintanya pulang kembali kerumah.

Dalam salah satu liriknya “Keserakahan Hilangkan Paksamu”, “Kemanakah Aku Harus Mencari dan Dimana”. Kutipan lirik lagu ini mengambarkan tentang dihilangkan paksa keberadaan Wiji karena keserakahan penguasa, dan kini Sipon tak tahu harus mencarinya kemana.  Dari hal ini memberikan pelajaran bagi kita masyarakat Indonesia, bahwa terpisah dari orang dicintai menjadi sesuatu hal berat. Peristiwa ini jangan terjadi lagi kepada siapapun dan menjadi langkah bagi negara untuk berbenah. Karena ada seribu Wiji menengadah, melawan keserakahan, rasa cintanya kepada keluarga tetap meleburkan segalanya. Ditunggunya romansa itu tenggelam sampai di akhir hayat. “Rasa Cinta Meluruhkan Ketakutan, Membentuk Keberanian Untuk Melawan”. (A.R.)

Pos terkait