Mengenang BR Norma Irmawan (Wawan), Korban Tragedi Semanggi I: “Untuk Wawan, Perjuanganmu Selalu Hidup dalam Ingatan”

FOTO: Sumber foto: https://magdalene.co/story/18-tahun-mencari-keadilan/

Oleh: Koleta Stefani Sarinastiti, S.Pd (Guru SD Teruna Bangsa Yogyakarta)

15 Mei 2026 seharusnya menjadi ulang tahun ke-48 Bernardinus Realino Norma Irmawan. Namun waktu seolah berhenti pada 13 November 1998, ketika peluru tajam menembus dadanya di halaman kampus Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya. Semua orang mengenalnya sebagai Wawan, seorang mahasiswa yang memilih turun ke jalan pada masa penuh gejolak demi membantu sesama.

Mahasiswa yang Memilih Tidak Diam

Wawan bukan sosok aktivis yang haus panggung atau mencari popularitas. Ia dikenal sebagai pribadi sederhana yang perlahan dikenang justru karena perjuangannya. Sebagai mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya Jakarta, ia memilih terlibat dalam aksi kemanusiaan karena tidak tahan melihat ketidakadilan yang terjadi di sekitarnya.

Ia bergabung dalam tim relawan dan turun langsung membawa kotak P3K ke tengah kepulan gas air mata dan teriakan massa demonstrasi. Tujuannya sederhana namun mulia: menjadi berkat bagi sesama dan membantu mereka yang terluka. Wawan memahami risiko yang mengancam dirinya, tetapi tetap teguh memilih membantu orang lain.

Tiga hari sebelum kematiannya, Wawan sempat mengatakan kepada ibunya, Sumarsih, bahwa namanya masuk dalam daftar incaran. Saat itu ia meminta uang untuk membeli rompi antipeluru. Namun rompi yang diinginkannya telah habis, dan ia hanya pulang membawa jaket kulit. Seperti banyak anak muda lain, ia percaya jaket tersebut cukup melindunginya dari peluru. Kenyataannya tidak demikian.

Pada 13 November 1998, saat Tragedi Semanggi I pecah, Wawan sedang berusaha menolong rekannya yang tertembak. Dalam situasi itu, peluru justru menembus tubuhnya. Hasil autopsi menyebutkan peluru mengenai jantung dan paru-paru hingga ia meninggal seketika di usia 20 tahun, tepat di tempat ia memilih berdiri demi menyelamatkan orang lain.

Merayakan Ulang Tahun dalam Diam

Hari ulang tahun Wawan kini tidak lagi dirayakan dengan pesta atau perayaan meriah. Ingatan dan tuntutan keadilan menjadi satu-satunya bentuk perayaan yang tersisa. Sejak 2007, ibunya, Sumarsih, setia berdiri setiap Kamis di depan Istana Negara dalam aksi diam mengenakan pakaian hitam dan membawa payung hitam. Hingga kini, aksi Kamisan telah berlangsung lebih dari 900 kali.

Ia hanya membawa foto Wawan sambil menuntut negara mengungkap siapa pemberi perintah, siapa penembak, dan mengapa seorang relawan kemanusiaan harus ditembak ketika sedang menolong korban. Bagi Sumarsih, yang ia perjuangkan hanyalah keadilan untuk anaknya.

Dalam setiap cerita tentang Wawan, ada satu kebiasaan yang masih dijalankan Sumarsih hingga hari ini. Meski hampir tiga dekade berlalu sejak kematian anaknya, ia tetap menyiapkan makanan di meja makan untuk Wawan setiap hari. Ia percaya, meskipun jasad Wawan telah terkubur, jiwanya tetap hidup di sekitar keluarga.

Pada hari ketika Wawan tidak pulang, Sumarsih memasak makanan kesukaan anaknya, sayur asem dan empal, sambil berharap Wawan segera kembali ke rumah. Namun yang pulang hanyalah kabar kematian dan tubuh yang telah terbujur diam. Dalam kesempatan yang sama, Sumarsih juga memperlihatkan baju putih terakhir yang dikenakan Wawan dengan lubang bekas peluru yang menembus dadanya.

Perjuangan yang Tidak Pernah Padam

Jika hari ini Wawan masih hidup, mungkin ia akan bosan mendengar kata “reformasi” yang terus diulang namun kerap terasa berhenti sebagai slogan. Namun pilihan hidupnya menunjukkan jalan berbeda: membantu orang lain bahkan ketika keselamatannya sendiri menjadi taruhan.

Karena itu, perjuangan Wawan dianggap tidak pernah mati. Sosoknya layak dikenang sebagai pahlawan kemanusiaan karena keberaniannya hadir bukan dalam pidato lantang, melainkan dalam tindakan nyata menolong korban di tengah tembakan. Ia menunjukkan bahwa keberanian bisa hadir dalam bentuk pelayanan kepada sesama.

Perjuangan Wawan juga menjadi pengingat bahwa pencarian kebenaran tidak memiliki batas waktu. Setelah 28 tahun berlalu, keluarga korban masih menunggu jawaban dan keadilan yang belum juga datang. Dari perjuangan itu, setidaknya ada tiga pelajaran penting yang terus hidup: keberanian tidak memerlukan jabatan, relawan kemanusiaan harus dilindungi, dan keadilan tidak mengenal kedaluwarsa.

Keberanian tidak selalu membutuhkan kekuasaan atau pengakuan. Cukup menjadi manusia yang berguna bagi orang lain dengan ketulusan. Melindungi relawan kemanusiaan berarti memahami bahwa menolong korban bukanlah sebuah kejahatan. Dan keadilan tidak mengenal batas waktu karena selama kebenaran belum diungkap, luka itu akan terus hidup.

Selamat ulang tahun, Wawan. Namamu tetap hidup dalam ingatan banyak orang. Mengenangmu bukan sekadar seremoni, melainkan cara untuk menolak diam ketika ketidakadilan kembali terjadi. Mengenang Wawan berarti menjaga solidaritas, kemanusiaan, dan keberanian untuk terus memperjuangkan kebenaran.

Pos terkait