Mengenang Peristiwa Trisakti : “Pertumpahan Darah Pemicu Gerakan Reformasi”

FOTO: KONTRAS

Oleh: Koleta Stefani Sarinastiti, S.Pd. (Guru SD Teruna Bangsa Yogyakarta)

Dua puluh delapan tahun berlalu, hari ini tepat menjadi peristiwa bersejarah lahirnya gerakan reformasi. Halaman kampus Univesitas Trisakti menjadi saksi bisu pertumpahan darah. 12 Mei bukanlah sekedar tanggal tapi bagi kita yang menolak lupa hari ini menjadi pengingat bahwa reformasi yang kita alami hingga hari ini, terlahir dari perjuangan yang ditebus dengan pengorbanan yang mahal.

Pada akhir tahun 1990, Indonesia dilanda krisis ekonomi yang dipicu krisis finansial Asia 1997. Kala itu nilai rupiah anjlok, inflasi tinggi, harga bahan pangan terus melambung tinggi, ribuan perusahaan bangkrut, dan pengangguran kian meningkat. Di tengah kondisi ini, praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme pada pemerintahan Orde Baru seolah menjadi hal yang lumrah untuk dilakukan. Keadaan inilah semakin memicu amarah publik.

Ketidakpuasan inilah yang akhirnya memuncak pada 12 Mei 1998, ketika ribuan mahasiswa Universitas Trisakti menggelar aksi damai yang dimulai dari kampus Universitas Trisakti, Grogol, Jakarta Barat menuju Gedung DPR/MPR. Aksi damai dimulai pada pukul 10.30 WIB di parkiran Gedung Syarif Thayeb. Pada pukul 10.30 – 11.00 bendera diturunkan setengah tiang, mahasiswa menyanyikan lagu Indonesia Raya sebagai bentuk duka dan keprihatinan akan kondisi Indonesia.

Saat siang hari, situasi mulai memanas karena aparat mulai berdatangan, Polri dan militer memblokade mahasiswa yang bergerak menuju Gedung Nusantara DPR/MPR. Saat itu terjadi diskusi antara mahasiswa dan aparat dan kedua belah pihak sepakat mundur. Namun menjelang sore hari, situasi kian memanas saat aparat di barisan melontarkan kata-kata kasar dan provokasi serta berujung pada penembakan yang terjadi di dalam maupun di luar kampus secara membabi buta oleh aparat, pelemparan gas air mata, dan pemukulan mahasiswa dengan pentungan.

Pada peristiwa ini, empat mahasiswa tewas tertembak di dalam kampus karena peluru tajam yang mengenai kepala, tenggorokan, dan dada. Mereka adalah Elang Mulia Lesmana, Heri Hartanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie. Puluhan mahasiswa lainnya juga mengalami luka tembak yang parah. Dua hari setelah tragedi itu terjadi, Jakarta mengalami kerusuhan besar. Dua minggu kemudian, tekanan publik dan mahasiswa memaksa presiden Soeharto mundur setelah 32 tahun berkuasa.

Ingatan tentang Tragedi Trisakti di masa kini seolah mulai pudar karena keadaan hari ini dimana masih ada anak muda yang mungkin tidak mengenal Elang, Heri, Hafidin dan Hendriawan karena kurangnya niat literasi bagi para anak muda masa kini. Mereka cenderung memiliki sikap apatis dan cenderung acuh pada keadaan. Apatisme menjadikan mereka hanya menjadi tukang kritik di media sosial tetapi malas dengan aksi nyata. Ketika ada kegiatan diskusi mereka memilih diam dan bertahan pada zona nyaman ketika melihat ketidakadilan.

Tragedi Trisakti menjadi titik balik yang mengubah arah Indonesia dari rezim otoriter menuju era demokrasi. Peristiwa ini menjadi sejarah pertumpahan darah yang memicu reformasi dan mengajarkan kepada kita bahwa sebesar apapun kekuasaan tidak akan bertahan jika kehilangan kepercayaan dari rakyatnya dan perubahan besar dapat lahir dari keberanian aksi kecil di halaman kampus.

Mengingat Tragedi Trisakti bukan untuk memelihara dendam di masa lalu, bukan pula untuk mencari siapa yang salah, tetapi untuk menjaga ingatan bahwa reformasi yang kita nikmati hari ini adalah buah dari perjuangan yang berat.

Kini, tugas kita di masa kini memastikan bahwa reformasi tidak hanya menjadi sebuah slogan. Namun lebih dari itu semestinya reformasi terus menjadi  perjuangan yang terus kita kobarkan. Reformasi akan tetap hidup jika kita sampai hari ini jika kita dapat menjaga dan mengisinya dengan tindakan nyata, terus memiliki sikap kritis, tetap peduli, dan berani mengingatkan kepada yang salah.

Pos terkait