PARIGI MOUTONG, MERCUSUAR – Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong (Pemkab Parmout) mempercepat upaya pemulihan pascabencana gempa bumi dan banjir, yang melanda sejumlah wilayah baru-baru ini.
Bupati Parmout, H. Erwin Burase mengatakan fokus utama penanganan diarahkan pada pemulihan infrastruktur, pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, serta penyelamatan sektor pertanian yang terdampak cukup luas.
“Berdasarkan data BPBD Parmout, sebanyak 12 desa terdampak banjir. Dari jumlah tersebut, dua desa sempat melakukan evakuasi warga ke lokasi yang lebih aman. Namun, seluruh warga yang mengungsi kini telah kembali ke rumah masing-masing,” ujar Erwin saat meninjau lokasi pertanian sawah yang terdampak banjir di Desa Dolago Padang Kecamatan Parigi Selatan, Senin (22/6/2026).
Ia menegaskan, hal paling penting yang perlu dimaksimalkan adalah pelayanan kesehatan untuk mengantisipasi munculnya penyakit pascabencana, terutama banjir. Termasuk, memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi, seperti penyediaan sandang, pangan dan air bersih bagi masyarakat di sejumlah wilayah terdampak.
“Untuk sandang pangan itu sudah mulai disalurkan oleh Dinas Ketahanan Pangan. Kami juga telah berkoordinasi dengan Palang Merah Indonesia (PMI) untuk menyiapkan tangki dan penampungan air bersih guna memenuhi kebutuhan warga,” ungkap Erwin.
Di Desa Lobu Mandiri Kecamatan Parigi Barat, terdapat dua unit jembatan yang mengalami kerusakan. Erwin menginstruksikan instansi terkait untuk secepatnya melakukan perbaikan darurat, sehingga akses masyarakat tetap dapat dilalui sambil menunggu penanganan permanen.
Sementara di Desa Dolago Padang Kecamatan Parigi Selatan, Pemkab Parmout menemukan kondisi yang cukup mengkhawatirkan akibat luapan air pada pertemuan dua aliran sungai. Saat ini, satu unit alat berat telah bekerja di lokasi, sementara Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi III Palu berencana menambah dua unit alat berat untuk mempercepat penanganan.
“Kami terus berupaya untuk terus melakukan penanganan di lapangan. Mengingat dampak kerusakan lahan pertanian cukup luas. Ini harus segera ditangani, apalagi cuaca masih berpotensi hujan,” tutur Erwin.
Berdasarkan data BPBD Parmout, banjir berdampak pada 402 Kepala Keluarga (KK) atau 903 jiwa yang tersebar di Kecamatan Parigi, Parigi Barat, Parigi Selatan, Torue, dan Balinggi. Sebanyak 110 jiwa sempat mengungsi akibat ancaman banjir.
Selain merendam 402 rumah warga, banjir juga berdampak pada kelompok rentan yang terdiri atas 34 orang lanjut usia, 34 balita, dan 19 bayi. Kebutuhan mendesak masyarakat meliputi matras, selimut, sembako, makanan siap saji, perlengkapan bayi, dan kebutuhan anak-anak.
Kerusakan juga terjadi pada sektor pertanian dan ekonomi masyarakat. Sedikitnya 230 hektare lahan pertanian terdampak banjir, terdiri atas 80 hektare di Desa Lebagu dan 30 hektare di Desa Balinggi Jati Kecamatan Balinggi. Kemudian, 70 hektare di Desa Masari, 50 hektare di Desa Dolago Padang Kecamatan Parigi Selatan. Selain itu, sekitar 52 hektare lahan perkebunan dan 30 hektare area perikanan turut terdampak.
Untuk mendukung percepatan penanganan usai terjadinya dua bencana alam, Pemkab Parmout telah mengajukan status tanggap darurat kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulteng, untuk menjadi dasar penyaluran bantuan tambahan sekaligus penggunaan Belanja Tidak Terduga (BTT) milik daerah dengan alokasi sebesar Rp8 miliar pada tahun 2026. Anggaran tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi penanganan bencana, melainkan juga untuk mendukung program prioritas lainnya, termasuk pengendalian inflasi.
“Penggunaan BTT harus didukung dengan status tanggap darurat. Karena itu proses administrasinya sedang kami selesaikan, agar anggaran bisa segera dimanfaatkan untuk penanganan bencana,” pungkas Erwin. AFL






