PALU MERCUSUAR Perayaan puncak dies natalis Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Untad yang ke 9, terasa benar-benar istimewa, tiga Wakil Menteri(wamen) dan satu Direktur Pelayanan Kesehatan Primer, Kemenkes RI, serta Gubernur Sulteng, hadir dalam peringatan di hari spesial fakultas termuda di Untad itu, dan peluncuran program Berani Magaya.
Ketiga wamen yang hadir tu adalah, Wamen Dalam Negeri, Komjen Pol (purn) Dr H Ahmad Wiyagus, Wamen Dikti, Sains dan Teknologi, Dr Fauzan, dan Wakli Menteri Kesehatan RI, Benjamin Paulus Octavianus, atau yang akrab disapa dr Benny, serta Direktur Pelayanan Kesehatan Primer, Kemenkes RI, dr Yanti Herman, dan Gubernur Sulteng, Dr Anwar Hafid.
“Perayaan puncak, dengan hadirnya dua wamen dan satu petinggi dari Kemenkes RI, merupakan kebahagiaan bagi keluarga besar Untad, dan khususnya FKM Untad, yang merayakan hari jadinya yang ke 9,” urai Dekan FKM Untad, Prof Dr Rosmala Nur SKM MSi, kepada Mercusuar, Senin (24/8/2026).
Menurut Prof Mala, kehadiran ketiga pejabat negara, plus seorang gubernur, dalam satu acara, bukan perkara mudah, sebab mengingat kesibukanya, yang padat dan jarak giat yang tidak berdekatan, namun karena direkatkan satu isu, dan FKM Untad, melakukan usaha, dari beberapa bulan sebelumnya, dan kemudian bisa menghadirkan pejabat penting negara, dalam satu “frame”.
Yang lebih menariknya adalah, isu tentang penyakit Tuberkulosis paru, atau yang dikenal TB paru, merupakan isu sentral yang diangkat oleh FM Untad, dalam perayaan dies natalisnya, ternyata menarik perhatian pemerintah Indonesia, hingga kemudian para wamen, menyempatkan diri, datang ke Untad, dan mendengarkan pemaparan langsung Dekan FKM Untad.
“TB Paru masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat prioritas di Indonesia. Dengan jumlah Penemuan Kasus TB di Sulteng Tahun 2025 Sebanyak 8418 dan Kota Palu mencapai 1. 944. Sementara dari hasil penelusuran data, capaian cakupan TPT, di Sulawesi Tengah, hanya 13 % dari target 80 %. Dan pada tahun 2026 baru 7 Persen. Sementara di Kota Palu 2026: 14 % dari target 80%.
Tingginya Jumlah Penderita TB di Sulteng menunjukkan perlunya penguatan pendampingan keluarga sebagai sebuah gerakan Kemanusiaan,” urai Prof Mala.
Maka lanjut Prof Mala, dengan tingginya angka penemuan kasus TB paru itu, Kampus tidak boleh menjadi menara gading, kampus harus berdampak, sehingga FKM sebagai inisiasi, mencari Solusi, dengan cara pendampingan pasien TB dan keluarganya.
“Dan mengapa harus mahasiswa yang menjadi ujung tombaknya, diantaranya, karena memperluas jangkauan pendampingan dan literasi mahasiswa tentang TB paru, membantu edukasi dan motivasi keluarga, kemudian mendeteksi dini kendala pengobatan, serta memantau kepatuhan OAT/TPT., yang terakhir menghasilkan data surveilans berbasis keluarga, serta mengintegrasikan praktik lapangan dengan pembelajaran.,” tutup Prof Mala. (MBH)







