PALU, MERCUSUAR – Sebanyak 40 guru peserta Lokakarya Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) berkesempatan berkunjung ke dua rumah ibadah, yakni Pura Agung Wana Kertha Jagatnatha dan Gereja Protestan Indonesia Donggala (GPID) Pniel, baru-baru ini.
Dalam kesempatan tersebut, para guru lintas agama tersebut turut melakukan dialog dengan pemuka agama atau pengurus rumah ibadah, untuk menguatkan kompetensi komparatif LKLB.
Lokakarya tersebut merupakan kerja sama antara Institut Leimena bersama Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu, yang melibatkan para guru lintas agama dari berbagai daerah di Sulteng dan Sulbar.
Direktur Program Institut Leimena, Daniel Adipranata mengatakan, program LKLB yang telah dijalankan sejak tahun 2021 berupaya mendorong terciptanya ruang-ruang perjumpaan di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk. Saat ini, jumlah alumni Program LKLB Institut Leimena telah mencapai lebih dari 12.000, yang 859 di antaranya berasal dari Provinsi Sulteng.
“Kita mungkin mempunyai tradisi dialog lintas agama, tapi sebenarnya itu hanya menyentuh kalangan elitis, di tingkat pemuka atau tokoh agama mungkin tidak ada masalah, tapi di bawah belum tentu dan belum ada infrastruktur untuk membangun toleransi sampai ke masyarakat,” kata Daniel.
Salah seorang peserta, guru mata pelajaran Akidah Akhlak MAN 1 Kota Palu, Supardi mengatakan perbedaan tidak bisa hanya dilihat dari luar atau permukaan saja, namun harus mengenal dan bercakap-cakap dengan para pemeluk agama berbeda.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Sulteng, I Wayan Sudiana mengatakan umat Hindu sangat terbuka untuk menerima kunjungan lintas agama. Di Provinsi Sulteng, umat Hindu berjumlah 197.000 orang yang tersebar di 11 kabupaten/kota.
Dalam sesi diskusi dengan guru-guru peserta lokakarya, Wayan Sudiana menjawab sejumlah pertanyaan, di antaranya terkait berbagai ritual suci umat Hindu seperti melilit pohon besar dengan kain, aturan masuk pura, sesajen, dan lain-lain.
“Pura kami sangat terbuka, namun ada etika-etika yang harus kita jaga. Misalnya tidak bisa masuk sembarangan ke tempat sembahyang, karena penting untuk menjaga kesucian Pura,” kata Wayan Sudiana.
Sementara itu, Ketua Majelis GPID Pniel, dr. Roberthy D. Maelissa mengaku bersyukur bisa mendapatkan kesempatan perjumpaan dengan guru-guru lintas agama. Ia mengatakan, sebagai sesama umat ciptaan Tuhan, sekalipun berbeda, tetap ada ruang untuk bisa bergandengan tangan merawat bumi ciptaan Tuhan.
“Kita semua adalah umat ciptaan Tuhan, meskipun berbeda dalam keyakinan dan adat istiadat,” kata Roberthy. */IEA






