PARIGI, MERCUSUAR – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) menggandeng Hannah Asa Indonesia untuk memperkuat literasi keuangan petani milenial di Kabupaten Parigi Moutong guna mendorong kemandirian dan keberlanjutan usaha pertanian di daerah setempat.
“Program Petani Milenial harus dipandang sebagai upaya membangun ekosistem pertanian yang berkelanjutan, bukan sekadar mendorong generasi muda untuk bekerja di sektor pertanian,” kata Kepala Bidang Perekonomian dan Sumber Daya Alam Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Sulawesi Tengah Moh. Saleh di Parigi, Kamis.
Ia menyampaikan hal tersebut pada kegiatan monitoring dan evaluasi Program Berani Menjadi Petani Milenial yang diikuti 120 peserta.
Menurut dia, kegiatan ini menjadi instrumen penting untuk memastikan pelaksanaan program Berani Menjadi Petani Milenial berjalan sesuai dengan arah kebijakan dan target pembangunan daerah.
Ia mengatakan pengembangan petani milenial membutuhkan pendekatan menyeluruh, mulai dari peningkatan kapasitas sumber daya manusia hingga dukungan sarana produksi, akses permodalan, teknologi dan jaringan pemasaran.
Untuk itu, pemerintah perlu memastikan petani milenial memiliki kemampuan serta akses terhadap berbagai dukungan tersebut agar usaha pertanian yang dijalankan dapat tumbuh dan memberikan nilai ekonomi.
Ia menjelaskan Program Berani Menjadi Petani Milenial Sulawesi Tengah dirancang dengan menitikberatkan pada pengembangan usaha, pemanfaatan teknologi tepat guna, serta pembentukan ekosistem pertanian yang mandiri.
“Kita perlu memastikan petani milenial memiliki kapasitas, akses terhadap sarana produksi, permodalan, teknologi, serta jaringan pemasaran agar usaha yang dijalankan dapat tumbuh dan memberikan nilai ekonomi,” ujarnya.
Untuk itu, Pemprov Sulteng berkolaborasi dengan Hannah Asa Indonesia dalam membekali petani milenial dengan pemahaman mengenai pengelolaan keuangan usaha serta mendorong petani milenial lebih cerdas finansial.
Program ini juga menargetkan pengembangan 5.000 petani milenial selama periode 2025-2029, dengan target tahunan sebanyak 1.000 orang.
Sementara itu, Pendiri Hannah Asa Indonesia Mardiyah mengatakan literasi keuangan penting agar petani mampu mengelola usaha secara lebih terukur dan mengetahui keuntungan sebenarnya dari hasil penjualan.
“Petani perlu memahami bahwa hasil penjualan tidak seluruhnya merupakan keuntungan. Ada biaya produksi, tenaga kerja, transportasi, dan kebutuhan modal untuk kegiatan berikutnya yang harus diperhitungkan,” ungkapnya.
Ia mengatakan petani juga perlu memahami untuk memisahkan keuangan pribadi dan usaha, mencatat setiap transaksi, serta memahami arus kas sebagai dasar dalam mengambil keputusan dan mengembangkan usaha.
Dalam kegiatan tersebut, petani dibekali pemahaman mengenai penghitungan harga pokok produksi (HPP), penentuan harga jual, margin laba dan modal kerja.
Langkah praktik yang diperkenalkan meliputi penetapan tujuan keuangan, pemisahan keuangan pribadi dan usaha, pencatatan transaksi, serta penghitungan biaya berdasarkan data usaha masing-masing.
Melalui pembekalan tersebut, ia mengatakan petani diharapkan mampu mengelola keuangan secara lebih baik, merencanakan kebutuhan modal, serta mengembangkan usaha pertanian secara mandiri dan berkelanjutan.*/MAN






