OMI Wujudkan Madrasah Maju, Bermutu, dan Mendunia

Junaidin

PALU, MERCUSUAR – Pelaksanaan Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) tingkat Kabupaten/Kota di Sulteng resmi dimulai serentak pada Senin (7/9/2026). Total sebanyak 3.910 peserta yang lolos verifikasi mengikuti kompetisi di 88 titik lokasi, yang tersebar di seluruh kabupaten dan kota se-Sulteng. Ajang tersebut diagendakan hingga Rabu (9/9/2026).

Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Sulteng, Dr. H. Junaidin mengatakan, kompetisi akademik dan pengembangan potensi peserta didik madrasah tersebut bukan sekadar menjadi ruang untuk mengukur kemampuan murid dalam bidang ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi momentum strategis untuk menunjukkan wajah madrasah sebagai lembaga pendidikan berbasis agama yang mampu beradaptasi, berkompetisi, dan berprestasi di tengah perkembangan pendidikan global.

Menurutnya, OMI hadir sebagai panggung bagi madrasah untuk memperlihatkan bahwa pendidikan yang berakar pada nilai-nilai keagamaan, tidak berjarak dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Sebaliknya, nilai agama dan penguasaan sains dapat berjalan beriringan dalam membentuk generasi yang memiliki kecerdasan intelektual, kematangan spiritual, karakter, serta daya saing,” tegas Junaidin kepada media ini, Selasa (8/9/2026).

Ia menekankan, pelaksanaan OMI di Sulteng menjadi bagian penting dari upaya membangun ekosistem pendidikan madrasah yang semakin kompetitif. Para peserta tidak hanya dituntut mampu menyelesaikan persoalan akademik, tetapi juga didorong untuk memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, logis, kolaboratif, dan adaptif terhadap tantangan zaman.

Kehadiran OMI, lanjutnya, sekaligus mempertegas posisi madrasah sebagai salah satu pilar penting dalam pembangunan sumber daya manusia. Madrasah tidak lagi dapat dipandang hanya sebagai institusi pendidikan yang menitikberatkan pembelajaran agama, tetapi sebagai lembaga pendidikan yang mengintegrasikan keislaman, sains, teknologi, karakter, dan berbagai kecakapan abad ke-21.

“Lebih dari sekadar kompetisi, OMI merupakan ruang aktualisasi. Di dalamnya, murid madrasah mendapatkan kesempatan untuk membuktikan kemampuan terbaiknya sekaligus membangun pengalaman berkompetisi secara sehat. Kompetisi menjadi cermin sekaligus pemacu, sejauh mana madrasah telah maju dalam inovasi, sejauh mana mutunya telah terjaga, dan sejauh mana peserta didiknya memiliki kesiapan untuk tampil di panggung yang lebih luas,” tuturnya.

Bagi Junaidin, pelaksanaan OMI di Sulteng juga membawa pesan penting, bahwa potensi madrasah tidak hanya berada di pusat-pusat pendidikan di Pulau Jawa atau kota-kota besar. Dari wilayah Sulteng, lahir pula generasi madrasah dengan potensi akademik, karakter, kreativitas, dan semangat berprestasi yang layak mendapatkan ruang untuk berkembang.

Olehnya, OMI dapat menjadi momentum untuk memperkuat pemerataan kualitas pendidikan madrasah. Setiap madrasah, baik yang berada di wilayah perkotaan maupun daerah, memiliki kesempatan yang sama untuk menunjukkan potensi dan prestasinya.

Menurut Junaidin, OMI bukan hanya tentang siapa yang menjadi juara, namun juga tentang upaya madrasah membangun tradisi keunggulan, menumbuhkan keberanian untuk berkompetisi, serta memastikan bahwa pendidikan agama dan ilmu pengetahuan dapat melahirkan generasi yang utuh.

“Dari ruang-ruang kompetisi seperti inilah, optimisme terhadap masa depan madrasah dibangun. Murid belajar bahwa prestasi membutuhkan proses. Guru belajar bahwa pembinaan harus dilakukan secara berkelanjutan. Madrasah belajar bahwa kualitas harus terus diperjuangkan. Dan masyarakat semakin melihat bahwa madrasah memiliki kontribusi besar dalam menyiapkan generasi Indonesia yang unggul,” kata Junaidin.

“Dari Sulawesi Tengah, semangat itu digaungkan. Madrasah tidak hanya hadir untuk mencerdaskan, tetapi juga untuk menginspirasi dan berprestasi. Madrasah tidak hanya maju di lingkungan sendiri, tetapi siap bermutu dan tampil mendunia. Sebagaimana tagline madrasah yang diusung saat ini, yaitu Madrasah Maju, Bermutu, Mendunia. Dari madrasah, untuk Indonesia yang lebih unggul,” pungkasnya. */IEA

Pos terkait