PALU, MERCUSUAR – Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Agama (Kemenag) RI, Prof. Kamaruddin Amin mengingatkan jajaran Aparatur Sipil Negara (ASN) Kemenag, untuk tidak menghentikan tugas pelayanan di balik meja.
Menurutnya, selain menjalankan fungsi administrasi, ASN Kemenag juga memiliki tanggung jawab membina umat dan menghadirkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan tersebut disampaikan Kamaruddin, saat memberikan pembinaan kepada ASN di lingkungan Kantor Wilayah (Kanwil) Kemenag Sulteng, di Palu, Senin (6/7/2026).
Kanwil Kemenag Sulteng saat ini memiliki 5.724 ASN yang terdiri atas 3.122 PNS dan 2.602 PPPK. Kamaruddin menegaskan Kemenag memiliki peran sangat penting, bahkan fundamental, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena agama tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia.
“Tugas apapun yang diemban di Kementerian Agama memiliki dampak besar terhadap kualitas kehidupan beragama di Indonesia. Karena itu, amanah tersebut harus dijalankan dengan tulus, ikhlas, dan profesional. Kehidupan keagamaan dan kerukunan umat di Sulawesi Tengah sangat dipengaruhi oleh peran ASN Kementerian Agama,” ujarnya.
Kamaruddin juga mengajak seluruh ASN memperkenalkan agama kepada masyarakat secara baik, benar, dan utuh, tanpa mereduksi makna agama hanya pada aspek teologis.
“Agama harus menyentuh persoalan yang dihadapi umat dalam kehidupan sehari-hari. Jangan memperkenalkan agama secara parsial, tetapi secara komprehensif sehingga mampu memberikan perspektif dalam setiap persoalan kehidupan,” tegasnya.
Ia juga menyampaikan program ekoteologi Kemenag, yang mengajak umat beragama tidak hanya beribadah, tetapi juga memiliki tanggung jawab kemanusiaan dan kepedulian terhadap lingkungan.
“Menjaga dan merawat bumi merupakan bagian dari tugas kekhalifahan yang tidak boleh diabaikan. ASN Kementerian Agama tidak cukup hanya memahami dan melaksanakan, tetapi juga mengajak masyarakat untuk ikut menjaga lingkungan,” katanya.
Ia menambahkan, tantangan yang dihadapi para ASN Kemenag adalah memastikan literasi keagamaan benar-benar terwujud dalam praktik kehidupan masyarakat, bukan sekadar menjadi pengetahuan. Mengutip arahan Menteri Agama, Kamaruddin mengatakan pembeda Kemenag dengan yang lain adalah tugas membina masyarakat secara langsung.
“Pejabat Kementerian Agama tidak boleh hanya datang ke kantor mengurus administrasi, tetapi harus turun ke masyarakat membina umat. Indikator utama kinerja adalah kerukunan umat beragama dan kualitas pelaksanaan ajaran agama di tengah masyarakat. Jika administrasi baik tetapi umat tidak rukun, maka Kementerian Agama belum berhasil menjalankan tugasnya,” tuturnya.
Khusus kepada para penyuluh agama, Kamaruddin meminta pendekatan pembinaan disesuaikan dengan perkembangan zaman dan karakter generasi milenial, Generasi Z, serta Generasi Alpha.
“Pendekatan konvensional tidak lagi cukup. Manfaatkan digitalisasi, buat konten positif, aktif di media sosial, dan sesuaikan cara menyampaikan pesan keagamaan dengan perkembangan masyarakat,” ujarnya.
“Jangan hanya membaca kitab dan literatur, tetapi juga membaca realitas sosial. ASN Kementerian Agama harus terus mengikuti perkembangan zaman agar tidak tertinggal dalam menyampaikan pesan-pesan keagamaan kepada masyarakat,” pungkasnya. */IEA






