Memiliki Indonesia, Harus Ikut Menjaga Persatuan

Muh. Amin Parakkasi

PALU, MERCUSUAR – Agama Islam datang bukan untuk memecah belah serta menutup pintu kebaikan. Namun, Islam hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam.

“Ini adalah inti ajaran kenabian, yakni kasih sayang, keadilan, kedamaian dan persaudaraan yang tak mengenal batas suku, ras, maupun golongan,” ujar Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Muhammadiyah Sulteng, H. Muh. Amin Parakkasi, saat menyampaikan pidato kebangsaan pada peringatan Maulid dan Silaturahim Kebangsaan IKA PMII Sulteng, di Palu, Sabtu (19/9/2026).

Menurut Amin, bangsa Indonesia membutuhkan agama yang menghadirkan kedamaian, ilmu pengetahuan, keadilan, persaudaraan dan kemajuan. Bukan agama yang dipakai untuk mempertajam permusuhan.

“Islam datang bukan untuk menindas, bukan untuk memecah belah, dan bukan untuk menutup pintu kebaikan. Namun, di tengah perjalanan bangsa ini, kita masih melihat keraguan, perpecahan, dan ketidakpahaman. Maka, saatnya kita kembali ke sumber aslinya: merawat Islam yang penuh kasih, dan menghidupkan nilai-nilai kenabian di setiap langkah kehidupan berbangsa,” tuturnya.

Menurutnya, rahmat Islam harus tampak dalam sikap dan perbuatan. Islam yang rahmah adalah yang menghadirkan rasa aman, menghormati martabat manusia, membela kaum lemah, menegakkan keadilan, mencintai ilmu, dan menjaga persaudaraan.

“Rasulullah SAW mengajarkan bahwa kekuatan umat tidak hanya diukur dari banyaknya jumlah, tetapi dari kualitas akhlak, kejujuran, ilmu, kepedulian, dan kesediaan untuk berkorban bagi kepentingan yang lebih besar,” tegas Amin.

“Kalau kita merasa memiliki Indonesia, maka kita harus ikut menjaga persatuan. Kalau kita merasa memiliki bangsa ini, maka kita harus menolak korupsi, politik kebencian, kekerasan, diskriminasi, dan segala bentuk tindakan yang merusak masa depan rakyat,” tandasnya.

Oleh karena itu, ia mengajak umat Islam untuk berhenti mempertajam perbedaan yang bersifat khilafiah. Menurutnya, perbedaan harus dikelola dengan ilmu, adab, dan kasih sayang.

“Jangan mudah menvonis sesat, liberal, radikal, atau label negatif lainnya kepada saudara sesama Muslim hanya karena berbeda pandangan, mari kita sama-sama membina dan mencerdaskan umat. Fastabiqul khairat, hendaklah senantiasa terdepan dalam kebaikan,” tandasnya. */IEA

Pos terkait