Perkuat Moderasi, Internalisasi Konsep ‘Nosarara Nosabatutu’ dalam Pembelajaran

Kakanwil Kemenag Sulteng, Junaidin (kiri) saat menjadi narasumber pada lokakarya LKLB bagi para guru, di Palu, Jumat (18/9/2026). FOTO: IMAM EL ABRAR/MS

PALU, MERCUSUAR – Ajaran agama tidak hanya selalu berkaitan dengan teologi atau akidah. Lebih dari itu, pembelajaran agama di lembaga pendidikan hendaknya menjabarkan peran agama dalam membawa maslahat dan pesan-pesan kemanusiaan.

Hal itu disampaikan Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Sulteng, Dr. H. Junaidin, saat menjadi narasumber dalam kegiatan Hybrid Upgrading Workshop atau Lokakarya Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) bagi para guru, yang diselenggarakan Institut Leimena dan UIN Datokarama Palu, di salah satu hotel di Palu, Jumat (18/9/2026).

“Karena itu, pembelajaran moderasi beragama yang diinternalisasi ke dalam pendidikan di madrasah, sebenarnya bentuk untuk menempatkan peserta didik agar memiliki pemahaman agama melihat lingkungannya secara adil atau seimbang, bahwa kita hidup sangat majemuk, beragam agama, etnis dan budaya,” tutur Junaidin.

Oleh karena itu, prinsip kearifan lokal seperti “Nosarara Nosabatutu” yang dipegang oleh masyarakat Sulteng, khususnya Palu, menurut Junaidin, harus dijaga dan turut diinternalisasikan ke dalam lembaga pendidikan.

“Ada istilah yang dipegang bersama, ‘nosarara nosabatutu’ artinya kita semua berkeluarga dan bersatu. Prinsip ini dalam konteks kehidupan kearifan lokal kita di Sulteng sesungguhnya sangat penting untuk membingkai persaudaraan dan persatuan, kalau perlu diinternalisasikan dalam pendidikan kita,” tuturnya.

Junaidin menjelaskan, Kemenag sebagai lembaga yang salah satu tugas dan fungsinya adalah melaksanakan pendidikan agama dan keagamaan, yang tujuannya bukan hanya membentuk peserta didik yang memahami ajaran agama secara tekstual.

“Tetapi juga membentuk manusia yang tidak saja punya pemahaman, namun juga menghayati, mengamalkan dan juga menghadirkan nilai-nilai agama dalam kehidupan yang majemuk,” tegasnya.

Selain itu, jelas Junaidin, saat ini Kemenag telah mengaplikasikan konsep Kurikulum Berbasis Cinta (KBC), yang polanya menginternalisasikan konsep cinta dalam setiap mata pelajaran.

“Yang sangat penting adalah bagaimana mengintegrasikan nilai cinta dalam setiap mata pelajaran. Termasuk juga bagaimana tenaga pendidik memberikan keteladanan, sebagai hal yang sangat efektif dalam proses pembelajaran,” tandasnya. IEA

Pos terkait