DONGGALA, MERCUSUAR – Rumah Belajar Saudah (RBS) menggelar kegiatan Rihlah Perdana yang diikuti sekitar 120 santri bersama orang tua di kawasan wisata Tanjung Karang, Kelurahan Labuan Bajo, Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala, Sabtu (11/07/26).
Kegiatan tersebut menjadi momen pertama yang diselenggarakan Rumah Belajar Saudah untuk mempererat silaturahmi antara pengajar, santri, dan orang tua melalui berbagai aktivitas edukatif dan rekreatif.
Rumah Belajar Saudah sendiri saat ini memiliki dua lokasi pembelajaran, yakni di Kelurahan Boneoge dan Kelurahan Boya, Kabupaten Donggala dan total santri kurang lebih 170 orang.
Founder Rumah Belajar Saudah, Firda Handayani, mengatakan kegiatan Rihlah merupakan bagian dari upaya membangun kebersamaan sekaligus memperkuat hubungan emosional di lingkungan rumah belajar.
“Tujuan kegiatan ini adalah menjalin silaturahmi antara para pengajar, orang tua, dan anak-anak. Selama ini kegiatan seperti ini sangat jarang dilaksanakan, sehingga kami berharap melalui Rihlah ini hubungan kekeluargaan di Rumah Belajar Saudah semakin erat,” ujar Firda
Ia mengaku bersyukur karena kegiatan perdana tersebut mendapat sambutan positif dari para wali santri. Meskipun ada beberapa peserta yang berhalangan hadir, sebagian besar santri tetap mengikuti kegiatan dengan penuh antusias.
“Alhamdulillah anak-anak sangat bersemangat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Ini menjadi motivasi bagi kami untuk kembali menghadirkan kegiatan serupa di masa mendatang,” katanya.
Selain menjadi ajang rekreasi, Rihlah juga diisi dengan berbagai kegiatan yang membangun kekompakan dan kebersamaan. Para santri dan orang tua mengikuti beragam perlombaan, seperti cerdas cermat, lari estafet, serta sejumlah permainan (games) lainnya yang dikemas secara edukatif dan menghibur. Suasana penuh keceriaan dan semangat kebersamaan pun mewarnai seluruh rangkaian kegiatan.
Salah seorang wali santri, Irma, menilai kegiatan tersebut memberikan dampak positif, baik bagi anak-anak maupun orang tua. Menurutnya, Rihlah menjadi kesempatan bagi santri untuk saling mengenal lebih dekat di luar suasana belajar mengaji.
“Kegiatan ini sangat bagus. Anak-anak bisa bermain bersama, saling mengenal, dan lebih rileks. Orang tua juga bisa saling berkenalan dan membangun komunikasi yang lebih baik,” tuturnya.
Ia berharap Rumah Belajar Saudah dapat lebih sering mengadakan kegiatan serupa dengan konsep yang lebih beragam agar anak-anak memperoleh pengalaman belajar yang menyenangkan di luar ruang kelas.
Hal senada disampaikan wali santri lainnya, Nita. Ia mengaku sangat mengapresiasi keberadaan Rumah Belajar Saudah yang dinilai telah membantu orang tua dalam membekali anak-anak dengan pendidikan agama sejak dini.
“Kami sebagai orang tua sangat mendukung dan mengapresiasi Rumah Belajar Saudah. Anak-anak mendapatkan ilmu agama dan berbagai pengetahuan yang sangat bermanfaat. Kami merasa terbantu dan bersyukur dengan adanya tempat belajar seperti ini,” ungkapnya.
Nita berharap kegiatan Rihlah dapat menjadi agenda rutin Rumah Belajar Saudah sehingga santri tidak hanya memperoleh pendidikan agama, tetapi juga pengalaman sosial yang dapat membentuk karakter, meningkatkan rasa percaya diri, dan mempererat persaudaraan antarsantri maupun antarorang tua.
Melalui kegiatan perdana tersebut, Rumah Belajar Saudah menunjukkan komitmennya untuk tidak hanya menjadi tempat belajar mengaji, tetapi juga ruang pembinaan karakter yang melibatkan peran aktif keluarga dalam mendukung tumbuh kembang anak. IKI/**






