Siaga Sehat di Tengah Bencana: Upaya Preventif Mencegah Penyakit Pada Masyarakat

Nurul Amirah Ramadhani Lembah dan Mashatim , Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Palu

Oleh : Nurul Amirah Ramadhani Lembah dan Mashatim

Bencana alam seperti banjir, gempa bumi, tanah longsor, dan letusan gunung berapi tidak hanya menimbulkan kerusakan infrastruktur, tetapi juga memicu berbagai masalah kesehatan bagi masyarakat. Dalam kondisi darurat, keterbatasan air bersih, sanitasi yang buruk, serta kepadatan di tempat pengungsian dapat meningkatkan risiko penyebaran penyakit. Oleh karena itu, upaya preventif atau pencegahan penyakit menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan masyarakat di tengah situasi bencana.

Data dari World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa setelah bencana terjadi, penyakit yang paling sering muncul di pengungsian antara lain diare, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), penyakit kulit, serta penyakit yang ditularkan melalui vektor seperti demam berdarah. Kondisi lingkungan yang tidak higienis dan terbatasnya fasilitas kesehatan menjadi faktor utama yang mempercepat penyebaran penyakit tersebut.

Di Indonesia, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melaporkan bahwa pada situasi bencana, sekitar 60–70 persen kasus penyakit di pengungsian didominasi oleh ISPA, sementara 10–20 persen lainnya merupakan kasus diare akibat konsumsi air yang tidak bersih. Anak-anak, lansia, serta ibu hamil termasuk kelompok yang paling rentan terhadap penyakit saat terjadi bencana.

Upaya pencegahan penyakit dapat dimulai dengan memastikan ketersediaan air bersih dan sanitasi yang memadai di lokasi pengungsian. Air yang digunakan untuk minum dan memasak harus direbus hingga mendidih atau menggunakan tablet penjernih air. Selain itu, fasilitas toilet yang memadai perlu disediakan untuk mencegah pencemaran lingkungan dan penyebaran bakteri penyebab penyakit.

Kebersihan diri juga menjadi faktor penting dalam pencegahan penyakit. Masyarakat dianjurkan untuk rutin mencuci tangan dengan sabun, terutama sebelum makan dan setelah menggunakan toilet. Penggunaan masker juga dianjurkan di tempat pengungsian yang padat untuk mengurangi risiko penularan penyakit pernapasan.

Selain itu, pengelolaan sampah yang baik harus menjadi perhatian. Sampah yang menumpuk dapat menjadi sarang lalat dan nyamuk yang berpotensi menyebarkan penyakit. Oleh karena itu, diperlukan tempat pembuangan sampah sementara serta kegiatan gotong royong untuk menjaga kebersihan lingkungan pengungsian.

Upaya preventif lainnya adalah dengan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala oleh tenaga medis. Tim kesehatan biasanya melakukan pemantauan penyakit menular, pemberian imunisasi darurat, serta penyuluhan kesehatan kepada masyarakat. Langkah ini bertujuan untuk mendeteksi penyakit lebih awal sehingga dapat segera ditangani sebelum menyebar lebih luas.

Pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama instansi terkait juga terus meningkatkan kesiapsiagaan kesehatan dalam penanggulangan bencana. Salah satunya dengan menyiapkan pos kesehatan, distribusi obat-obatan, serta penyediaan logistik kesehatan di daerah terdampak.

 Kesadaran masyarakat menjadi kunci utama dalam menjaga kesehatan di tengah bencana. Dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, menjaga lingkungan tetap higienis, serta mengikuti arahan petugas kesehatan, risiko penyakit dapat diminimalkan.

 Bencana memang tidak dapat sepenuhnya dihindari, namun dampaknya terhadap kesehatan dapat dikurangi melalui langkah-langkah pencegahan yang tepat. Dengan kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat, diharapkan kondisi kesehatan tetap terjaga sehingga proses pemulihan pascabencana dapat berjalan lebih cepat dan efektif.***

Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Palu

Pos terkait