PALU, MERCUSUAR – Petani kelapa sawit di Kabupaten Morowali didorong untuk mulai memproduksi pupuk organik secara mandiri guna mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia sekaligus menekan biaya produksi. Upaya tersebut diwujudkan melalui Pelatihan Pembuatan dan Aplikasi Pupuk Organik Angkatan I dan II yang diselenggarakan Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Batangkaluku bekerja sama dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) di Aston Hotel Palu, Senin (27/7/2026).
Pelatihan yang berlangsung hingga 31 Juli 2026 itu diikuti petani kelapa sawit asal Kabupaten Morowali dan dibuka oleh Kepala BBPP Batangkaluku, Dr. Ir. Jamaluddin Al Afghani, S.Pd., M.P.
Kepala Dinas Pertanian Daerah Kabupaten Morowali, Abd. Muttaqin Sonaru mengatakan, persoalan pupuk masih menjadi tantangan yang dihadapi petani di daerahnya. Menurutnya, sebagian besar petani Morowali tidak hanya memiliki lahan sawah, tetapi juga kebun kelapa sawit.
Kondisi tersebut kata dia, membuat pupuk bersubsidi yang seharusnya diperuntukkan bagi tanaman pangan kerap dialihkan penggunaannya ke kebun sawit.
“Petani kami selain punya sawah juga punya sawit. Ketika mendapat pupuk bersubsidi untuk tanaman pangan, dalam praktiknya ada yang akhirnya digunakan di kebun sawit. Ini menjadi persoalan yang tidak mudah diselesaikan,” ujarnya.
Karena itu, Abd. Muttaqin berharap, pelatihan tersebut dapat menjadi solusi agar petani mampu memanfaatkan limbah organik di sekitar kebun sebagai bahan baku pupuk.
Ia meminta seluruh peserta memanfaatkan pelatihan selama beberapa hari tersebut dengan sebaik-baiknya dan segera menerapkan ilmu yang diperoleh di kebun masing-masing.
“Tidak perlu langsung berpikir dalam skala besar. Minimal apa yang diperoleh dari pelatihan ini bisa dipraktikkan di kebun sendiri. Pelepah maupun limbah sawit yang selama ini hanya dikumpulkan bisa diolah menjadi pupuk organik untuk meningkatkan kesuburan tanah,” katanya.
Menurutnya, apabila petani mulai memproduksi pupuk organik secara mandiri, penggunaan pupuk kimia dapat ditekan sehingga biaya usaha tani menjadi lebih efisien. Bahkan ke depan, ia berharap akan tumbuh kelompok-kelompok masyarakat yang mampu memproduksi pupuk organik untuk memenuhi kebutuhan sektor pertanian maupun perkebunan di Kabupaten Morowali.
Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Sulawesi Tengah, Ir. Muhammad Neng, S.T., M.M. mengatakan, pelatihan tersebut merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam meningkatkan kapasitas sumber daya manusia perkebunan meskipun pemerintah daerah tengah menghadapi efisiensi anggaran.
Ia mengapresiasi Badan Pengelola Dana Perkebunan yang tetap menghadirkan program pemberdayaan petani di Sulawesi Tengah.
“Di tengah efisiensi anggaran, pemerintah masih hadir di tengah-tengah petani untuk memberikan ilmu dan pemberdayaan. Ini sangat kami apresiasi,” ujarnya.
Muhammad Neng menjelaskan, Sulawesi Tengah memiliki potensi perkebunan yang besar dengan tiga komoditas unggulan, yakni kelapa sawit seluas sekitar 148 ribu hektare, kelapa dalam sekitar 219 ribu hektare, dan kakao sekitar 266 ribu hektare.
Besarnya potensi tersebut, menurutnya, harus didukung oleh peningkatan kualitas sumber daya manusia, termasuk kemampuan petani memanfaatkan pupuk organik. Terlebih, Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) juga membutuhkan dukungan penggunaan pupuk organik agar produktivitas kebun masyarakat terus meningkat.
Pada kesempatan yang sama, Kepala BBPP Batangkaluku, Dr. Ir. Jamaluddin Al Afghani mengatakan, pelatihan tersebut tidak hanya mengajarkan teknik membuat pupuk organik, tetapi juga bertujuan mengubah pola pikir petani agar mampu memanfaatkan sumber daya yang tersedia di sekitar mereka.
“Kalau selama ini pola pikirnya, ‘kalau masih bisa beli, mengapa harus membuat sendiri’, maka itu yang harus kita ubah menjadi ‘kalau bisa membuat sendiri, mengapa harus membeli’,” katanya.
Menurut Jamaluddin, penggunaan pupuk organik secara rutin dapat memperbaiki kualitas tanah, sehingga kebutuhan pupuk anorganik dapat dikurangi secara bertahap. Dampaknya bukan hanya menekan biaya produksi, tetapi juga meningkatkan produktivitas tanaman.
Ia menjelaskan, hampir seluruh bahan baku pupuk organik tersedia di kawasan perkebunan sawit, seperti tandan kosong maupun pelepah kelapa sawit. Dengan memahami konsep pembuatan, manfaat, dan cara aplikasinya, petani diharapkan mampu memproduksi pupuk organik secara mandiri.
Selain mendukung perkebunan sawit, kemampuan tersebut juga dinilai penting untuk menunjang penerapan program Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PMAAS), yang mendorong penggunaan pupuk organik dalam proses budidaya tanaman pangan.\Jamaluddin mencontohkan, apabila Kabupaten Morowali memiliki sekitar 4.000 hektare lahan yang membutuhkan sekitar 8.000 ton pupuk organik, maka kebutuhan tersebut idealnya dapat dipenuhi oleh petani lokal, bukan didatangkan dari luar daerah.
“Kami berharap ke depan lahir produsen-produsen pupuk organik dari masyarakat sendiri. Bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan kebun sawit, tetapi juga untuk mendukung berbagai program pertanian di daerah,” ujarnya.
Ia menambahkan, keberadaan Koperasi Desa Merah Putih juga berpotensi menjadi wadah bagi petani dalam memasarkan sekaligus mendistribusikan pupuk organik hasil produksi masyarakat, sehingga memiliki kepastian pasar dan memberi nilai tambah bagi petani. */JEF






