PALU MERCUSUAR Usai dicanangkanpada bulan Agustus lalu, program Berani Magaya FKM Untad, yang menyasar penderita Tuberkulosis atau TB, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Untad, membuktikan komitmennya, untuk memutus mata rantai penyakit dalam itu di Kota Palu, dengan melibatkan 14 Puskesmas, yang tersebar di Lembah Palu.
“Alhamdulillah, komitmen kami memutus mata rantai TB, Yang sedang turun dalam Tahap I ini adalah 350 orang, yg terdiri dari dua prodi, dua fakultas, yakni prodi Kesmas 230 orang dari FKM, dari Fakultas Kedokteran, Prodi Keperawatan sebanyak 120 mahasisw,” urai Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat, Prof Dr Rosmala Nur SKM MSi, kepada Mercusuar, Selasa (22/9/2026).
Secara teknis, kata Prof Mala, sapaan akrabnya, memutus mata rantai penyakit TB, bukan hanya dengan melakukan tindakan pengobatan saja, tetapi lebih dari itu, mulai dari pendampingan proses kepatuhan minum obat bagi pasien, keluarga pasien, ataua mereka yang memiliki kontak erat, dengan pasien, hingga benar-benar tuntas, kemudian melakukan edukasi terhadap keluarga pasien, kemudian edukasi kepada masyarakat secara luas, tentang ap aitu TB, bagaimana gejala dan penularannya, serta efek dari penyakit tersebut.
Sehingga, lanjut Prof Mala, pasien dan keluarganya, benar-benar bisa sembuh dari TB, namun disisi lain, masyarakat juga tidak menanggapi dalam kekhawatiran yang berlebihan terhadap pasien TB dan keluarganya, dan yang terpenting juga adalah, masyaraat Kota Palu, secara umumnya, memahami dengan baik, terkait dengan penyakit TB.
“Soalan minum obat, kami pun melakukan pendampingan. Jadi bukan sekedar, memberikan obat kepada pasien, lalu kemudian ditinggalkan begitu saja, sebab pendampingan ini, bagian dari proses untuk memastkan, apakah pasien bisa disiplin meminum obatnya. Sebab penderita penyakit TB, harus terus menerus meminum batnya, sampai benar-benar dinyatakan sembuh,” urai Prof Mala.
Katanya lagi, kini mahasiswa pada kedua prodi tersebut, sedang mendampingi pasien TB dengan cara memantau kepatuhan minum obat tiap hari bagi pasien TB dan memantau kepatuhan minum obat bagi keluarganya 1 kali seminggu.
“Selain memantau kepatuhan minum obat para mahasiswa tsb sedang mengedukasi para pasien dan keluarganya agar tdk tertular infeksi penyakit TB,” bebernya.
FKM dgn tagline, FKM melejit ini sedang melakukan pengabdian demi kemanusiaan, Kota Palu bebas dari penyakit TB.
“Bahwa, Program Berani Magaya ini,yang dicanangkan oleh Untad, dihadiri tiga wakil Menteri, adalah sebuah pengabdian yang dipersembahkan oleh FKM Utad, baik mahasiswa maupun dosennya, yang secara tulus, menyehatkan masyarakat Kota Palu,” pungkasnya. (MBH)






