Nihil Fatalitas, PT Vale Paparkan Teknologi Tambang dan Praktik Keberlanjutan di Jambore KTT Sulteng

PT Vale Indonesia Tbk memaparkan penerapan teknologi dalam operasional pertambangan, keselamatan kerja, serta pengelolaan lingkungan pada Jambore Pertambangan Sulawesi Tengah 2026 yang digelar Forum Kepala Teknik Tambang Sulawesi Tengah di Sriti Convention Hall, Palu, Selasa (22/9/2026). FOTO : KARTINI NAINGGOLAN/MS 

PALU, MERCUSUAR — PT Vale Indonesia Tbk memaparkan penerapan teknologi dalam operasional pertambangan, keselamatan kerja, serta pengelolaan lingkungan pada Jambore Pertambangan Sulawesi Tengah 2026 yang digelar Forum Kepala Teknik Tambang Sulawesi Tengah di Sriti Convention Hall, Palu, Selasa (22/9/2026).  

PT Vale menjadi salah satu perusahaan yang berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Paparan perusahaan disampaikan Senior Manager Mine Production Bahodopi PT Vale Indonesia Tbk, Sarjan Soleman.

Sarjan menjelaskan, PT Vale saat ini memiliki empat blok pertambangan, yakni Sorowako, Bahodopi, Pomalaa dan Tanamalia. Blok Sorowako di Sulawesi Selatan telah berproduksi lebih dari 50 tahun, sedangkan Blok Bahodopi di Kabupaten Morowali mulai berproduksi pada 2025.

“Di Morowali kami mulai berproduksi sekitar Agustus 2025. Namun, konstruksi area tambang dan infrastruktur sudah dimulai sejak Januari 2023,” kata Sarjan dalam paparannya.

Menurut dia, PT Vale  berada di Morowali sekitar satu dekade sebelum kegiatan konstruksi tambang dimulai. Kehadiran awal tersebut diarahkan untuk membangun kerja sama dengan pemerintah daerah dan masyarakat melalui berbagai program sosial.

Saat ini, kata Sarjan, PT Vale memiliki sekitar 22.000 hektare wilayah IUPK aktif di Morowali. Pada 2026, perusahaan memperoleh kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) sekitar 2,3 juta ton.

Dalam operasional tambang, PT Vale menerapkan sejumlah teknologi digital melalui platform yang disebut Minerva. Sistem tersebut digunakan untuk memantau pergerakan dan aktivitas peralatan tambang secara real time.

Sarjan mengatakan, Minerva terintegrasi dengan sejumlah aplikasi, mulai dari sistem kehadiran pekerja hingga Fleet Management System. Teknologi tersebut memungkinkan perusahaan memantau posisi dan aktivitas alat berat di area pertambangan.

“Semua equipment yang ada di area kami, baik konstruksi maupun pertambangan, dapat kami monitor, baik kegiatannya maupun ke mana dia pergi,” ujarnya.

Salah satu teknologi yang digunakan adalah High Precision System (HPS). Teknologi ini membantu operator ekskavator melakukan penggalian berdasarkan blok tambang yang telah ditentukan tanpa bergantung sepenuhnya pada patok survei di lapangan.

Menurut Sarjan, sistem tersebut memungkinkan proses penggalian dilakukan dengan tingkat akurasi sekitar 0 hingga 10 sentimeter. Penerapan teknologi itu, kata dia, turut mendukung optimalisasi pengambilan bijih dan konservasi sumber daya.

“Year to date, recovery kami sekitar 92 sampai 95 persen,” katanya.

Selain teknologi produksi, PT Vale juga menggunakan sistem digital untuk memantau kondisi jalan tambang dan peralatan melalui konsep Digital Twin. Kondisi area tambang ditampilkan melalui indikator tertentu sehingga bagian yang memerlukan perhatian dapat segera dianalisis.

Untuk aspek keselamatan, PT Vale menerapkan sistem Defender pada armada dump truck. Sistem tersebut dilengkapi kamera yang mendeteksi tanda-tanda kelelahan atau fatigue pada operator.

Sarjan menegaskan, sistem itu ditujukan sebagai langkah pencegahan kecelakaan, bukan semata-mata untuk memberikan sanksi kepada pekerja.

“Ini bukan untuk mencari kesalahan orang, tetapi menjaga orang agar tetap aware,” ujarnya.

Sistem tersebut juga memberikan peringatan terhadap sejumlah kondisi, seperti pengemudi mengantuk, tidak menggunakan sabuk keselamatan, merokok saat mengemudi, menggunakan telepon, melakukan overspeeding, hingga menutup kamera.

Nihil Kematian Akibat Kerja

Sarjan menyebut, tahun 2025-2026 di IGP Morowali, PT Vale mencatat nihil kematian akibat kecelakaan kerja. Perusahaan juga mencatat nihil cedera kerja yang berakibat pada karyawan.

Selain keselamatan, perusahaan memaparkan pengelolaan lingkungan di wilayah operasional Morowali. Hingga saat ini, total bukaan tambang yang dikerjakan PT Vale disebut mencapai hampir 60 hektare. 

Pengelolaan air limpasan tambang dilakukan melalui sejumlah sediment pond dan pocket pond di area tambang. Salah satunya sediment pond 4 yang memiliki luas sekitar 10 hektare. Fasilitas tersebut berada di titik terendah area tambang dan telah memperoleh Surat Layak Operasi (SLO).

PT Vale juga menjalankan pengelolaan sampah dan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3). Perusahaan membangun fasilitas pengolahan sampah berbasis masyarakat di Desa One Pute Jaya.

Untuk pengelolaan limbah, PT Vale menargetkan penerapan zero waste landfill. Sarjan mengatakan progres program tersebut saat ini telah mencapai sekitar 96 persen dan ditargetkan mulai beroperasi secara normal pada awal 2027 dengan teknologi pirolisis.

Dalam pengendalian debu dan emisi, perusahaan menerapkan pembatasan kecepatan kendaraan, pencucian kendaraan, penyiraman jalan hauling, pemasangan dust net di sejumlah ruas yang berdekatan dengan permukiman, serta penggunaan terpal pada truk pengangkut.

PT Vale juga mengembangkan fasilitas nursery di Morowali yang mulai beroperasi pada 2025. Fasilitas tersebut memiliki kapasitas sekitar 400.000 bibit per tahun, dengan desain maksimal hingga satu juta bibit.

“Kalau kebutuhan kami sekitar 150.000 sampai 170.000 bibit per tahun. Sisanya kami serahkan kepada pemerintah daerah, sekolah-sekolah ataupun masyarakat,” kata Sarjan.

Perusahaan juga melakukan reklamasi dan rehabilitasi lahan bekas tambang. Hingga Agustus 2026, sekitar 30 hektare telah direklamasi dan ditanami kembali di area tambang.

Kegiatan rehabilitasi turut dilakukan di sekitar sungai, termasuk Sungai Baho Panggala. PT Vale membangun sejumlah tanggul untuk mengurangi masuknya sedimentasi ke sungai serta melibatkan masyarakat dalam kegiatan rehabilitasi.TIN

Pos terkait