Untad Dorong Kampus Jadi Living Laboratory Energi

Sosialisasi Kebijakan Energi Nasional bersama Dewan Energi Nasional (DEN) di Aula Fakultas Kedokteran Untad, Kamis (17/9/2026). FOTO: DOK HUMAS UNTAD

TONDO, MERCUSUAR – Universitas Tadulako (Untad) mendorong penguatan peran perguruan tinggi dalam mendukung ketahanan dan transisi energi nasional melalui pengembangan kampus sebagai living laboratory energi.

Gagasan tersebut disampaikan Rektor Untad Prof. Dr. Ir. Amar, S.T., M.T., IPU., ASEAN Eng., saat membuka Sosialisasi Kebijakan Energi Nasional bersama Dewan Energi Nasional (DEN) di Aula Fakultas Kedokteran Untad, Kamis (17/9/2026).

Amar mengatakan persoalan energi berkaitan dengan ketahanan nasional, pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan masyarakat, lingkungan, dan masa depan generasi muda. Karena itu, perguruan tinggi perlu menjadi ruang pengembangan pengetahuan, teknologi dan inovasi energi.

“Sulawesi Tengah ke depan jangan hanya menjadi pengguna energi, tetapi juga menjadi pusat pengembangan pengetahuan dan teknologi energi,” ujarnya.

Untad menyiapkan sejumlah agenda, antara lain pengembangan energi terbarukan, efisiensi energi, penyimpanan energi, bioenergi, hidrogen, dan teknologi rendah karbon. Kampus juga diarahkan menjadi pusat literasi energi bagi masyarakat.
Dalam pengembangan living laboratory, Untad merencanakan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan solar roof pada sejumlah gedung kampus. Untad juga menyiapkan kerja sama pengoperasian sekitar 500 kendaraan listrik serta pengembangan sistem pengolahan sampah menjadi energi yang diawali dengan kapasitas 20 ton per hari.

Dalam forum tersebut, Kepala Biro Umum DEN Bambang Sujito memaparkan Kebijakan Energi Nasional berdasarkan PP Nomor 40 Tahun 2025. KEN menargetkan peningkatan bauran energi baru terbarukan menjadi 19–23 persen pada 2030 dan 70–72 persen pada 2060.

Sementara itu, Kepala Bidang EBT Dinas ESDM Sulteng, Subhan Basir, menyebut bauran energi daerah pada 2025 masih didominasi batubara sebesar 76,72 persen, sedangkan EBT mencapai 19,05 persen. Pemprov Sulteng menargetkan akses dan keandalan listrik mencapai 100 persen pada 2030 melalui perluasan jaringan serta pengembangan mikrohidro, energi surya dan mini grid.

Guru Besar Fakultas Teknik Untad, Prof. Dr. Ir. Daud Patabang, mengatakan perguruan tinggi memiliki peran dalam pendidikan, riset, inovasi, hilirisasi dan penyusunan kebijakan energi. Sejumlah riset Untad telah diarahkan pada PLTS, efisiensi energi, biomassa hingga pemanfaatan energi terbarukan untuk masyarakat.

Amar berharap sosialisasi tersebut menjadi awal penguatan kolaborasi Untad, DEN, pemerintah, industri dan masyarakat dalam riset, pemetaan potensi energi, pengembangan teknologi serta peningkatan literasi energi.

“Mari menjadikan Universitas Tadulako bukan hanya sebagai tempat belajar tentang masa depan energi, tetapi sebagai bagian dari solusi masa depan energi Indonesia,” katanya. */JEF

Pos terkait