TONDO, MERCUSUAR — Universitas Tadulako (Untad) kembali menambah satu program studi dengan predikat akreditasi “Unggul” pada tahun 2026. Dengan capaian tersebut, jumlah program studi berkategori unggul di Untad kini mencapai 35 program studi.
Program Studi Ekonomi dan Pembangunan Program Sarjana menjadi prodi terbaru yang memperoleh akreditasi “Unggul” dari Lembaga Akreditasi Mandiri Ekonomi Manajemen Bisnis dan Akuntansi (LAMEMBA) berdasarkan Keputusan Nomor 053/DE/A.5/LAMEMBA-U/IV/2026. Status akreditasi tersebut berlaku mulai 27 April 2026 hingga 27 April 2031.
Capaian itu dinilai menjadi bagian dari upaya Untad membangun budaya mutu secara berkelanjutan di lingkungan akademik. Predikat unggul diberikan setelah melalui asesmen menyeluruh terhadap berbagai aspek, mulai dari kualitas pembelajaran, kurikulum, sumber daya manusia, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, hingga sistem penjaminan mutu internal.
Rektor Untad, Prof. Dr. Ir. Amar, ST., MT mengatakan, penambahan program studi unggul menunjukkan proses peningkatan kualitas akademik di Untad berjalan ke arah yang positif.
“Penambahan satu program studi dengan kategori unggul di tahun 2026 menjadi capaian yang sangat membanggakan bagi Untad. Ini menunjukkan, upaya peningkatan kualitas akademik, tata kelola, penelitian, dan pelayanan pendidikan yang selama ini dilakukan telah berada pada jalur yang tepat,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi kontribusi seluruh sivitas akademika dalam mendukung peningkatan mutu pendidikan di lingkungan kampus.
Menurutnya, predikat unggul bukan sekadar pengakuan administratif, tetapi juga tanggung jawab untuk menjaga kualitas pendidikan dan pelayanan akademik kepada masyarakat.
Dengan total 35 program studi unggul, Untad menargetkan peningkatan daya saing lulusan sekaligus memperkuat kepercayaan publik terhadap kualitas pendidikan tinggi di Sulawesi Tengah. Kampus tersebut juga terus mendorong program studi lain mencapai akreditasi terbaik melalui penguatan tata kelola, inovasi pembelajaran, peningkatan kualitas riset, dan pengembangan kerja sama nasional maupun internasional.
Di sisi lain, capaian akreditasi unggul juga menuntut konsistensi. Banyak perguruan tinggi mampu mencapai status unggul dalam asesmen administratif, tetapi menghadapi tantangan dalam menjaga kualitas riil di tingkat pembelajaran, riset, dan relevansi lulusan terhadap kebutuhan sosial maupun pasar kerja. Karena itu, indikator keberhasilan berikutnya bukan hanya jumlah prodi unggul, melainkan dampak konkret terhadap kualitas lulusan, produktivitas riset, dan kontribusi kampus terhadap pembangunan daerah. */JEF






