Oleh: Temu Sutrisno
Kenaikan nilai dolar Amerika Serikat hampir selalu menghadirkan kepanikan, terutama di kalangan masyarakat kelas menengah ke atas yang selama ini menikmati berbagai produk dan layanan berbasis impor. Mulai dari gawai premium, kendaraan, kosmetik, barang mewah, hingga destinasi wisata luar negeri, sebagian besar bergantung pada mata uang asing. Ketika dolar menguat dan rupiah melemah, biaya gaya hidup tersebut otomatis meningkat.
Namun, di balik gejolak kurs, tersimpan momentum penting untuk melakukan refleksi nasional. Sudah saatnya kita menagih cinta kepada negeri ini dari mereka yang selama ini menikmati kekayaan dan sumber daya bangsa. Cinta kepada Indonesia tidak cukup diwujudkan melalui slogan atau unggahan media sosial, tetapi melalui pilihan ekonomi yang nyata. Saatnya menggunakan, mendukung, dan membanggakan produk dalam negeri.
Pelemahan rupiah terhadap dolar sebenarnya bukan fenomena baru. Siklus ini berulang dari waktu ke waktu sebagai dampak dinamika ekonomi global. Hal yang menjadi persoalan adalah ketika sebagian masyarakat terlalu bergantung pada produk impor sehingga setiap kenaikan dolar langsung memukul daya beli dan menimbulkan kepanikan.
Padahal, kondisi seperti ini justru mengajarkan pentingnya kemandirian ekonomi. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengelola keuangan dengan lebih bijak. Dana darurat perlu diperkuat agar mampu menghadapi kenaikan harga kebutuhan. Pengeluaran tersier yang tidak mendesak dapat ditunda, terutama untuk barang-barang impor yang nilainya sangat dipengaruhi kurs. Dalam situasi seperti sekarang, menjaga arus kas yang sehat jauh lebih penting daripada mengejar gengsi konsumsi.
Selain itu, masyarakat perlu menyusun kembali prioritas belanja. Kebutuhan pokok seperti pangan, kesehatan, pendidikan, dan transportasi harus menjadi fokus utama. Kebiasaan berutang untuk memenuhi gaya hidup konsumtif, terutama melalui fasilitas kredit instan dan paylater, perlu dikurangi. Ketika kurs berfluktuasi, kemampuan mengendalikan pengeluaran menjadi benteng pertahanan yang paling efektif.
Lebih dari itu, penguatan ekonomi nasional hanya dapat terwujud jika masyarakat semakin percaya pada produk dalam negeri. Selama bertahun-tahun kita sering terjebak pada anggapan bahwa produk impor selalu lebih baik. Padahal, kenyataannya banyak produk lokal kini mampu bersaing bahkan melampaui kualitas barang luar negeri.
Indonesia banyak memiliki ragam kuliner yang patut dicoba. Sebut saja Kopi Kamanuru, Kulawi, Kojo dari Sulawesi Tengah dapat dijadikan tuan rumah bagi penikmat kopi, hingga mendorong produk tersebut seperti kopi dari Gayo, Toraja, dan Lampung telah diakui dunia. Beragam kenikmatan kuliner dari seluruh daerah yang kaya citarasa, dapat dijadikan destinasi wisata kuliner. Jika di negeri sendiri ada, kenapa sok-sokan bangga dan memburu kuliner luar, yang bisa jadi asing bagi lidah kita?
Industri fesyen brand lokal dari berbagai kota kreatif terus berkembang dengan kualitas yang semakin baik. Produk kosmetik lokal berhasil menembus pasar internasional. Furnitur Jepara menjadi kebanggaan Indonesia di berbagai negara. Ketika masyarakat memilih produk-produk tersebut, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh konsumen melalui harga yang lebih stabil, tetapi juga oleh jutaan pekerja, pelaku UMKM, dan keluarga yang menggantungkan hidup pada sektor tersebut.
Pilihan menggunakan produk lokal sesungguhnya merupakan keputusan ekonomi yang rasional. Ketergantungan terhadap barang impor membuat perekonomian rentan terhadap gejolak eksternal. Sebaliknya, semakin besar konsumsi produk domestik, semakin kuat fondasi ekonomi nasional.
Semangat yang sama juga berlaku dalam sektor pariwisata. Setiap tahun, triliunan rupiah devisa mengalir keluar negeri karena wisata warga Indonesia. Padahal, negeri ini memiliki ribuan destinasi yang tidak kalah indah. Dari Wakatobi hingga Labuan Bajo dan Togean, dari Raja Ampat hingga Danau Toba dan Danau Poso, Indonesia menyimpan kekayaan alam dan budaya yang luar biasa. Wisata alam, wisata sejarah, hingga kuliner tak kalah dari destinasi luar negeri. Ketika masyarakat memilih berwisata di dalam negeri, uang yang dibelanjakan akan berputar di daerah, menghidupkan usaha kecil, membuka lapangan kerja, dan memperkuat ekonomi lokal.
Bagi para investor, situasi pelemahan rupiah juga perlu disikapi secara bijaksana. Menimbun dolar hanya karena takut ketinggalan tren sering kali lebih didorong oleh kepanikan daripada perhitungan yang matang. Spekulasi valuta asing memiliki risiko tinggi dan tidak selalu memberikan keuntungan. Sebaliknya, instrumen investasi domestik seperti Surat Berharga Negara (SBN), emas, maupun berbagai instrumen berbasis rupiah dapat menjadi pilihan yang lebih stabil dan produktif.
Sementara itu, bagi pelaku usaha, penguatan dolar tidak selalu menjadi kabar buruk. Produk Indonesia justru menjadi lebih kompetitif di pasar internasional karena harga jualnya relatif lebih murah bagi pembeli luar negeri. Ini adalah kesempatan bagi UMKM dan eksportir untuk memperluas pasar dan meningkatkan daya saing global. Tantangannya adalah bagaimana meningkatkan kualitas, memperkuat pemasaran, dan memanfaatkan teknologi untuk menjangkau konsumen internasional.
Pada akhirnya, cinta terhadap produk dalam negeri bukanlah bentuk nasionalisme yang berlebihan. Ini adalah pilihan cerdas untuk memperkuat ekonomi bangsa sekaligus melindungi kepentingan pribadi. Setiap rupiah yang dibelanjakan untuk produk lokal membantu menjaga lapangan kerja, menggerakkan roda usaha, dan mengurangi tekanan terhadap mata uang nasional.
Mungkin kita tidak bisa sepenuhnya meninggalkan produk impor. Namun, tidak ada salahnya memulai dari langkah sederhana. Mengganti sebagian kebutuhan dengan produk lokal, berbelanja di UMKM sekitar, mempromosikan produk karya anak bangsa, serta memilih destinasi wisata domestik adalah bentuk kontribusi nyata yang bisa dilakukan siapa saja.
Dolar boleh menguat dan rupiah boleh menghadapi tekanan. Namun, yang tidak boleh melemah adalah kepercayaan kita terhadap kemampuan bangsa sendiri. Sebab kekuatan ekonomi nasional pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh kurs mata uang, melainkan juga oleh kecintaan rakyat menggunakan dan membela hasil karya negeri sendiri. ***
Penulis adalah Wartawan Mercusuar-Trimedia Grup, Sekretaris PWI Sulteng






