Piala Dunia dan Kembalinya Publik ke Layar Televisi 

Oleh: Andi Kaimuddin

Piala Dunia FIFA 2026 telah berakhir dan menjadi peristiwa yang melampaui sekadar pertandingan sepak bola. Ia adalah momentum yang menyatukan perhatian masyarakat dunia, termasuk Indonesia. Di tengah derasnya arus media digital, media sosial, dan layanan streaming, Piala Dunia justru menghadirkan fenomena menarik: masyarakat kembali berkumpul di depan layar televisi. Ruang keluarga kembali hidup, warung kopi dipenuhi penonton, dan nonton bareng menjadi tradisi yang menguatkan kebersamaan.

Hampir semua ruang publik membicarakan pertandingan yang sudah berlangsung dan memprediksi pertandingan yang akan berlangsung. Bahkan terlihat kepala-kepala daerah muncul diberbagai platform media sosial melontarkan opini dan alasan dukungan terhadap tim negara yang menjadi jagoannya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa televisi belum kehilangan relevansinya sebagai media publik. Berbeda dengan media digital yang cenderung bersifat individual dan dipersonalisasi melalui algoritma, televisi menghadirkan pengalaman kolektif. Ketika gol tercipta, jutaan orang bersorak pada detik yang sama. Ketika peluit akhir dibunyikan, rasa bangga maupun kecewa dirasakan secara serentak. Inilah kekuatan penyiaran yang hingga kini sulit tergantikan.

Data Nielsen Indonesia memperkuat fenomena tersebut. Melalui perluasan sistem pengukuran audiens, Nielsen kini merepresentasikan sekitar 135 juta penonton televisi di kawasan urban Indonesia. Angka ini menunjukkan bahwa televisi masih memiliki jangkauan yang sangat besar dan tetap menjadi media utama masyarakat dalam menikmati siaran langsung, khususnya peristiwa olahraga berskala global seperti Piala Dunia.

Momentum ini sekaligus mengingatkan bahwa fungsi penyiaran tidak sekadar menyampaikan hiburan. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran menegaskan bahwa penyiaran berfungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan yang sehat, kontrol sosial, serta perekat sosial. Piala Dunia menjadi contoh nyata bagaimana fungsi tersebut bekerja. Tayangan sepak bola tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga mempertemukan masyarakat dalam satu ruang emosional yang sama, tanpa memandang usia, profesi, maupun latar belakang.

Di sinilah pentingnya kualitas penyiaran. Penonton tidak hanya membutuhkan gambar yang jernih dan suara yang baik, tetapi juga informasi yang akurat, komentar yang profesional, serta tayangan yang menghormati etika penyiaran. Lembaga penyiaran memiliki tanggung jawab menghadirkan siaran yang tidak hanya menarik, tetapi juga memberikan nilai edukatif melalui pembahasan sportivitas, disiplin, kerja sama tim, serta penghormatan terhadap aturan permainan.

Piala Dunia juga membuka ruang bagi lembaga penyiaran untuk memperkaya wawasan masyarakat melalui program pendukung. Ulasan taktik pertandingan, profil negara peserta, budaya masyarakat dunia, hingga kisah inspiratif para pemain dapat menjadikan sepak bola sebagai sarana pendidikan karakter. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menikmati pertandingan, tetapi juga memperoleh pengetahuan dan nilai-nilai positif yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Fenomena meningkatnya kembali perhatian masyarakat terhadap televisi juga memperlihatkan bahwa kepercayaan publik terhadap media penyiaran masih tinggi. Di tengah derasnya informasi yang beredar di media sosial, televisi tetap mengedepankan proses jurnalistik, verifikasi informasi, dan tanggung jawab penyiaran. Kepercayaan inilah yang menjadi modal utama industri penyiaran untuk terus bertahan di era digital.

Secara global, FIFA melaporkan bahwa pertandingan-pertandingan Piala Dunia 2026 berhasil menarik puluhan juta pemirsa televisi di berbagai negara. Bahkan, di sejumlah negara, pertandingan Piala Dunia menjadi tayangan dengan jumlah penonton terbesar sepanjang tahun. Fakta ini menunjukkan bahwa ketika masyarakat mencari pengalaman menonton secara bersama, televisi tetap menjadi pilihan utama.

Pada akhirnya, euforia Piala Dunia mengajarkan bahwa di tengah perubahan teknologi, manusia tetap membutuhkan ruang kebersamaan. Televisi bukan sekadar perangkat elektronik, melainkan medium yang menghadirkan pengalaman kolektif, memperkuat ruang publik, dan menyatukan masyarakat dalam satu momen yang sama. Momentum ini menjadi pengingat bagi seluruh pemangku kepentingan penyiaran untuk terus menjaga kualitas siaran, menjunjung etika penyiaran, serta beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa meninggalkan kepentingan publik. Karena setiap Piala Dunia bukan hanya menghidupkan gairah sepak bola, tetapi juga menegaskan bahwa televisi masih memiliki peran strategis sebagai media pemersatu bangsa.

Ayo, kembali menonton Televisi..!!

***

Penulis adalah Ketua KPID Sulawesi Tengah

Pos terkait