Dr Hj Mardiati Rosmah S Ag M Ag, tidak akan melupakan momen tanggal 12 Agustus 2026 lalu, betapa tidak, Kepala Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia (MAN IC) Kota Palu, resmi menyandang gelar doktor, atau kasta tertinggi dalam strata akademik, setelah berhasil mempertahankan disertasinya, berjudul Sinergitas Pendidikan Pondok Pesantren dan Lingkungan Keluarga, Dalam Pembentukan Karakter Santri Islamic Boarding School Ma’had Darul Muhsinin MAN 2 Kota Palu, di hadapan penguji, yang dipimpin oleh Prof Dr H Lukman Thahir M Ag, sekretaris sidang, Prof H Nurdin S Pd S Sos M Cum Phd, dengan penguji internal I, Prof Dr Zainal Abidin MAg, penguji internal II, Dr Ubay Harun S Ag MSi, serta penguji eksternal, Dr Dra Hj Sutrisnawati M Kes.
“Dalam proses ini, tentunya, saya tidak akan meraih nilai yang memuaskan, dan gelar doktor saya, tanpa Ridha dari Allah SWT, serta keluarga terdekat saya, serta dua sosok lainnya, yakni promotor saya, Prof Dr Hamlan M Ag dan c.o promotor, Prof Dr Mohammad Idhan S Ag M Ag,” urai Perempuan yang akrab disapa Umi, kepada Mercusuar, Selasa (15/9/2026)
Menurut Mardiati, perjalannya mencapai gelar tersebut, tentunya juga tidak terlepas dari dukungan yang diberikan oleh keluarganya, yang terus memberikan support, dalam suka maupun duka, bahkan disaat dirinya merasakan lelah dalam proses menuju ujian terbuka promosi doktor, Program Studi Pendidikan Agama Islam, Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu, keluarganya terus memberikan penguatan, sehingga dirinya terus bangkit melanjutkan prosesnya hingga akhir.
“Juga mereka, yang tidak kenal lelah, terus memberikan dukunga, yaitu Civitas Akademika MAN IC Kota Palu, yang memberika dukungannya, termasuk doa-doa mereka, yang pada akhirnya melancarkan prosesnya ini,” ungkap Mardiati.
Dari gelar doktor yang disandangnya tersebut, menahbiskan dirinya, sosok yang kedua, memimpin lembaga pendidikan di Kementrian Agama setingkat Madrasah Aliyah di Sulteng, dan yang lebih hebatnya lagi, satu-satunya wanita bergelar doktor, yang menjadi kepala madrasah di lingkungan Kemenag Sulteng.
“Diatas langit masih ada langit, ilmu yang saya dapatkan, masih tergolong sedikit, dibandingkan dengan orang. Setidaknya, saya terus mengamalkan ilmu yang saya dapatkan ini, untuk kemajuan dunia pendidikan di lingkungan Kemenag dan Sulteng,” pungkasnya merendah. (MBH)






