SIGI, MERCUSUAR – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sigi bersama Konsorsium KOLABORASI (Lingkungan Adaptif, Berketahanan, Inovatif, dan Partisipatif) resmi meluncurkan Program Adaptasi Perubahan Iklim Kabupaten Sigi 2026–2028, di Aula Kantor Bupati Sigi, Senin (18/5/2026).
Konsorsium KOLABORASI terdiri dari Koaksi Indonesia, Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL), Water Stewardship Indonesia (WSI), dan Earth Innovation Institute (EII). Program tersebut bertujuan memperkuat ketahanan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim, khususnya di wilayah pedesaan dan sektor pertanian.
Program Adaptasi Perubahan Iklim dirancang untuk memperkuat ketahanan masyarakat Kabupaten Sigi, terutama kelompok rentan dan petani, melalui tiga pilar utama. Pertama, penguatan enabling environment untuk mendukung implementasi kebijakan adaptasi iklim di tingkat daerah. Kedua, penerapan pendekatan Water, Energy, Food (WEF) Nexus di tingkat desa. Ketiga, pengembangan pusat pembelajaran (center of excellence) adaptasi perubahan iklim di tingkat kabupaten.
Program tersebut menargetkan lebih dari 1.500 penerima manfaat yang tersebar di enam desa, yakni Bangga, Pandere, Pakuli Utara, Sambo, Simoro, dan Wisolo.
Dalam sambutannya, Bupati Sigi, Mohamad Rizal Intienae menilai program tersebut menjadi oase, di tengah keterbatasan fiskal daerah dalam upaya memperkuat kebijakan lingkungan.
“Program ini menjadi oase bagi pemerintah daerah untuk tetap mendorong kinerja dan kebijakan iklim di Kabupaten Sigi. Kolaborasi seperti ini membuktikan bahwa solusi konkret dapat dihadirkan untuk masyarakat di tingkat tapak,” ujar Rizal.
Ia juga menegaskan bahwa Kabupaten Sigi merupakan wilayah yang rentan terhadap dampak perubahan iklim, terutama banjir dan kekeringan yang berdampak langsung pada sektor pertanian.
Direktur Adaptasi Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup, Franky Zamzani yang hadir secara daring menegaskan pemerintah mendorong pendekatan adaptasi iklim, yang tidak hanya berbasis kebijakan nasional, tetapi juga berakar pada kebutuhan masyarakat lokal.
“Program di Sigi ini menjadi contoh bagaimana kolaborasi lintas sektor dapat menghadirkan solusi yang konkret dan terukur,” ujar Franky.
Sementara itu, Program Manager Environment and Sustainable Governance Kemitraan untuk Pembaruan Tata Kelola, Willy Wicaksono menekankan pentingnya program tersebut sebagai model pemanfaatan pendanaan iklim internasional yang inklusif dan tepat sasaran. Ia menyebut, program di Sigi mampu menjangkau masyarakat yang paling membutuhkan melalui pendekatan berkelanjutan.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Koaksi Indonesia, Aria Nagasastra menyampaikan pendekatan Water, Energy, Food (WEF) Nexus menjadi langkah penting untuk memastikan ketahanan air, energi, dan pangan berjalan secara terpadu. Selain itu, Forum Kemitraan Multipihak Sigi Hijau (FKPM) diharapkan dapat memperkuat koordinasi lintas pemangku kepentingan dalam mendukung keberhasilan implementasi program.
Program tersebut akan berlangsung hingga April 2028. Selain peluncuran program, turut dilaksanakan penandatanganan MoU antara Pemkab Sigi dan Koaksi Indonesia selaku lead consortium. MoU tersebut ditandatangani langsung oleh Bupati Sigi dan Direktur Eksekutif Koaksi Indonesia sebagai bentuk komitmen bersama dalam pelaksanaan program. AJI






