PALU, MERCUSUAR – Jam dinding berdiameter 19,5 meter yang menempel di Masjid Raya Baitul Khairaat berfungsi kembali, setelah dilakukan perbaikan secara maraton oleh teknisi dari PT Yasa Persada Nusantara sebagai vendor jam analog terbesar di Indonesia.
“Alhamdulillah, PT Yasa Persada Nusantara, telah mengirimkan tiga teknisinya untuk perbaikan jam, yang dilakukan terhitung sejak tanggal 7 Agustus 2026 lalu dan bekerja selama lima hari,” kata Kepala Dinas Cipta Karya dan Sumber Daya Air (Cikasda) Sulteng, Andi Ruli Djanggola kepada Mercusuar, Rabu (12/8/2026).
Teknisi yang bekerja melakukan perbaikan dan penggantian alat berupa gear bearing yang rusak, agar jam kembali berfungsi secara normal. Pekerjaan diupayakan secara cepat, terukur dan mejaga kualitas hasil, hingga manfaat jam dinding yang menjadi ikon warga Sulteng itu bisa dirasakan kembali oleh masyarakat.
Andi Ruli menyebut kerusakan jam Masjid Raya Baitul Khairaat akibat gempa bumi M6,7 yang terjadi pada 16 Juni 2026 lalu. Guncangan gempa ang mengakibatkan gear-nya bergeser, serta ada komponen yang mengalami kerusakan parah, sehingga pergerakan kedua jarum di jam analog terbesar kelima di dunia itu berhenti.
Andi Ruli mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan, sehingga proses perbaikan berjalan lancar. Begitu pula dengan vendor PT Yasa Persada Nusantara, yang berkomitmen untuk menjaga dan memperbaiki kondisi jam yang terkoneksi dengan sistem waktu internasional.
Ia menegaskan, jam dinding yang terpasang di Masjid Raya memiliki peranan penting dalam menjaga waktu, baik saat masuknya waktu salat, maupun menjadi pemandu waktu bagi warga Kota Palu.
“Ini juga berkat doa dan dukungan masyarakat Sulteng, yang terus menjaga keberadaan Masjid Raya dan jam ikoniknya. Insyaallah, ini akan terus menjadi kebangaan warga Sulteng,” tutup Andi Ruli. MBH







