Kakanwil Kemenag Sulteng Ajak Verifikasi Serentak Arah Kiblat

Junaidin

PALU, MERCUSUAR – Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Sulteng, Dr. H. Junaidin mengajak seluruh elemen umat Islam, untuk berpartisipasi aktif dalam gerakan nasional “Indonesia Berkiblat” dengan memanfaatkan fenomena astronomi Rashdul Kiblat, yang diprediksi berlangsung pada tanggal 15—16 Juli 2026.

Rashdul Kiblat merupakan momen astronomis ketika posisi matahari berada tepat di atas Ka’bah, Makkah. Pada waktu tersebut, bayangan dari benda tegak lurus di belahan bumi manapun yang mendapat sinar matahari akan mengarah langsung atau membelakangi arah Ka’bah.

Hal itu, jelas Junaidin, memberikan kesempatan bagi umat Islam untuk memverifikasi dan menyelaraskan kembali arah kiblat tempat ibadah, maupun rumah masing-masing dengan sangat akurat.

Junaidin yang juga pelopor penggerak “Indonesia Berkiblat” menginstruksikan seluruh jajaran Kemenag hingga tingkat kecamatan untuk mengawal penuh gerakan tersebut.

“Kami berharap umat Islam di Sulawesi Tengah dapat memaksimalkan fenomena alam yang langka dan luar biasa ini. Mari kita ukur kembali dan pastikan akurasi arah kiblat di tempat ibadah kita baik Masjid, Musala, rumah, maupun ruang-ruang yang biasa kita gunakan untuk menegakkan salat lima waktu,” ujar Junaidin.

Sementara itu, Plt. Kepala Bidang Bibingan Masyarakat Islam (Bimas Islam) Kanwil Kemenag Sulteng, Taufik menjelaskan bahwa ​nasyarakat tidak perlu memerlukan alat canggih atau teknologi rumit untuk melakukan verifikasi pada momen Rashdul Kiblat. Proses kalibrasi dapat dilakukan menggunakan metode bayangan matahari yang sangat sederhana namun memiliki tingkat akurasi tinggi.

Pertama, siapkan alat seperti tiang, tongkat lurus, atau benang dengan bandul pemberat, yang diposisikan benar-benar tegak lurus (vertikal) di atas permukaan tanah datar.

Kedua, cari area terbuka. Pastikan alat diletakkan di area datar yang tersinari langsung cahaya matahari tanpa terhalang bayangan pohon atau bangunan.

Ketiga, amati bayangan. Pada waktu Rashdul Kiblat yang telah ditentukan (secara nasional umumnya sekira pukul 16.27 WIB atau 17.27 WITA, amati arah bayangan yang terbentuk dari alat yang digunakan.

Terakhir, ​tarik garis kiblat. Tarik garis lurus searah dengan bayangan alat. Arah bayangan yang mengarah ke arah datangnya sinar matahari itulah yang menjadi jalur lurus presisi menuju Ka’bah.

“Gerakan serentak “Indonesia Berkiblat” ini diharapkan menjadi momentum edukasi astronomi Islam atau ilmu falak, sekaligus pemersatu umat dalam menyempurnakan kualitas ibadah harian. */IEA

Pos terkait