PALU, MERCUSUAR – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulteng tengah mengembangkan platform digital yakni aplikasi “Satu Harga” untuk memperkuat pengendalian inflasi.
Wakil Gubernur Sulteng, Reny A. Lamadjido mengatakan aplikasi tersebut merupakan tindak lanjut program BERANI Murah, yang bertujuan memastikan keseragaman harga dan kestabilan pasokan bahan pokok di seluruh wilayah Sulteng.
Hal itu disampaikan Reny, saat memimpin rapat koordinasi Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), di Ruang Polibu Kantor Gubernur Sulteng, Kamis (9/7/2026).
Menurut Reny, fitur Early Warning System (EWS) yang terintegrasi dalam aplikasi dapat membantu TPID mengetahui potensi inflasi yang dipicu oleh komoditas strategis, sehingga dapat menentukan langkah pencegahan sejak dini.
“Supaya teman-teman TPID bisa lebih cepat bertindak,” tegas Reny.
Ia juga mengajak seluruh TPID Provinsi dan Kabupaten/Kota untuk mendorong peningkatan produksi komoditas strategis penyumbang inflasi, seperti cabai. Reny menginstruksikan pembagian bibit cabai ke masyarakat, agar dapat menggunakan pekarangan rumah sebagai area tanam produktif.
Selain itu, ia memandang optimalisasi Gerakan Pangan Murah dan Pasar Murah dapat berpengaruh signifikan dalam menekan harga ketika mulai menunjukkan tren kenaikan.
Sementara upaya kerja sama antardaerah juga harus diperkuat, untuk menjaga ketahanan pasokan pangan, khususnya beras di Sulteng, sebagai salah satu daerah penghasil beras di Sulawesi.
“Dahulukan dulu kebutuhan lokal kita terpenuhi baru dikirim ke daerah lain,” tandas Reny. */IEA






