Menanti Langkah Nyata Perbaikan Ekonomi

Ilustrasi

Optimisme Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa terhadap IHSG layak diapresiasi. Di tengah tekanan global yang sempat menekan indeks ke 5.900, pernyataannya bahwa “minggu depan sudah lari kencang” memberi harapan. Jumat lalu IHSG memang ditutup menguat 1,10 persen ke 6.162,05, ditopang rebound sektor energi dan barang baku. LQ45 ikut naik 0,66 persen. Sinyal teknikal mulai membaik.

Namun pasar saham bukan arena keyakinan semata. Investor butuh kepastian bahwa penguatan ini berpijak pada fondasi ekonomi yang kokoh, bukan sekadar pantulan teknikal. Di sinilah ujian pemerintah: mampu menerjemahkan optimisme jadi kebijakan konkret yang dirasakan dunia usaha dan masyarakat.

Logika Purbaya sederhana dan benar. Jika ekonomi membaik, profitabilitas perusahaan naik, maka harga saham seharusnya ikut menguat. “Tidak mungkin kalau perusahaannya untung, sahamnya jatuh,” ujarnya. Pernyataan itu mengingatkan bahwa IHSG adalah cermin kondisi riil, daya beli, investasi, kepastian hukum, dan efisiensi birokrasi.

Masalahnya, cermin itu belakangan kusam. IHSG tertekan karena ketidakpastian arah fiskal, kekhawatiran defisit APBN, pelemahan rupiah, dan aliran dana asing keluar. Rebound Jumat melegakan, tapi satu hari hijau belum cukup menghapus keraguan investor yang sudah hati-hati.

Kepercayaan pasar dibangun dari konsistensi, bukan konferensi pers. Menyebut fundamental tetap baik adalah langkah awal. Langkah berikutnya adalah membuktikan. Ada tiga hal mendesak.

Pertama, kepastian fiskal. Pasar perlu melihat jelas bagaimana pemerintah menjaga defisit terkendali tanpa mengorbankan belanja produktif. Postur APBN harus kredibel. Kedua, dorongan investasi. Perizinan berbelit, tumpang tindih regulasi, dan inkonsistensi daerah masih jadi ganjalan. Deregulasi tidak boleh berhenti di slogan. Ketiga, perlindungan daya beli. Inflasi terkendali saja tidak cukup jika pendapatan riil stagnan. Program padat karya, penguatan UMKM, dan stabilisasi pangan harus berjalan bersamaan.

Tanpa tiga pilar itu, optimisme berisiko dianggap retorika. Pasar modal akan kembali goyah saat ada guncangan eksternal baru. Siklus ini sudah berulang. IHSG rebound, pemerintah optimis, lalu terkoreksi ketika data riil tak membaik.

Konteks global juga menuntut kewaspadaan. Bank sentral negara maju masih menahan suku bunga tinggi, harga komoditas berfluktuasi, dan tensi geopolitik belum mereda. Ekonomi domestik harus punya bantalan kuat. Mengandalkan sentimen saja ibarat berlayar tanpa jangkar.

Karena itu publik menanti langkah nyata, bukan sekadar pernyataan bahwa IHSG akan rebound “tinggal tunggu waktu”. Pasar bisa menunggu, tapi tidak tanpa batas. Waktu terbuang tanpa aksi kebijakan akan mengikis kepercayaan yang susah dibangun.

Pemerintah punya instrumen. Koordinasi antara Kemenkeu, Bank Indonesia, dan OJK harus lebih rapat. Paket stimulus sektoral tepat sasaran bisa mempercepat pemulihan. Komunikasi kebijakan juga harus lebih jernih agar tidak menimbulkan tafsir ganda yang menambah volatilitas.

IHSG di 6.162 adalah kabar baik. Tapi angka itu baru bermakna jika diikuti perbaikan di sektor riil: pabrik menambah shift, toko ramai pembeli, investor berani menambah modal. Jika tidak, penguatan kali ini hanya jadi pemantul sementara.

Tugas pemerintah sekarang bukan meyakinkan pasar bahwa ekonomi baik-baik saja. Tugasnya membuat ekonomi benar-benar baik, sehingga pasar dengan sendirinya ikut menguat. Optimisme boleh disampaikan. Tapi yang dinanti rakyat dan investor adalah langkah nyata dan bukti ekonomi benar-benar baik. TMU

Pos terkait