KAMONJI, MERCUSUAR — Sebanyak 25 anggota kelompok budidaya madu trigona di Dusun Tamanjeka, Desa Masani, Kabupaten Poso, mengikuti pelatihan budidaya dan pembuatan propolis, Minggu (6/9/2026). Kegiatan ini diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah hasil budidaya dan kemandirian ekonomi kelompok.
Pelatihan dilaksanakan Yayasan Sikola Mombine bersama LPMS Poso dengan dukungan Sasakawa Peace Foundation, serta melibatkan dosen Fakultas Kehutanan Universitas Tadulako sebagai narasumber.
Direktur LPMS Poso, Endri, mengatakan kelompok didorong tidak hanya mengandalkan penjualan madu, tetapi juga mengembangkan produk turunannya.
“Pelatihan ini semata-mata bertujuan untuk memberikan peningkatan ekonomi bagi kelompok. Kami ingin hasil dari budidaya madu trigona tidak berhenti hanya pada produksi madu, tetapi turunan dari madu tersebut juga bisa diolah sehingga memiliki nilai tambah,” ujarnya.
Salah satu materi utama adalah pemanfaatan sarang yang tersisa setelah pemanenan madu untuk diolah menjadi propolis. Peserta juga mempelajari pemeliharaan koloni, pengelolaan sarang, pemanenan, dan pemanfaatan hasil samping secara berkelanjutan.
Taufik Hidayat dari Yayasan Sikola Mombine mengatakan pelatihan tersebut merupakan tindak lanjut atas kebutuhan yang disampaikan kelompok. Menurutnya, penguatan keterampilan pengolahan produk turunan dapat membuka sumber pendapatan baru bagi anggota kelompok.
“Harapannya, kelompok tidak hanya mampu menghasilkan madu, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mengembangkan produk turunannya,” katanya.
Melalui kolaborasi lembaga pendamping dan perguruan tinggi tersebut, kelompok budidaya trigona di Tamanjeka diharapkan mampu mengoptimalkan seluruh hasil budidaya, meningkatkan nilai tambah produk, dan memperkuat pendapatan ekonomi keluarga. */JEF






