PALU, MERCUSUAR – Institut Leimena bersama Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu melaksanakan Hybrid Upgrading Workshop (HUW) atau Lokakarya Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) bagi para guru, di salah satu hotel di Palu, Jumat (18/9/2026).
Kegiatan yang diikuti sebanyak 40 guru, Wakil dan Kepala Sekolah lintas agama, yang berasal dari berbagai daerah di Sulteng dan Sulawesi Barat tersebut, bertujuan memperkuat kemampuan pendidik, dalam mengintegrasikan nilai-nilai keberagaman dan penghormatan terhadap perbedaan ke dalam pembelajaran di sekolah.
“Pengalaman Sulawesi Tengah, dalam menghadapi ketegangan sosial yang berdimensi keagamaan menjadi pengingat, bahwa toleransi dan kohesi sosial bukan sesuatu yang otomatis terwariskan, melainkan perlu terus dirawat, khususnya melalui pendidikan,” kata Direktur Program Institut Leimena, Daniel Adipranata, dalam Sesi Pembukaan Lokakarya LKLB di Palu, Jumat (18/9/2026).
Daniel menjelaskan, Lokakarya LKLB adalah pelatihan lanjutan khusus bagi alumni Program LKLB, yaitu guru yang sebelumnya telah lulus pelatihan dasar LKLB selama sepekan secara daring. Para guru didampingi untuk menerjemahkan nilai-nilai LKLB ke dalam praktik pembelajaran dan program sekolah.
“Toleransi tidak bisa hanya diajarkan sebatas pengetahuan, tapi harus dialami langsung lewat interaksi dengan orang yang berbeda agama. Itu sebabnya, lokakarya ini dirancang untuk diikuti guru alumni LKLB lintas agama. Di hari kedua, mereka juga akan melakukan kunjungan ke rumah ibadah sebagai ruang perjumpaan dan dialog lintas iman,” tutur Daniel.
Ia menyebut, melalui Lokakarya tersebut, para peserta juga didorong dan dilengkapi keterampilan untuk membuat rancangan pembelajaran atau modul ajar yang berbasis LKLB, untuk dapat diajarkan pada apapun mata pelajaran yang diampu di sekolah atau madrasah masing-masing.
Institut Leimena telah menginisiasi program LKLB sejak 2021 bersama sedikitnya 40 mitra lembaga pendidikan dan organisasi keagamaan. Jumlah guru alumni LKLB telah mencapai lebih dari 12.000 orang dari 38 provinsi di Indonesia, di antaranya 859 guru berasal dari Provinsi Sulteng.
Program LKLB membekali pendidik dengan tiga kompetensi utama untuk hidup dalam masyarakat majemuk yaitu pribadi, komparatif, dan kolaboratif.
“Kompetensi pribadi yaitu bagaimana seseorang mengenal agamanya dalam memandang relasi dengan sesama manusia yang berbeda. Kompetensi komparatif, yaitu mengenal agama lain dari sudut pandang pemeluk agama itu sendiri. Sedangkan kompetensi kolaboratif, yaitu mendorong kerja sama diantara komunitas berbeda agama demi tujuan kebaikan bersama,” jelas Daniel.
Ia berharap, pendekatan LKLB dapat mendorong tumbuhnya sikap saling menghormati sejak usia dini, mengurangi prasangka lintas agama, serta menciptakan ruang belajar yang aman dan nyaman bagi peserta didik dari latar belakang agama dan budaya yang berbeda.

Hadir sebagai salah seorang narasumber, Rektor UIN Datokarama Palu, Prof. Dr. H. Lukman Tahir menyampaikan terima kasih kepada Institut Leimena, yang telah menyasar kelompok guru untuk diberikan penguatan terkait LKLB.
“Guru merupakan garda terdepan dalam menjaga pemahaman terkait keberagaman kepada anak-anak, agar betul-betul memahami dan merasakan langsung, bawha keberagaman adalah keniscayaan,” kata Lukman.
Menurutnya, toleransi terhadap keberagaman akan kehilangan makna jika hanya bertahan pada tataran konsep. Sehingga, hal itu harus dapat dihadirkan dalam kehidupan nyata, salah satunya melalui peran guru dalam pembelajaran di lembaga-lembaga pendidikan.
Ia juga mencontohkan hal yang berlaku di UIN Datokarama Palu, yang disebutnya sebagai miniatur Indonesia, yakni hadirnya civitas akademika yang berasal dari berbagai latar belakang berbeda namun tetap harmonis.
“Kampus menjadi ruang akademik yang damai bagi semua,” tegas Lukman.
Selain Rektor UIN Datokarama, lokakarya tersebut juga menghadirkan sejumlah narasumber lainnya, yakni Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Sulteng, Dr. H. Junaidin, Guru Besar Ilmu Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Dr. Hj. Inayah Rohmaniyah, serta Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulteng, Firmanza. IEA






