PARIGI MOUTONG, MERCUSUAR – SMAN 1 Sausu membawa pesan lingkungan terkait burung Maleo yang berada di ambang kepunahan, ke ajang pentas nasional Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N).
Salah seorang murid SMAN 1 Sausi, Eka Aprilia Pratiwi, menyabet predikat terbaik pertama kategori penyanyi solo mengalahkan Kabupaten Poso dan Kota Palu, pada ajang tersebut di tingkat Provinsi Sulteng.
“Isu burung Maleo di ambang kepunahan menjadi sebuah pesan kuat, yang coba kami sampaikan dalam ajang yang pertama kali kami ikuti. Karena ini akan disaksikan warga Indonesia, maka Maleo harus kami gaungkan,” ujar Plt. Kepala SMAN 1 Sausu, Ayub Paschima kepada Mercusuar, Kamis (6/8/2026).
Ayub menuturkan, ada beberapa alasan yang menjadi dorongan kuat pihaknya menjadikan isu Maleo ke pentas nasional. Di antaranya adalah salah satu desa di Kecamatan Sausu, yakni Sausu Peore, adalah habitat dari burung Maleo. Namun aksi manusia yang terus menggerus habitatnya membuat eksistensi burung tersebut menjadi terancam.
Selanjutnya, faktor historis yakni salah seorang tokoh masyarakat Desa Sausu Peore, mendiang Bahuddin Hi. Pabbite, pernah meraih penghargaan bergengsi tingkat nasional Kalpataru (1994) serta apresiasi internasional dari UNEP (1996), berkat kegigihannya menjaga kelestarian burung Maleo dan kawasan mangrove di daerah tersebut.
“SMAN 1 Sausu kembali mencoba menghidupkan sejarah yang memiliki keterkaitan erat dengan kami, untuk memberikan edukasi kepada para generasi muda,” tambah Ayub.
Dalam penampilannya nanti, Eka Aprilia Pratiwi akan menggunakan baju adat Parigi, ditambah beberapa aksesoris menonjol yang melambangkan burung Maleo. Pada sesi perkenalan, juga akan disampaikan beberapa hal yang memperkenalkan burung Maleo.
Terkait persiapan anak didiknya pada ajang nasional nantinya, Ayub menyebut Eka terus melakukan latihan vokal, didampingi pelatih maupun mentor dari provinsi. Karena saat ini posisi Eka adalah kontingen Sulteng di ajang FLS3N.
“Ini adalah sejarah baru bagi sekolah kami, yang memiliki keterbatasan bahkan belum punya cukup waktu untuk berbenah. Puji Tuhan, ternyata memiliki siswi yang punya kemampuan, hingga berbicara di level nasional,” pungkas Ayub. MBH







