MAKKAH, MERCUSUAR – Jemaah haji dari seluruh dunia, termasuk yang berasal dari Provinsi Sulteng telah menjalani puncak rangkaian haji, yakni Wukuf di Padang Arafah, Makkah, pada Selasa (26/5/2026) waktu setempat.
Di antara jemaah haji asal Provinsi Sulteng adalah yang tergabung dalam kelompok terbang 9 Embarkasi Balikpapan (Kloter BPN-9). Melalui khutbah Wukuf di hadapan jemaah kloter BPN-9, pembina Ibadah, H. Mohamadong Mangawi mengajak jemaah untuk mewujudkan Tri Sukses Haji.
Yang pertama adalah sukses ritual. Mohamadong menegaskan, haji adalah ibadah ritual yang termasuk dalam lima Rukun Islam dan masuk dalam wilayah fikih ibadah sebagaimana dijelaskan para ulama dalam kitab-kitab fikih klasik dan kontemporer.
“Karena itu, kesuksesan paling utama dalam haji adalah sahnya ibadah. Sukses ritual berarti jemaah mampu menjalankan haji dengan benar. Wukufnya sah, tawafnya sah, sainya sah, tahalulnya sah, mabit dan lontar jumrahnya dilaksanakan sesuai ketentuan syariat. Bagi yang memiliki uzur, syariat menyediakan kemudahan, sebab Islam tidak memaksakan umatnya mengerjakan sesuatu di luar kemampuan yang bisa dia lakukan,” tutur Mohamadong.
Sukses yang kedua, lanjutnya, adalah sukses ekosistem haji. Ia menilai, pelaksanaan haji menggerakkan ekosistem besar, bahkan sangat besar.
“Haji menyerap lebih dari dua puluh triliun Rupiah. Di dalamnya ada transportasi, akomodasi, konsumsi, perlengkapan, logistik, layanan kesehatan, teknologi, pembinaan, dan berbagai kebutuhan jemaah,” ujarnya.
Ekosistem tersebut, menurutnya, harus memberi dampak ekonomi yang baik, harus mendorong manfaat bagi umat dan bangsa, harus membuka peluang bagi produk Indonesia untuk hadir di Arab Saudi, harus mendorong penyediaan akomodasi dan konsumsi yang membawa nilai tambah bagi tanah air.
“Haris dikelola secara amanah, transparan, akuntabel, dan berpihak pada kemaslahatan Jemaah dan kita sebagai Bangsa Indonesia,” tegas Mohamadong.
“Sukses ekosistem ekonomi haji menuntut kejujuran. Uang jemaah adalah amanah. Layanan jemaah adalah amanah. Setiap kontrak adalah amanah. Setiap Rupiah harus dijaga. Setiap layanan harus dipertanggungjawabkan. Tidak boleh ada ruang untuk kelalaian, pemborosan, atau kepentingan yang merugikan jemaah,” sambungnya.
Jika ekosistem haji dikelola dengan benar, lanjutnya lagi, haji tidak hanya mengantarkan jemaah menuju kemabruran. Tetapi di sisi lain juga dapat menguatkan ekonomi umat, mengangkat produk bangsa, serta memperluas kemaslahatan.
“Haji juga dapat menjadi jalan bagi Indonesia untuk hadir lebih bermartabat dalam tata kelola layanan ibadah ini,” imbuhnya.
Selanjutnya, sukses yang ketiga adalah sukses keadaban dan peradaban. Haji, kata Mohamadong, harus membentuk akhlak personal. Haji harus menjadikan seseorang lebih santun kepada keluarga, lebih peduli kepada tetangga, lebih jujur dalam pekerjaan, lebih disiplin dalam amanah, dan lebih rendah hati dalam kehidupan sosial.
Haji juga harus menjadikan jemaah sebagai teladan lingkungan. Ketika pulang ke tanah air, jemaah haji harus membawa kesejukan.
“Ia harus menjadi penengah, bukan pemecah. Ia harus menjadi penyambung persaudaraan, bukan penyulut permusuhan. Ia harus menebarkan kedamaian, bukan kebencian. Ia harus menguatkan masyarakat, bukan membebani masyarakat. Inilah makna sukses keadaban dan peradaban. Haji bukan hanya membentuk kesalehan pribadi. Haji harus menguatkan kesalehan sosial sekaligus menjadi katalisator peradaban nasional. Dalam sejarah bangsa, banyak pendiri dan penggerak kemerdekaan adalah para haji,” tuturnya lagi.
“Mereka pulang dari tanah suci dengan kesadaran baru, dengan keberanian moral, dengan semangat membela umat, dan dengan tekad membangun bangsa. Maka dari Arafah, kita berdoa agar jemaah haji Indonesia pulang sebagai manusia yang lebih bertakwa. Pulang sebagai pribadi yang lebih bermanfaat. Pulang sebagai keluarga yang lebih meneduhkan. Pulang sebagai warga bangsa yang lebih mencintai Indonesia. Pulang sebagai hamba Allah yang membawa rahmat bagi sesama,” tandas Mohamadong.
Tidak Ada Perbedaan Status Sosial di Arafah
Sementara itu, Ketua Kloter BPN-9, H. Muh. Syamsu Nursi dalam sambutannya mengajak jemaah untuk memanfaatkan waktu di Arafah dengan memperbanyak doa, zikir, istighfar, talbiyah, membaca Al-Qur’an, serta memohon ampunan kepada Allah SWT dengan penuh keikhlasan dan kerendahan hati.
Syamsu menegaskan, di Padang Arafah tidak ada perbedaan status sosial, baik itu pangkat, jabatan, kekayaan maupun kedudukan.

“Semua memakai pakaian yang sama, berdiri di tempat yang sama, memohon kepada Tuhan yang sama. Inilah gambaran kecil dari Padang Mahsyar, ketika seluruh manusia akan kembali menghadap Allah SWT. Maka mari kita bersihkan hati, saling memaafkan, melupakan kesalahan sesama, dan memperbanyak tobat. Doakan keluarga kita di tanah air, doakan bangsa Indonesia, doakan daerah Sulawesi Tengah, serta doakan agar kita semua diberikan haji yang mabrur,” tutur Syamsu.
Ia juga mengingatkan kepada seluruh jemaah untuk selalu menjaga kesehatan, memerhatikan arahan petugas, serta tidak menjaga kebersaman dan kekompakan.
“Terima kasih kepada seluruh petugas, tenaga kesehatan, Ketua Regu dan Ketua Rombongan, yang terus mendampingi jemaah dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Semoga seluruh pengabdian menjadi amal jariyah di sisi Allah SWT,” ujar Syamsu.
Usai pelaksanaan Wukuf, jemaah haji kloter BPN-9 diberangkatkan menuju Muzdalifah sekira pukul 19.00 Waktu Arab Saudi (WAS).
Keberangkatan jemaah terbagi dalam dua kelompok, masing-masing jemaah lanjut usia (lansia) sejumlah 150 orang diberlakukan sistem murur (tidak singgah di Muzdalifah), sementara jemaah lainnya sejumlah 210 orang bersama petugas melaksanakan mabit di Muzdalifah sejak pukul 21.00 WAS, lalu meninggalkan Muzdalifah sekira pukul 24.00 WAS, dan tiba di Mina sekira pukul 02.00 WAS.
“Selanjutnya jemaah dari seluruh kloter asal Sulteng (BPN-9 hingga BPN-13) yang sudah berada di Mina menunggu jadwal dari Maktab 73 untuk pelontaran jumrah,” pungkas Syamsu. IEA







