Dari Bumi Babasal, Menjaga Ketahanan Energi dari Timur Indonesia

kilang LNG Donggi
Kilang LNG Donggi-Senoro di Desa Uso, Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah, sekitar 45 kilometer di tenggara Kota Luwuk, ibu kota Kabupaten Banggai. Kilang ini berdiri di kawasan pesisir yang menghadap Selat Peling.FOTO : DOK JGC INDONESIA
Oleh : Kartini Nainggolan/Mercusuar

Malam baru saja turun di pesisir Desa Uso, Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah. Angin dari Teluk Tolo bergerak pelan membawa aroma asin laut, menyelinap di sela rumah-rumah panggung yang berdiri tak jauh dari bibir Pantai hari itu, Sabtu (18/4/2026).

Dari beranda rumah kayunya yang sederhana, Ismail (56) duduk sambil merajut jaring ikan yang mulai rapuh dimakan usia. Sesekali matanya terangkat ke kejauhan, ke arah nyala api raksasa yang menari di pucuk menara besi.

Bagi nelayan paruh baya itu, cahaya kemerahan yang membelah pekat malam bukan sekadar flare dari kilang gas. Itu telah menjadi bagian dari lanskap hidup masyarakat pesisir Banggai selama bertahun-tahun. Sebuah penanda bahwa jauh di bawah tanah yang mereka pijak, miliaran kaki kubik gas bumi sedang dipompa tanpa henti.

“Kalau apinya menyala terang, berarti gas lagi jalan,” ucap Ismail pelan, tanpa mengalihkan pandangan.

Di rumahnya malam itu, lampu listrik menyala stabil. Televisi kecil di sudut ruangan berbunyi lirih menemani anak bungsunya belajar. Ada ironi yang terasa manis di sana, listrik yang menerangi rumah-rumah warga berasal dari kekayaan alam di tanah mereka sendiri.

Desa Uso mungkin hanya titik kecil di peta Sulawesi Tengah. Namun desa itu berdiri di tengah pusaran industri energi nasional yang terus bergerak. Kabupaten Banggai yang dijuluki sebagai Bumi yang didiami tiga suku besar yaitu Banggai, Balantak, Saluan (Babasal) hari ini bukan lagi sekadar daerah pesisir di timur Indonesia.

Bumi Babasal ini telah menjelma menjadi salah satu simpul penting ketahanan energi nasional, tempat di mana gas bumi memainkan peran besar sebagai penggerak ekonomi sekaligus jembatan menuju transisi energi yang lebih bersih.

Kini, jalan-jalan desa mulai terang. Anak-anak bisa belajar lebih lama pada malam hari. Beberapa warga membuka warung kecil, sementara sebagian lainnya bekerja di sektor yang sebelumnya tak pernah mereka bayangkan yaitu industri gas alam.

Di tanah inilah, cerita tentang energi tidak hanya berbicara soal industri, investasi, atau angka produksi. Juga berbicara tentang dapur masyarakat yang tetap mengepul, tentang listrik yang tetap menyala, dan tentang harapan yang perlahan tumbuh bersama nyala api di ujung menara kilang.

Anak-anak muda yang dulu merantau ke kota kini mulai kembali karena adanya peluang kerja di sekitar kawasan industri.

“Kalau dulu orang tua selalu bilang harus pergi jauh cari kerja. Sekarang beberapa anak muda bisa bekerja dekat rumah,” ujar Ismail.

Meski demikian, perubahan tidak datang tanpa kegelisahan.

Sebagian warga sempat khawatir ketika proyek migas mulai masuk. Mereka takut laut tercemar, hasil tangkapan ikan berkurang, dan ruang hidup masyarakat pesisir menyempit. Kekhawatiran itu wajar, sebab bagi masyarakat Banggai, laut bukan hanya sumber ekonomi, tetapi juga bagian dari identitas.

“Nelayan hidup dari laut. Kalau laut rusak, habis semua,” kata Ismail.

Namun perlahan, dialog antara masyarakat, pemerintah daerah, dan perusahaan mulai dibangun.

Program-program pemberdayaan mulai diperkenalkan. Kelompok nelayan mendapat pelatihan pengelolaan hasil laut. Sebagian warga memperoleh bantuan untuk usaha kecil.

Perusahaan juga mulai melibatkan masyarakat lokal dalam sejumlah aktivitas penunjang operasional. Meski belum sempurna, warga mengakui perubahan itu memberi ruang bagi tumbuhnya kepercayaan.

“Yang penting kami tetap bisa melaut dan lingkungan dijaga,” kata Ismail.

Pemerintah daerah pun memandang sektor energi sebagai peluang besar bagi masa depan Banggai.

Energi dan Masa Depan Indonesia

Kabupaten Banggai hari ini menjelma menjadi bagian penting dalam rantai pasok energi nasional. Di tengah dunia yang sedang berlomba mencari sumber energi lebih bersih, gas bumi dari Banggai mengambil peran sebagai energi transisi, menjaga pasokan tetap stabil sembari dunia perlahan bergerak menuju energi rendah karbon.

“Jika Banggai tidak memiliki proyek gas, Indonesia akan kehilangan satu simpul penting pemanfaatan gas alam di wilayah Timur yang berdampak pada hilangnya potensi ekonomi lokal, terbatasnya diversifikasi energi bersih, serta melemahnya posisi Indonesia sebagai produsen LNG yang berkelanjutan dan rendah emisi,” kata Corporate Communication Manager DSLNG, Adhika Paramanandana, Sabtu (25/5/2026).

Geliat industri energi di Banggai bermula dari sektor hulu. Di bawah lapangan Donggi dan sumur gas Senoro yang dikelola JOB Pertamina-Medco E&P Tomori Sulawesi, gas alam yang terkunci jutaan tahun di lapisan bumi disedot menggunakan teknologi tinggi.

Gas dari lapangan hulu kemudian dialirkan menuju Kilang Donggi-Senoro LNG (DSLNG) di Luwuk, Banggai. Tahun ini, kilang LNG keempat di Indonesia itu genap berusia 11 tahun sejak pertama kali beroperasi pada 2015.

Di fasilitas inilah gas diproses menjadi liquefied natural gas (LNG) sebelum dikirim ke berbagai tujuan.

Adhika mengatakan, perusahaan kini memegang peran penting dalam mendukung ketahanan energi nasional.

“Donggi-Senoro LNG berperan sebagai salah satu produsen LNG terdepan di Indonesia yang mendukung ketahanan energi nasional, mengurangi emisi dengan menyediakan gas yang lebih bersih dibanding minyak maupun batu bara, serta membuka potensi gas alam di Sulawesi Tengah untuk kebutuhan domestik maupun ekspor,” ujarnya. 

Bagi sebagian orang, istilah LNG mungkin terdengar jauh dan teknis. Namun dalam praktiknya, gas dari Bumi Babasal ikut menggerakkan banyak hal, pembangkit listrik, industri pupuk, hingga kebutuhan energi rumah tangga.

Dari fasilitas pengolahan itu, molekul-molekul gas bergerak seperti aliran darah yang menjaga denyut industri dan kebutuhan listrik tetap hidup.

Sebagian dialirkan untuk pembangkit listrik PLN. Sebagian lainnya menjadi bahan baku PT Panca Amara Utama (PAU), industri amonia yang menopang kebutuhan pupuk nasional.

Di tengah meningkatnya kebutuhan energi, pemerintah kini juga mulai mendorong lebih banyak pasokan LNG untuk kebutuhan domestik.

Data resmi dari DSLNG menyebutkan, pada 2026, DSLNG menargetkan produksi LNG mencapai 2,1 hingga 2,125 juta ton per tahun. Gas yang diolah di kilang tersebut dipasok dari Lapangan Senoro-Toili yang dikelola JOB Pertamina-Medco E&P Tomori Sulawesi serta Lapangan Matindok milik Pertamina EP.

Total pasokan gas menuju kilang mencapai sekitar 335 juta kaki kubik per hari (MMSCFD). Dari jumlah itu, sekitar 250 MMSCFD berasal dari Lapangan Senoro-Toili, sementara 85 MMSCFD lainnya disuplai dari Lapangan Matindok.

Selain memenuhi kebutuhan energi dalam negeri, LNG asal Banggai juga menjadi komoditas ekspor ke sejumlah negara Asia, seperti Jepang dan Korea Selatan. Pengiriman LNG dilakukan melalui kontrak jangka panjang dengan sejumlah perusahaan energi, di antaranya JERA, Kyushu Electric, dan Korea Gas Corporation (KOGAS), yang berlaku hingga 2027.

Sepanjang triwulan pertama 2026, DSLNG tercatat telah mengapalkan sekitar 8 hingga 12 kargo LNG untuk pasar domestik dan ekspor. Sebelumnya, pada 2025, sebagian produksi LNG dari Banggai juga dialokasikan untuk kebutuhan dalam negeri melalui PT Perusahaan Gas Negara (PGN) dan PT PLN guna membantu menjaga stabilitas pasokan energi nasional.

Bagi Indonesia, proses menuju energi bersih bukan perkara mudah. Pertumbuhan industri, kebutuhan listrik, dan aktivitas ekonomi terus meningkat setiap tahun. Pada saat bersamaan, pemerintah juga menghadapi tuntutan untuk menurunkan emisi karbon.

Dalam situasi seperti itu, gas alam menjadi pilihan yang dianggap paling realistis untuk menjaga pasokan energi tetap stabil.

“Perusahaan melihat gas alam sebagai jembatan transisi yang lebih bersih daripada minyak dan batu bara, yang menjaga keandalan pasokan energi, mengurangi emisi karbon, serta mendukung pembangunan infrastruktur energi terbarukan,” kata Adhika. 

Pandangan serupa juga disampaikan akademisi dari UIN Datokarama Palu, Dr Mohammad Djamil M Nur, M. PFIS. Menurutnya, gas masih sangat relevan dalam beberapa dekade ke depan karena Indonesia belum sepenuhnya siap meninggalkan energi fosil.

“Gas alam menghasilkan emisi lebih rendah dibanding batu bara dan minyak. Dalam konteks Indonesia yang kebutuhan energinya terus meningkat, gas masih dibutuhkan untuk menjaga stabilitas pasokan listrik dan industri sambil menunggu energi terbarukan berkembang lebih matang,” ujarnya, Kamis (30/4/2026). 

Ia menjelaskan, transisi energi yang dilakukan terlalu cepat tanpa kesiapan teknologi dan infrastruktur justru berisiko memicu krisis pasokan energi hingga kenaikan biaya listrik.

“Gas kemungkinan bukan energi utama jangka sangat panjang, tetapi masih menjadi energi penting dalam beberapa dekade ke depan,” katanya. 

Menurutnya, transisi energi tidak bisa dilakukan secara mendadak. Energi terbarukan seperti surya dan angin memiliki sifat intermittent atau bergantung pada cuaca. Ketika matahari tidak bersinar atau angin tidak bergerak, pasokan listrik bisa terganggu.

Di situlah pembangkit berbasis gas memainkan peran penting sebagai penyangga stabilitas energi.

“Kalau dipaksakan terlalu cepat tanpa kesiapan teknologi dan infrastruktur, risikonya bisa besar. Pasokan energi terganggu, biaya listrik naik, industri terpukul,” ujarnya.

Bagi Sulawesi Tengah, kebutuhan energi justru diperkirakan terus meningkat. Kawasan industri nikel dan smelter di Morowali membutuhkan pasokan daya yang stabil dan besar. Pertumbuhan ekonomi di Indonesia Timur juga menuntut infrastruktur energi yang semakin kuat. Dalam konteks itulah gas bumi masih dipandang sebagai jangkar penting.

Kombinasi gas alam, pembangkit tenaga air, dan energi terbarukan diyakini dapat menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi baru di kawasan timur Indonesia.

Gas mungkin bukan jawaban akhir. Namun untuk beberapa dekade ke depan, ia masih menjadi jembatan paling realistis menuju masa depan energi yang lebih bersih.

Tenaga Ahli Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bidang Komersialisasi dan Transportasi Migas, Satya Hangga Yudha Widya Putra, mengapresiasi langkah DSLNG yang meningkatkan alokasi LNG untuk pasar dalam negeri.

“Tahun 2024 satu kargo DSLNG dialokasikan untuk PGN. Tahun 2025, lima kargo dialokasikan untuk domestik,” ujarnya saat mengunjungi Kilang DSLNG di Banggai beberapa waktu lalu. 

Menurut Hangga, peningkatan tersebut menunjukkan komitmen perusahaan dalam menjaga ketahanan energi nasional.

Presiden Direktur DSLNG Yuichi Sakaguchi bahkan menegaskan perusahaan akan terus memperkuat kontribusi pasokan LNG bagi Indonesia.

“Tahun 2025 adalah tahun kesepuluh sejak DSLNG memulai produksi LNG. Selama ini, kilang kami telah menghasilkan energi dengan standar tinggi dan menyediakan pasokan energi yang aman serta stabil di Indonesia,” ujarnya pada pertengahan tahun 2025 lalu. 

Meski demikian, posisi gas di tengah tren energi baru terbarukan masih kerap diperdebatkan.

Sebagian kalangan menilai energi fosil harus segera ditinggalkan demi menekan emisi karbon. Namun dibanyak negara berkembang seperti Indonesia, transisi energi tidak sesederhana mengganti batu bara dengan panel surya atau turbin angin.

Menggerakkan Ekonomi Daerah

Bagi Pemerintah Kabupaten Banggai, keberadaan industri gas memberikan dampak signifikan terhadap pembangunan daerah.

Bupati Banggai, Ir. H. Amirudin, S.P., M.M., M.P mengatakan, sejak dirinya menjabat pada 2020, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) meningkat dari Rp1,8 triliun menjadi Rp3,2 triliun. Salah satu penyumbang terbesar berasal dari Dana Bagi Hasil Migas Proyek Gas Senoro.

“Pendapatan terbesar kita salah satunya didukung Dana Bagi Hasil Migas,” kata Amirudin. 

Dana tersebut digunakan untuk mendukung pembangunan infrastruktur, pelayanan publik, dan berbagai program daerah lainnya.

Bagi Amirudin, sektor energi memiliki kaitan langsung dengan cita-cita kemandirian bangsa.

“Ini menjadi bukti pentingnya sektor tersebut dalam pembangunan daerah dan selaras dengan visi pemerintah untuk mendorong swasembada energi,” ujarnya. 

Meski demikian, pertumbuhan industri energi juga membawa tantangan tersendiri.

Pengembangan proyek sumur gas Senoro Selatan yang dikelola JOB Pertamina-Medco E&P Tomori Sulawesi, misalnya, membutuhkan pembebasan lahan untuk jalur pipanisasi gas. Pemerintah daerah bersama perusahaan dan masyarakat harus duduk bersama mencari titik temu agar proyek tetap berjalan tanpa mengabaikan hak warga. 

Situasi itu menunjukkan bahwa industri energi bukan hanya soal investasi besar, tetapi juga tentang bagaimana menjaga hubungan dengan masyarakat sekitar.

IPA Convex 2026 dan Komitmen Masa Depan Energi Nasional

Bagi DSLNG, tantangan masa depan itu mulai dijawab lewat berbagai langkah efisiensi dan pengembangan LNG rendah emisi.

Adhika Paramanandana menyebut, keikutsertaan perusahaan dalam IPA Convex 2026 menjadi momentum untuk menunjukkan komitmen mereka terhadap masa depan energi nasional.

Tema “Shaping the Future of Energy” diterjemahkan bukan sekadar slogan industri, tetapi panggilan untuk membangun kolaborasi, inovasi teknologi, dan penguatan pasokan energi nasional pasca-2027.

Di tengah perubahan lanskap energi global, industri migas tidak lagi cukup hanya memproduksi energi. Mereka juga dituntut menghadirkan operasi yang lebih ramah lingkungan, efisien, dan berkelanjutan.

Dan Bumi Babasal kini menjadi salah satu panggung penting dari perubahan itu.

Malam semakin larut di Desa Uso. Suara ombak terdengar pelan memecah pantai. Ismail akhirnya menyimpan jaring ikannya yang telah selesai dirajut. Dari kejauhan, nyala api di ujung menara kilang masih menyala setia, seperti mercusuar yang menjaga harapan masyarakat pesisir.

Mungkin suatu hari nanti dunia benar-benar akan dipenuhi panel surya dan turbin angin. Mungkin nyala flare itu perlahan akan redup seiring perubahan zaman.

Namun hari ini, dari Bumi Babasal, gas bumi masih menjadi jembatan penting bagi Indonesia, menjaga listrik tetap menyala, industri tetap bergerak, dan mimpi masyarakat kecil tetap hidup.***

Pos terkait