Oleh : Kartini Nainggolan/MecusuarPagi di Sorowako sering kali dimulai dengan kabut yang menggantung rendah di atas Danau Matano, sebuah danau purba terdalam di Indonesia yang menjadi saksi bisu perjalanan PT Vale Indonesia Tbk (PTVI) selama lebih dari setengah abad. Bagi banyak orang, tambang mungkin hanya tentang deru mesin raksasa dan ekstraksi mineral. Namun, di tahun 2025, PTVI mencoba menulis ulang narasi tersebut melalui laporan bertajuk “Integrity in Action: Building Trust and Sustainable Value”yang dirilis awal Mei 2026. Laporan ini bukan sekadar pameran angka laba, melainkan sebuah refleksi mendalam tentang bagaimana integritas diuji saat tantangan operasional dan dinamika pasar datang silih berganti.
Kejujuran sebuah perusahaan sering kali justru terlihat bukan saat mereka merayakan kesuksesan, melainkan saat menghadapi kegagalan operasional. Pada 23 Agustus 2025, sebuah pipa minyak bocor di Desa Lioka, Towuti, mencemari perairan dan lahan pertanian yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat. Insiden ini menjadi “titik nol” bagi pembuktian nilai-nilai perusahaan.
Presiden Direktur dan CEO PTVI, Bernardus Irmanto, tidak memilih untuk berlindung di balik data teknis. Beliau mengunjungi langsung lokasi kejadian hanya beberapa hari setelah kebocoran terjadi.
“Saya mengunjungi Towuti untuk melihat langsung kondisi di lapangan dan mendengarkan masyarakat. Pengalaman tersebut menegaskan bahwa di balik setiap angka, ada kehidupan dan kepercayaan yang harus kami jaga,” ungkap Irmanto yang tertuang dalam sambutan laporan Environmental, Social, and Governance (ESG) 2025 PTVI tertanggal 30 April 2026.
Bagi Irmanto, integritas berarti berani menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada para petani di Lioka, Langkea Raya, hingga Timampu.
“Saya menyampaikan permohonan maaf kepada para petani yang sawahnya terdampak, serta kepada keluarga di Lioka, Langkea Raya, Baruga, Matompi, Wawondula, dan Timampu yang menghadapi ketidakpastian atas air, lahan, dan mata pencaharian mereka. Saya juga memohon maaf karena, meskipun kami berupaya menjalankan standar terbaik, kejadian ini tetap tidak dapat kami cegah,” ujarnya.
Respons cepat segera diambil melalui aktivasi Emergency Response Group (ERG) dan pembukaan Grievance and Information Center di Kantor Kecamatan Towuti. Hingga akhir tahun, tercatat sekitar 395 pengaduan khusus terkait insiden ini dikelola dengan transparansi penuh, mencakup pemulihan tanah sawah hingga penyediaan air bersih bagi warga dan ternak. Pesan yang ingin disampaikan jela bagi PTVI, tanggung jawab tidak hanya diukur dari kinerja operasional, tetapi dari bagaimana perusahaan memulihkan kepercayaan yang sempat terganggu.
Tantangan PTVI di tahun 2025 tidak hanya datang dari kebocoran pipa, tetapi juga dari dinamika pasar nikel global yang fluktuatif. Meskipun transisi energi global menempatkan nikel Indonesia sebagai pemain kunci, tekanan harga tetap menjadi bayang-bayang yang nyata.
Namun, di tengah penurunan pendapatan operasional dari Blok Sorowako sebesar 6,50% akibat pelemahan harga nikel, PTVI justru menunjukkan ketangguhan finansial yang impresif. Laba bersih tahun berjalan melonjak signifikan sebesar 31,68%, mencapai US$76.063 ribu. Rahasianya terletak pada kedisiplinan biaya yang sangat ketat, di mana kenaikan biaya produksi nikel matte hanya naik marginal sebesar 0,85% di tengah inflasi pasar.
Tahun 2025 juga menjadi tonggak sejarah baru bagi ekspansi perusahaan. Untuk pertama kalinya, pendapatan mulai mengalir dari proyek-proyek pertumbuhan (Indonesia Growth Project/IGP).
IGP Morowali menyumbangkan pendapatan sebesar US$91.517 ribu, sementara IGP Pomalaa memberikan kontribusi awal sebesar US$10.095 ribu.
“Kami mulai melihat kontribusi pendapatan awal dari proyek-proyek pertumbuhan kami,” kata Irmanto, menandakan bahwa masa depan PTVI kini telah meluas melintasi tiga provinsi yaitu Sulawesi Selatan, Tengah, dan Tenggara.
Kepemimpinan Inklusif: Fondasi Baru Tata Kelola
Transformasi PTVI juga menyentuh aspek fundamental manusia dan kepemimpinan. Tahun 2025 ditandai dengan restrukturisasi organisasi yang signifikan, termasuk penunjukan Dewan Komisaris dan jajaran Direksi baru.
Presiden Komisaris PTVI, F. S. Multhazar yang juga tercatat dalam sambutannya pada laporan ESG 2026 menekankan bahwa tata kelola bukan sekadar struktur formal di atas kertas.
“Tahun 2025 menjadi periode yang menentukan, di mana kami tidak hanya diuji dari sisi ketahanan operasional, tetapi juga dari kekuatan tata kelola serta disiplin dalam pengambilan keputusan strategis,” tegas Multhazar.
Salah satu bukti nyata dari penguatan tata kelola ini adalah keberagaman. Di tingkat tertinggi, 50% anggota Dewan Komisaris adalah Perempuan, sebuah angka yang melonjak dari 30% pada tahun sebelumnya dan sangat progresif untuk industri pertambangan.
Kepemimpinan yang inklusif ini bukan sekadar mengejar statistik, melainkan langkah strategis untuk membawa perspektif yang lebih luas dalam mengawasi komitmen ESG dan risiko perubahan iklim.
Keterwakilan perempuan ini juga merambah ke komite-komite pendukung, seperti Komite Audit, Komite Mitigasi Risiko, serta Komite Tata Kelola, Nominasi, dan Remunerasi (KTNR) yang kini semuanya telah melampaui ambang batas 30% keterwakilan perempuan.
Tahun 2025 juga menandai fase penting dalam pembaruan tim manajemen inti. Penunjukan Bernardus Irmanto sebagai Presiden Direktur dan CEO baru, didampingi oleh jajaran direksi yang diperkuat oleh pemimpin-pemimpin baru di bidang Human Capital, Sustainability, serta Strategy and Technical, memberikan energi baru bagi arah transformasi PTVI. Struktur kepemimpinan yang lebih ramping namun lincah ini dirancang untuk memastikan bahwa integrasi keberlanjutan tidak lagi dikelola sebagai agenda terpisah, melainkan menyatu ke dalam proses alokasi modal dan evaluasi kinerja harian.
Namun, inklusivitas tidak berhenti di meja dewan. PTVI menyadari bahwa pemimpin yang inklusif adalah mereka yang terus belajar. Sepanjang 2025, para anggota organ tata kelola terlibat aktif dalam berbagai inisiatif peningkatan kapasitas berskala internasional. Mereka menjadi panelis dan peserta dalam diskusi kritis mengenai implementasi ESG di industri ekstraktif, transisi energi global, hingga pemanfaatan Kecerdasan Buatan (AI) untuk disiplin keuangan. Hal ini memastikan bahwa setiap kebijakan yang diambil selaras dengan standar global seperti International Council on Mining and Metals (ICMM).
Sebagai bentuk akuntabilitas nyata, PTVI melangkah lebih jauh dengan mengaitkan kinerja keberlanjutan dengan sistem remunerasi eksekutif. Melalui Indikator Kinerja Utama (KPI) yang dipantau ketat oleh KTNR, pengelolaan dampak lingkungan dan sosial kini menjadi variabel penentu dalam evaluasi kinerja dan kompensasi para pemimpin perusahaan. Dengan sistem ini, integritas bukan lagi sekadar slogan moral, melainkan kewajiban kontraktual yang harus dipenuhi oleh setiap individu di puncak kepemimpinan.
Meskipun Dewan Direksi saat ini belum memiliki anggota perempuan, manajemen telah menyiapkan “pipa talenta” yang kuat untuk masa depan. Hingga akhir 2025, terdapat 131 perempuan yang telah menduduki posisi kepemimpinan manajerial (L1–L3), yang mewakili 17,21% dari total posisi kepemimpinan di seluruh organisasi. Dengan target meningkatkan proporsi karyawan perempuan menjadi 18% pada tahun 2030, PTVI sedang membangun fondasi agar kepemimpinan inklusif ini terus berlanjut dan menjadi bagian permanen dari budaya perusahaan.
Dekarbonisasi: Mengejar Jejak Hijau di Setiap Metrik
Di tengah deru pabrik pengolahan mineral, PTVI tetap memegang teguh peta jalan dekarbonisasinya. target penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 33% pada tahun 2030 bukan sekadar angka aspiratif, melainkan panduan operasional harian.
Dalam laporan ESG, tahun 2025, intensitas energi di Sorowako berhasil turun sebesar 1,61%. Penurunan ini didorong oleh inovasi teknis seperti Automatic Granulation Operational Node (AUTO-GRON) pada unit converter yang memungkinkan pengelolaan suhu lebih presisi, sehingga menekan konsumsi bahan bakar fosil. Tak hanya itu, emisi partikulat di Sorowako turun drastis sebesar 26,4% dibandingkan tahun 2024, sebuah kabar baik bagi kualitas udara di wilayah operasional.
Langkah berani lainnya adalah penggunaan campuran biodiesel B40 yang mulai diperkenalkan tahun ini. Di Sorowako, porsi energi terbarukan yang utamanya dipasok dari tiga PLTA milik sendiri, kini mencapai 30,87% dari total bauran energi. Komitmen hijau ini pun merambah ke proyek baru di IGP Pomalaa dan IGP Morowali. Porsi energi bersih bahkan mencapai angka yang lebih tinggi berkat integrasi sumber energi terbarukan sejak tahap awal operasional.
Keberlanjutan di PTVI meluas hingga ke pelestarian ekosistem Sulawesi yang unik. Hingga akhir 2025, reklamasi lahan di Sorowako mencapai 65,09% dari total area tambang terbuka, dengan tingkat keberhasilan rehabilitasi mencapai 86%, melampaui persyaratan regulasi.
Tahun ini, sebanyak 72.296 pohon lokal dan endemik ditanam kembali, meningkat 6% dari tahun sebelumnya. Namun, konservasi bukan hanya soal flora. Di dalam area operasional, PTVI juga menjadi pelindung bagi fauna ikonik Sulawesi; tercatat ada 18 rusa Timor dan satu ekor anoa dataran rendah yang dikonservasi dengan penuh perhatian.
Di kedalaman air, PTVI juga beraksi melalui restorasi ekosistem laut di Pulau Bulupoloe dengan memasang 25 struktur terumbu karang buatan (spider reef).
Suharpiyu Wijaya, Head of IGP Sorowako Limonite, menegaskan, Restorasi laut tidak berhenti pada pemasangan. Kami memastikan pemantauan berkelanjutan dilakukan agar ekosistem dapat pulih dan berkembang secara bertahap.
Manusia sebagai Fondasi: Keselamatan dan Transformasi Petani
Di atas segalanya, keselamatan manusia tetap menjadi prioritas utama. Di tahun 2025, PTVI mencatatkan prestasi gemilang dengan Nihil Fatalitas (Zero Fatalities) dan nihil cedera kerja pada karyawan sepanjang tahun. Prestasi ini diraih di tengah peningkatan jam kerja yang signifikan mencapai 49 juta jam, didorong oleh aktivitas pembangunan ulang furnace dan ekspansi proyek.
Keberpihakan pada tenaga kerja lokal tetap konsisten, di mana 83,28% dari total 2.985 karyawan berasal dari wilayah operasional seperti Luwu Timur, Morowali, dan Kolaka. Namun, bagi PTVI, pemberdayaan masyarakat tidak boleh hanya terbatas pada menjadi karyawan tambang.
Di Kelurahan Silea, Kecamatan Wundulako, Blok Pomalaa, sosok Rahmad berdiri sebagai simbol transformasi tersebut. Sebagai Ketua Kelompok Forum Kakao Mandara (FORKAMA), ia memimpin gabungan lima kelompok tani yang menolak untuk sekadar menjadi penonton di tanah mereka sendiri. Selama puluhan tahun, para petani di sana terjebak dalam siklus menjual biji kakao mentah dengan harga yang ditentukan pasar.
Melalui inisiatif IGP Pomalaa, Rahmad dan kelompoknya terjun ke dalam pelatihan intensif pengolahan kakao yang mencakup seluruh rantai produksi mulai dari fermentasi hingga tahap rumit seperti tempering cokelat.
“Selama ini kami hanya menjual biji kakao mentah. Dengan adanya pelatihan ini, kami belajar mengolahnya menjadi produk jadi yang memiliki nilai jual lebih tinggi,” ungkap Rahmad yang tercatat dalam laporan ESG 2025 PTVI. Baginya, ini bukan sekadar pelatihan teknis, melainkan pembukaan cakrawala ekonomi. “Ini membuka wawasan baru bagi kami sebagai petani,” tambahnya.
Kepemimpinan Rahmad tidak berhenti di situ. Di bawah komandonya, FORKAMA kini mengelola Rumah Pembibitan Kakao yang menaungi sekitar 4.600 benih unggul. Ia juga menjadi motor penggerak menuju sertifikasi internasional dengan memfasilitasi pembentukan kelembagaan Internal Control System (ICS) bagi 100 petani lainnya. Di Morowali, semangat serupa tecermin lewat program SRI Organik yang telah memasuki musim tanam kedelapan, mendampingi 43 petani mengelola 12 hektare lahan padi organik.
Laporan Keberlanjutan PT Vale Indonesia tahun 2025 adalah sebuah narasi tentang perjalanan yang tidak selalu mulus, namun dijalani dengan kepala tegak. Dari permintaan maaf yang tulus di Towuti hingga inovasi rendah karbon di pabrik pengolahan; dari pemberdayaan petani cokelat di Pomalaa hingga pelestarian anoa di hutan Sorowako. Semuanya dijalin oleh satu benang merah yaitu Integritas.
Sebagaimana ditegaskan oleh Bernardus Irmanto dalam penutup pesannya, keberlanjutan adalah sebuah proses yang terus menerus.
“Keberlanjutan bukanlah proses yang linier. Melainkan perjalanan yang terus berkembang melalui perbaikan, refleksi, dan pembaruan,” tulisnya.
Luka di Towuti mungkin meninggalkan bekas, namun cara PTVI membalutnya dengan transparansi dan pemulihan menunjukkan bahwa mereka adalah perusahaan yang memiliki jiwa. Dengan fondasi tata kelola yang lebih inklusif dan optimisme dari proyek-proyek pertumbuhan baru, PTVI melangkah menuju tahun 2026 dan seterusnya tidak hanya sebagai produsen nikel, tetapi sebagai mitra terpercaya Indonesia dalam membangun masa depan yang lebih hijau, adil, dan berkelanjutan.***





