Kepemimpinan Inklusif: Fondasi Baru Tata Kelola
Transformasi PTVI juga menyentuh aspek fundamental manusia dan kepemimpinan. Tahun 2025 ditandai dengan restrukturisasi organisasi yang signifikan, termasuk penunjukan Dewan Komisaris dan jajaran Direksi baru.
Presiden Komisaris PTVI, F. S. Multhazar yang juga tercatat dalam sambutannya pada laporan ESG 2026 menekankan bahwa tata kelola bukan sekadar struktur formal di atas kertas.
“Tahun 2025 menjadi periode yang menentukan, di mana kami tidak hanya diuji dari sisi ketahanan operasional, tetapi juga dari kekuatan tata kelola serta disiplin dalam pengambilan keputusan strategis,” tegas Multhazar.
Salah satu bukti nyata dari penguatan tata kelola ini adalah keberagaman. Di tingkat tertinggi, 50% anggota Dewan Komisaris adalah Perempuan, sebuah angka yang melonjak dari 30% pada tahun sebelumnya dan sangat progresif untuk industri pertambangan.
Kepemimpinan yang inklusif ini bukan sekadar mengejar statistik, melainkan langkah strategis untuk membawa perspektif yang lebih luas dalam mengawasi komitmen ESG dan risiko perubahan iklim.
Keterwakilan perempuan ini juga merambah ke komite-komite pendukung, seperti Komite Audit, Komite Mitigasi Risiko, serta Komite Tata Kelola, Nominasi, dan Remunerasi (KTNR) yang kini semuanya telah melampaui ambang batas 30% keterwakilan perempuan.
Tahun 2025 juga menandai fase penting dalam pembaruan tim manajemen inti. Penunjukan Bernardus Irmanto sebagai Presiden Direktur dan CEO baru, didampingi oleh jajaran direksi yang diperkuat oleh pemimpin-pemimpin baru di bidang Human Capital, Sustainability, serta Strategy and Technical, memberikan energi baru bagi arah transformasi PTVI. Struktur kepemimpinan yang lebih ramping namun lincah ini dirancang untuk memastikan bahwa integrasi keberlanjutan tidak lagi dikelola sebagai agenda terpisah, melainkan menyatu ke dalam proses alokasi modal dan evaluasi kinerja harian.
Namun, inklusivitas tidak berhenti di meja dewan. PTVI menyadari bahwa pemimpin yang inklusif adalah mereka yang terus belajar. Sepanjang 2025, para anggota organ tata kelola terlibat aktif dalam berbagai inisiatif peningkatan kapasitas berskala internasional. Mereka menjadi panelis dan peserta dalam diskusi kritis mengenai implementasi ESG di industri ekstraktif, transisi energi global, hingga pemanfaatan Kecerdasan Buatan (AI) untuk disiplin keuangan. Hal ini memastikan bahwa setiap kebijakan yang diambil selaras dengan standar global seperti International Council on Mining and Metals (ICMM).
Sebagai bentuk akuntabilitas nyata, PTVI melangkah lebih jauh dengan mengaitkan kinerja keberlanjutan dengan sistem remunerasi eksekutif. Melalui Indikator Kinerja Utama (KPI) yang dipantau ketat oleh KTNR, pengelolaan dampak lingkungan dan sosial kini menjadi variabel penentu dalam evaluasi kinerja dan kompensasi para pemimpin perusahaan. Dengan sistem ini, integritas bukan lagi sekadar slogan moral, melainkan kewajiban kontraktual yang harus dipenuhi oleh setiap individu di puncak kepemimpinan.
Meskipun Dewan Direksi saat ini belum memiliki anggota perempuan, manajemen telah menyiapkan “pipa talenta” yang kuat untuk masa depan. Hingga akhir 2025, terdapat 131 perempuan yang telah menduduki posisi kepemimpinan manajerial (L1–L3), yang mewakili 17,21% dari total posisi kepemimpinan di seluruh organisasi. Dengan target meningkatkan proporsi karyawan perempuan menjadi 18% pada tahun 2030, PTVI sedang membangun fondasi agar kepemimpinan inklusif ini terus berlanjut dan menjadi bagian permanen dari budaya perusahaan.







