Manusia sebagai Fondasi: Keselamatan dan Transformasi Petani
Di atas segalanya, keselamatan manusia tetap menjadi prioritas utama. Di tahun 2025, PTVI mencatatkan prestasi gemilang dengan Nihil Fatalitas (Zero Fatalities) dan nihil cedera kerja pada karyawan sepanjang tahun. Prestasi ini diraih di tengah peningkatan jam kerja yang signifikan mencapai 49 juta jam, didorong oleh aktivitas pembangunan ulang furnace dan ekspansi proyek.
Keberpihakan pada tenaga kerja lokal tetap konsisten, di mana 83,28% dari total 2.985 karyawan berasal dari wilayah operasional seperti Luwu Timur, Morowali, dan Kolaka. Namun, bagi PTVI, pemberdayaan masyarakat tidak boleh hanya terbatas pada menjadi karyawan tambang.
Di Kelurahan Silea, Kecamatan Wundulako, Blok Pomalaa, sosok Rahmad berdiri sebagai simbol transformasi tersebut. Sebagai Ketua Kelompok Forum Kakao Mandara (FORKAMA), ia memimpin gabungan lima kelompok tani yang menolak untuk sekadar menjadi penonton di tanah mereka sendiri. Selama puluhan tahun, para petani di sana terjebak dalam siklus menjual biji kakao mentah dengan harga yang ditentukan pasar.
Melalui inisiatif IGP Pomalaa, Rahmad dan kelompoknya terjun ke dalam pelatihan intensif pengolahan kakao yang mencakup seluruh rantai produksi mulai dari fermentasi hingga tahap rumit seperti tempering cokelat.
“Selama ini kami hanya menjual biji kakao mentah. Dengan adanya pelatihan ini, kami belajar mengolahnya menjadi produk jadi yang memiliki nilai jual lebih tinggi,” ungkap Rahmad yang tercatat dalam laporan ESG 2025 PTVI. Baginya, ini bukan sekadar pelatihan teknis, melainkan pembukaan cakrawala ekonomi. “Ini membuka wawasan baru bagi kami sebagai petani,” tambahnya.
Kepemimpinan Rahmad tidak berhenti di situ. Di bawah komandonya, FORKAMA kini mengelola Rumah Pembibitan Kakao yang menaungi sekitar 4.600 benih unggul. Ia juga menjadi motor penggerak menuju sertifikasi internasional dengan memfasilitasi pembentukan kelembagaan Internal Control System (ICS) bagi 100 petani lainnya. Di Morowali, semangat serupa tecermin lewat program SRI Organik yang telah memasuki musim tanam kedelapan, mendampingi 43 petani mengelola 12 hektare lahan padi organik.
Laporan Keberlanjutan PT Vale Indonesia tahun 2025 adalah sebuah narasi tentang perjalanan yang tidak selalu mulus, namun dijalani dengan kepala tegak. Dari permintaan maaf yang tulus di Towuti hingga inovasi rendah karbon di pabrik pengolahan; dari pemberdayaan petani cokelat di Pomalaa hingga pelestarian anoa di hutan Sorowako. Semuanya dijalin oleh satu benang merah yaitu Integritas.
Sebagaimana ditegaskan oleh Bernardus Irmanto dalam penutup pesannya, keberlanjutan adalah sebuah proses yang terus menerus.
“Keberlanjutan bukanlah proses yang linier. Melainkan perjalanan yang terus berkembang melalui perbaikan, refleksi, dan pembaruan,” tulisnya.
Luka di Towuti mungkin meninggalkan bekas, namun cara PTVI membalutnya dengan transparansi dan pemulihan menunjukkan bahwa mereka adalah perusahaan yang memiliki jiwa. Dengan fondasi tata kelola yang lebih inklusif dan optimisme dari proyek-proyek pertumbuhan baru, PTVI melangkah menuju tahun 2026 dan seterusnya tidak hanya sebagai produsen nikel, tetapi sebagai mitra terpercaya Indonesia dalam membangun masa depan yang lebih hijau, adil, dan berkelanjutan.***







