UMKM yang Menemukan Jalan Pasar Bersama PT Vale

RUMAH OLEH-OLEH
Produk UMKM lokal dipajang di Rumah Oleh-Oleh Bungku Timur. Wadah ini hadir melalui kolaborasi pemerintah Kabupaten Morowali, Pemerintah Kecamatan Bungku Timur, pelaku usaha dan PT Vale Indonesia Tbk lewat program PPM untuk memperluas akses pasar pelaku usaha di Morowali. FOTO : KARTINI NAINGGOLAN
VALE
Lebih dari nikel, PT Vale membawa cerita pemberdayaan ke setiap pameran. Produk-produk UMKM binaan dari wilayah operasional diperkenalkan kepada masyarakat sebagai hasil pendampingan berkelanjutan, mulai dari proses produksi hingga membuka akses pasar yang lebih luas.FOTO : KARTINI NAINGGOLAN/MS

Peluang Pasar Lewat Pameran

Cerita tentang UMKM di Bungku Timur tidak berhenti pada sambal Maroah Talib yang mulai lebih cepat habis dari rak Rumah Oleh-Oleh. Juga tidak berhenti pada tanaman herbal yang diolah Andi Nurhayana menjadi produk yang memiliki nilai jual.

Di tempat yang sama, ada cerita lain yang bermula dari sesuatu yang lebih sederhana yaitu ilmu.

Siti Hadija Almahdali, pemilik Rumah Herbal Rampatolu atau Rempah Kita Semua, termasuk pelaku UMKM yang merasakan bagaimana pengetahuan yang diperoleh dari pendampingan dapat berubah menjadi sebuah produk. Bahkan, produk itu sebelumnya belum pernah ia buat.

Sekitar dua tahun lalu, Siti mulai bergabung dalam pendampingan PT Vale Indonesia setelah diajak oleh rekannya. Ia kemudian mengikuti berbagai proses pembinaan dan belajar mengolah bahan-bahan yang ada di sekitarnya.

Bagi Siti, tidak ada bantuan berupa uang yang menjadi hal paling penting dari pendampingan tersebut. Justru pengetahuan yang ia dapatkan.

“Ilmunya yang paling penting. Tanpa ilmu kita tidak bisa apa-apa,” ujarnya.

Dari pengetahuan itu, Siti mulai membuat virgin coconut oil atau VCO. Kini, botol-botol kecil berisi minyak kelapa itu menjadi salah satu produk Rumah Herbal Rampatolu, bersama berbagai olahan herbal lainnya.

Untuk menghasilkan VCO, Siti tidak bisa menggunakan sembarang kelapa. Ia mencari kelapa yang sudah benar-benar tua. Bahkan, kelapa yang mulai menunjukkan tanda-tanda tumbuh atau muncul tombong sedikit menjadi salah satu pilihan bahan bakunya. Namun, mendapatkan kelapa tua dalam jumlah cukup bukan perkara mudah.

“Kelapa kurang,” katanya.

Siti biasanya membeli kelapa dari masyarakat sekitar dengan harga sekitar Rp5.000 per buah. Dari 15 buah kelapa dapat menghasilkan kurang lebih tiga botol VCO, yang kemudian dijual  Rp60 ribu per botol.

VCO bukan satu-satunya produk yang dibuat Siti. Rumah Herbal Rampatolu juga menghasilkan sejumlah produk berbahan rempah. Ada SEGAR LAMBUNG yang menggunakan bahan seperti kunyit, temulawak, kayu manis, bawang dayak dan tanaman cakar ayam.

Ada LENJAS, yang merupakan singkatan dari lengkuas, jahe dan serai. Ada pula KUCEM atau kunyit, asam dan cengkeh, serta Wedang Uwuh dan produk berbahan bunga telang. Semua produk itu berangkat dari satu proses yang sama yaitu belajar.

Namun, sebagaimana yang dialami Maroah dan Nurhayana, membuat produk bukan akhir dari perjalanan. Produk harus bertemu dengan pembelinya.

Sebelum Rumah Oleh-Oleh Bungku Timur hadir, Siti lebih banyak menjual produknya secara online. Produk ditawarkan melalui media sosial dan jaringan konsumen yang sudah dimilikinya. Kemudian datang kesempatan yang membawanya lebih jauh.

Produk-produk UMKM binaan PT Vale dibawa mengikuti pameran di berbagai daerah. Salah satu yang paling membekas bagi Siti adalah ketika ia diutus ke Jakarta pada Mei 2026.

Ia tidak hanya membawa produk miliknya. Siti membawa produk dari sejumlah kelompok UMKM binaan PT Vale. Dua koper penuh produk dibawanya ke Jakarta. Ketika pulang, kedua koper itu kosong.

“Dua koper saya bawa, pas pulang kosong,” katanya sambil tersenyum.

Pameran juga membuat produk-produk yang selama ini dipasarkan dari Bungku Timur menjadi semakin dikenal. Jangkauan konsumen meluas, sementara Siti mendapatkan pengalaman langsung bahwa pasar produk herbal tidak hanya berada di sekitar tempat produksinya. Kini, ruang untuk bertemu konsumen itu semakin dekat.

Rumah Oleh-Oleh Bungku Timur yang diresmikan pada 13 Agustus 2026 memberi tempat bagi produk Siti untuk hadir di hadapan orang yang datang mencari oleh-oleh. Jika sebelumnya konsumen harus mencari produknya melalui media sosial, kini produk tersebut bisa dilihat langsung.

Bagi Siti, keberadaan Rumah Oleh-Oleh membuat penjualan semakin terbuka.

“Alhamdulillah, dari segi penjualan lebih meningkat lagi, lebih dikenal lagi dengan adanya Rumah Oleh-Oleh ini,” ujarnya.

Pos terkait