Oleh : Kartini Nainggolan/Harian Mercusuar
Siang itu, Minggu (13/9/2026), matahari sedang terik-teriknya di desa Bahomoahi, kecamatan Bungku Timur, Provinsi Sulawesi Tengah. Namun, Maroah Talib tetap sibuk menurunkan botol-botol sambal dari mobilnya. Satu per satu ia bawa masuk ke Rumah Oleh-Oleh Bungku Timur dan kembali mengisi rak yang mulai kosong.
Bagi Maroah, stok yang menipis bukan kabar buruk. Justru sebaliknya. Pesanan sambalnya bertambah.
“Karena banyak pesanan. Lebih banyak orderan, alhamdulillah,” kata Maroah.
Hari itu, Rumah Oleh-Oleh Bungku Timur baru satu bulan beroperasi. Tempat tersebut diresmikan pada 13 Agustus 2026 sebagai bagian dari upaya membuka akses pasar bagi produk usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) lokal. Tempat ini lahir dari kolaborasi Pemerintah Kabupaten Morowali, Pemerintah Kecamatan Bungku Timur, kelompok masyarakat, pelaku usaha, dan PT Vale melalui Program Pemberdayaan Masyarakat (PPM) di bidang kemandirian ekonomi. Termasuk Maroah sebagai pelaku usaha.
Hampir empat tahun menjalankan usaha sambal kemasan. Sebelumnya, ia lebih banyak mengandalkan penjualan daring. Produk sesekali dititipkan di sejumlah tempat, tetapi jangkauannya masih terbatas.
Kini, sambalnya memiliki tempat untuk dilihat langsung oleh orang-orang yang datang mencari oleh-oleh. Dalam waktu kurang dari sebulan, Maroah sudah beberapa kali kembali mengisi stok. Sekitar 200-an botol dibawa setiap kali pengisian.
“Sudah tiga kali orderan. Empat kali dengan ini,” ujarnya.
Namun, bertambahnya permintaan membawa pekerjaan baru. Maroah harus memastikan produksi tetap berjalan ketika pesanan datang. Salah satu persoalannya adalah ketersediaan bahan baku, terutama ikan.
“Ikan susah,” katanya.
Meski begitu, ia tetap memenuhi pesanan dan kembali mengisi rak yang mulai kosong. Bagi Maroah, perubahan itu sederhana tetapi terasa. Produk yang selama ini lebih banyak menunggu pembeli menemukannya melalui ponsel, kini berada di tempat yang bisa didatangi dan dilihat langsung.
Berawal dari Pelatihan
Rak di Rumah Oleh-Oleh Bungku Timur tidak hanya diisi sambal buatan Maroah Talib. Di antara produk UMKM lainnya, ada pula produk herbal milik Andi Nurhayana. Jika Maroah merasakan perubahan dari bertambahnya pesanan, Nurhayana merasakan perubahan itu melalui perjalanan yang lebih Panjang. Dari belajar mengenal tanaman herbal hingga mampu mengolahnya menjadi produk yang memiliki nilai jual.
Perjalanan tersebut dimulai ketika Nurhayana menjadi bagian dari Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang mendapatkan pendampingan dari PT Vale Indonesia. Saat pertama kali mengikuti pelatihan yang difasilitasi PT Vale, Nurhayana mengaku belum memiliki dasar usaha herbal. Ia bersama perwakilan TP-PKK dari sejumlah desa di Bungku Timur, belajar memanfaatkan tanaman yang selama ini mudah ditemukan di sekitar mereka.
Jahe, kunyit, rosella dan bunga telang yang sebelumnya hanya dilihat sebagai tanaman biasa mulai dikenalnya dengan cara berbeda.
“Yang tadinya dilihat hanya tanaman biasa, bisa menjadi satu nilai ekonomi yang bagus. Bisa kita jual dan bisa bermanfaat untuk kita,” kata Nurhayana, Minggu (13/9/2026).
Nurhayana tidak berhenti setelah mengikuti pelatihan pertama. Ia terus mengikuti pendampingan dan berbagai proses pembelajaran yang diberikan. Hampir tiga tahun perjalanan tersebut dilaluinya.
Dari sana, ia tidak hanya belajar membuat produk. Ia juga belajar bagaimana memilih dan mengolah bahan, melakukan pengeringan, menjaga kualitas hingga mengembangkan produk herbal. Pengetahuan itu kemudian ia terapkan melalui Rumah Herbal Vinara Asyifa.
Kini, lebih dari 10 jenis produk herbal dihasilkan, antara lain berbahan kunyit, rosella dan bunga telang dalam bentuk serbuk, kering, maupun cair.
Bagi Nurhayana, pendampingan tersebut menjadi penting karena usaha herbal yang dijalaninya tidak sekadar membutuhkan modal untuk membeli bahan dan peralatan. Pengetahuan menjadi bagian dari modal yang terus digunakan dalam menjalankan usaha.
Ia bahkan pernah mendapatkan kesempatan mengikuti training of trainer (TOT) di Banjar, Provinsi Jawa Barat. Pengetahuan yang diperoleh kemudian dibawa kembali ke Bungku Timur. Namun, proses pembinaan tidak berhenti pada peningkatan kemampuan produksi.
Produk yang sudah dibuat juga perlu menemukan pembeli. Di titik inilah pengalaman mengikuti pameran menjadi bagian penting dari perjalanan usaha Nurhayana. Produk herbalnya beberapa kali dibawa dalam pameran yang difasilitasi PT Vale, termasuk hingga Jakarta dan Bali.
Dari pameran tersebut, produk yang dibuat di Bungku Timur mulai dikenal konsumen dari luar daerah. Makassar, Palopo hingga Sorowako menjadi bagian dari pasar yang kemudian mengenal produknya.
“Sejak ikut pameran makin dikenal, makin banyak yang mencari. Kami juga senang karena bisa terjual,” ujarnya.
Bagi Nurhayana, kesempatan tersebut bukan hanya soal membawa produk keluar daerah. Pameran memberinya pengalaman bertemu dengan konsumen dan melihat bagaimana produknya diterima di luar pasar yang selama ini dijangkau.
Sebelumnya, penjualan lebih banyak dilakukan melalui WhatsApp dan Facebook.
Di daerah sendiri pun tantangannya masih berbeda. Produk herbal perlu lebih banyak diperkenalkan karena masyarakat Bungku Timur belum memiliki kebiasaan mengonsumsi jamu seperti masyarakat di sejumlah daerah di Pulau Jawa.
“Kalau kita di sini, kalau jamu itu merasa belum terlalu mengenal. Beda dengan yang di Jawa. Jawa kan tiap hari mengonsumsi jamu. Kalau kita ini harus butuh edukasi lagi,” katanya.
Karena itu, ketika Rumah Oleh-Oleh Bungku Timur hadir, Nurhayana melihatnya sebagai tambahan ruang untuk memperkenalkan produk. Sekitar delapan jenis produknya kini dititipkan di sana. Konsumen tidak lagi harus mengetahui nomor WhatsApp atau mencari akun media sosialnya untuk mengenal produk herbal tersebut. Mereka bisa melihatnya langsung di rak.
Nurhayana mengatakan, dirinya tidak menerima bantuan uang tunai secara langsung dari PT Vale. Yang paling dirasakannya justru pengetahuan, pelatihan, pendampingan dan kesempatan untuk mendapatkan pengalaman baru.






