
Membuka Pintu Pasar
Apa yang dialami Maroah, Nurhayana dan Siti sebenarnya bermula dari persoalan yang sederhana, bagaimana membuat produk mereka lebih mudah ditemukan pembeli.
Selama ini, sebagian besar pelaku UMKM mengandalkan penjualan secara daring. Sebagian lainnya menitipkan produk ke minimarket, kios-kios kecil atau tempat penjualan lain. Cara itu memang membuka jalan ke pasar, tetapi belum selalu memberi hasil seperti yang diharapkan.
Ada produk yang tidak habis terjual. Bahkan, menurut Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan Bungku Timur, Zaenab Arsan, sebagian produk yang dititipkan di toko swalayan pernah sampai kadaluarsa sebelum terjual.
Keluhan itu berulang kali ia dengar ketika berkeliling dalam kegiatan PKK, termasuk saat mengunjungi posyandu dan sekolah-sekolah PAUD yang tersebar di Bungku Timur. Di sela kegiatan tersebut, ia bertemu dengan ibu-ibu yang juga menjalankan usaha dari rumah.
Dari percakapan-percakapan itulah gagasan untuk menyediakan tempat khusus bagi produk UMKM mulai muncul.
“Dari keluhannya mereka itu, mereka terkendala dengan pemasaran,” kata Zaenab.
Ia kemudian membicarakan persoalan itu bersama pengurus PKK Kecamatan. Kalau produknya sudah ada, pikirnya, yang perlu disiapkan adalah wadah untuk mempertemukan produk dengan pembeli.
Gagasan itu kemudian dibawa ke pertemuan bersama para pelaku UMKM. Awalnya hanya sebuah perbincangan santai. Tetapi respons para pelaku usaha justru membuat rencana tersebut semakin serius.
“Mereka sangat senang. Nah, itu yang mereka tunggu selama ini. Cuma kan yang menggerakkan itu tidak ada,” ujarnya.
Dari situlah Rumah Oleh-Oleh mulai menemukan bentuknya. Bukan pekerjaan satu pihak saja, melainkan hasil dari beberapa pihak yang mengambil peran masing-masing.
Pemerintah Kecamatan Bungku Timur bersama PKK menyiapkan tempat dan fasilitas. Para pelaku UMKM menyediakan produk sekaligus terus menjaga kualitas dan produksinya. Sementara PT Vale Indonesia yang sebelumnya telah mendampingi sejumlah pelaku UMKM melalui pelatihan ikut menjadi bagian dari proses terwujudnya rumah oleh-oleh tersebut.
“Alhamdulillah juga ada dukungan dari PT Vale. Kami sama-sama, dan terwujudlah ini Rumah Oleh-Oleh Khas Bungku Timur,” katanya.
Menurut Zaenab, masing-masing pihak tidak mengambil peran yang sama. PKK lebih banyak menyiapkan wadah, sementara pelaku UMKM tetap menjadi penggerak utama dalam produksi. PT Vale sebelumnya telah memberikan pelatihan dan pengetahuan kepada pelaku usaha, termasuk menghadirkan narasumber dari luar daerah.
Dengan pembagian peran itu, Rumah Oleh-Oleh tidak hanya menjadi tempat menitipkan barang dagangan. Ini menjadi ruang pertemuan antara produk yang dibuat dari rumah-rumah warga dengan orang-orang yang melintas dan membutuhkan oleh-oleh khas daerah.
Mereka kemudian menyepakati pola penjualan. Pada tahap awal, produk dititipkan untuk dijual. Setelah terlihat produk mana yang paling cepat bergerak, sistemnya bisa berubah menjadi pembelian langsung.
Abon, misalnya, menjadi salah satu produk yang paling cepat terserap. Zaenab bahkan menyebut pernah membeli hingga 100 pouch sekaligus. Begitu pula sambal yang dalam sebulan sudah beberapa kali dipesan.
Rumah Oleh-Oleh Khas Bungku Timur akhirnya diresmikan pada 13 Agustus 2026, setelah sempat tertunda karena berbagai kegiatan dan momentum bulan Ramadan. Tempat itu kemudian tidak hanya diperuntukkan bagi produk dari Bungku Timur.
Namanya tetap membawa identitas Bungku Timur, tetapi jangkauannya dibuka lebih luas karena berada di wilayah Morowali. Lokasinya yang berada di jalur menuju Sulawesi Selatan juga diharapkan menjadi kesempatan bagi orang dari luar daerah untuk mengenal produk-produk yang dibuat masyarakat setempat.
Hingga kini, ada 29 pelaku UMKM dengan lebih dari 30 produk yang masuk ke Rumah Oleh-Oleh tersebut. Zaenab menyebut seluruh produk yang dipasarkan telah memiliki izin.
Bagi Zaenab, yang paling penting adalah tempat itu tidak membuat pelaku UMKM bergantung pada PKK. Justru sebaliknya, mereka diharapkan semakin mandiri dalam mengembangkan produk, termasuk melalui berbagai pelatihan yang mereka ikuti.
“Kami menyiapkan wadah saja,” katanya.
Ada alasan lain yang membuat Zaenab berharap tempat ini terus berkembang. Sebagian besar pelaku UMKM yang terlibat adalah perempuan. Banyak di antara mereka menjalankan usaha dari rumah sambil tetap mengurus anak dan keluarga.
Karena itu, baginya, keberhasilan Rumah Oleh-Oleh tidak hanya diukur dari banyaknya produk yang terjual. Ada harapan yang lebih dekat dengan kehidupan para ibu itu sendiri. Mereka tetap bisa bekerja dari rumah, tetapi memiliki penghasilan dari usaha yang mereka bangun.
“Bagaimana kaum ibu itu bisa menghasilkan uang dari rumah tanpa harus meninggalkan anak-anak dan keluarga,” kata Zaenab.
Sebulan lebih setelah dibuka, tanda-tanda itu mulai terlihat. Menurut Zaenab, rata-rata penjualan di Rumah Oleh-Oleh telah mencapai lebih dari Rp1 juta per hari.






