UMKM yang Menemukan Jalan Pasar Bersama PT Vale

RUMAH OLEH-OLEH
Produk UMKM lokal dipajang di Rumah Oleh-Oleh Bungku Timur. Wadah ini hadir melalui kolaborasi pemerintah Kabupaten Morowali, Pemerintah Kecamatan Bungku Timur, pelaku usaha dan PT Vale Indonesia Tbk lewat program PPM untuk memperluas akses pasar pelaku usaha di Morowali. FOTO : KARTINI NAINGGOLAN
Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan Bungku Timur, Zaenab Arsan saat memperlihatkan produk herbal UMKM Binaan PT Vale. FOTO : KARTINI NAINGGOLAN/MS

Local Hero untuk Keberlanjutan

Rumah Oleh-Oleh itu bukan titik awal bagi para pelaku UMKM untuk belajar membuat produk. Jauh sebelum rak-rak itu terisi, sebagian dari mereka sudah lebih dulu menjalani proses belajar, mencoba, gagal, memperbaiki, lalu kembali memproduksi.

Karena itu, bagi Rizaldy Al Rassyid, Penanggung Jawab Program (PJO) Pertanian Sehat Ramah Lingkungan Berkelanjutan dan Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (PSRLB-UKBM) Herbal pada Aliksa Organik SRI Consultant, lembaga mitra PT Vale Indonesia, kehadiran Rumah Oleh-Oleh justru datang pada waktu yang tepat.

Pengelolaannya memang merupakan inisiatif Pemerintah Kecamatan Bungku Timur. Namun, menurut Rizaldy, gagasan tersebut sejalan dengan arah program pemberdayaan PT Vale , terutama dalam memperluas pemasaran produk masyarakat yang selama ini telah didampingi.

“Sekarang itu kita dalam fase penguatan kelembagaan dan pemasaran,” ujarnya.

Fase itu bukan lagi semata-mata tentang bagaimana membuat sebuah produk. Ada hal lain yang mulai harus dipikirkan yaitu bagaimana usaha tersebut dikelola, bagaimana uang dicatat, bagaimana produk dievaluasi, dan bagaimana kerja sama antara produsen dengan tempat pemasaran berjalan.

Pada Juli 2026, pengelola Rumah Oleh-Oleh mendapat pelatihan kelembagaan dan pemasaran. Materinya antara lain menyentuh pencatatan keuangan, evaluasi produk dan sistem kerja sama dengan kelompok produsen.

Salah satu sistem yang kemudian digunakan adalah konsinyasi. Produk dari kelompok UMKM dititipkan untuk dijual di Rumah Oleh-Oleh, dengan pembagian margin antara pengelola tempat dan produsen.

Bagi Rizaldy, pola tersebut menjadi bagian dari proses belajar membangun sebuah usaha bersama. Rumah Oleh-Oleh bukan sekadar tempat meletakkan produk, tetapi juga mulai belajar bagaimana mengelola hubungan antara orang yang membuat produk dan orang yang memasarkannya.

Ke depan, pendampingan diarahkan pada hal yang lebih luas, termasuk pemasaran digital serta evaluasi kualitas produk, label dan perizinan.

Menariknya, sebagian pelaku UMKM kini sudah tidak lagi menunggu semuanya disiapkan oleh pendamping. Mereka mulai memahami sendiri proses legalitas usaha, mulai dari Nomor Induk Berusaha, sertifikasi halal hingga PIRT.

Di titik itu, ukuran keberhasilan pendampingan tidak lagi hanya soal berapa banyak pelatihan yang diikuti. Yang lebih penting adalah apa yang dilakukan setelah pelatihan selesai.

Hal serupa terlihat ketika sejumlah produk UMKM yang dinilai sudah mampu diproduksi secara mandiri mulai dibawa mengikuti berbagai pameran. Dari tingkat regional hingga pameran berskala nasional di Jakarta.

Bagi Rizaldy, pengalaman tersebut membuka mata pelaku UMKM bahwa pasar mereka tidak berhenti di Bungku Timur atau Bahodopi. Produk yang mereka buat mulai dikenal konsumen dari daerah lain, termasuk Makassar, Palu dan Kendari.

“Pemasaran dari pendampingan tersebut lebih luas jangkauannya,” katanya.

Tetapi, memperluas pasar bukan berarti pendampingan harus berlangsung selamanya. Justru di situlah tantangan berikutnya.

PT Vale, menurut Rizaldy, mulai mendorong munculnya orang-orang lokal yang nantinya bisa melanjutkan proses pendampingan di lingkungannya sendiri. Mereka disebut sebagai local hero, masyarakat yang dinilai memiliki kemampuan dan telah mengikuti proses pemberdayaan sejak awal.

Untuk program UKBM Herbal, saat ini terdapat tiga orang yang dipersiapkan untuk mengawal keberlanjutan program. Sementara pada bidang pertanian secara keseluruhan terdapat tujuh orang.

Mereka bukan tenaga yang didatangkan dari luar. Mereka adalah masyarakat setempat yang diharapkan mampu meneruskan pengetahuan yang telah diperoleh kepada kelompok lainnya.

“Harapannya dari PT Vale itu sendiri, kapasitas yang dimiliki oleh masyarakat lokal tersebut bisa melanjutkan ke depannya, supaya nanti masyarakat bisa bergerak secara mandiri,” kata Rizaldy.

Pos terkait