Hari Bumi 2026, Data Ilmiah Dorong Pemulihan Mangrove

Seminar Hasil Kajian Spesies Ekosistem Mangrove, Perhutanan Sosial, dan Taman Hutan Raya (Tahura) Sulawesi Tengah yang digelar di Gedung Serbaguna Fakultas Kehutanan Universitas Tadulako (Untad), Selasa (22/4/2026). FOTO: ROA SULTENG

TONDO, MERCUSUAR – Seminar hasil kajian ekosistem mangrove, perhutanan sosial, dan Taman Hutan Raya (Tahura) Sulawesi Tengah digelar di Fakultas Kehutanan Universitas Tadulako, Selasa (22/4/2026), sebagai upaya mendorong pengelolaan sumber daya alam berbasis ilmiah dan kolaboratif.
Dekan Fakultas Kehutanan Untad, Yusran, menyatakan kegiatan ini merupakan kolaborasi dengan Relawan Orang dan Alam (ROA) untuk menghasilkan kajian yang tidak hanya akademik, tetapi juga aplikatif bagi kebijakan rehabilitasi.
Dalam pemaparan, Bau Toknok mengungkapkan kondisi mangrove di Desa Oncone Raya seluas 31,44 hektare mengalami tekanan serius: hanya 18,7 persen masih berupa vegetasi mangrove, sementara 50,3 persen telah berubah menjadi tambak dan 31 persen area terbuka.
Ia menekankan pentingnya rehabilitasi berbasis data lapangan yang juga melibatkan masyarakat melalui FGD, enumerator lokal, dan pengetahuan tradisional.
Sementara itu, kajian Tahura Sulawesi Tengah yang disampaikan oleh Erika mewakili Sudirman Dg. Massiri menyoroti pengelolaan kawasan seluas 5.195 hektare di Palu dan Sigi dengan pendekatan etnobiologi dan zonasi konservasi.
Kawasan Tahura dibagi ke dalam beberapa blok, mulai dari perlindungan hingga rehabilitasi, sebagai dasar pengelolaan keanekaragaman hayati. Salah satu spesies penting yang ditemukan adalah cendana.
Seminar ini juga menyoroti tantangan implementasi di lapangan, termasuk keterbatasan data, keberlanjutan program, dan kapasitas masyarakat lokal.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi ROA dan Untad dengan dukungan Yayasan KEHATI melalui program SOLUSI, hasil kerja sama Bappenas dan Pemerintah Jerman. */TIN

Pos terkait