KPA Banggai Perkuat Kolaborasi Pencegahan HIV/AIDS

Pertemuan Penguatan Kolaborasi Pengendalian HIV/AIDS tahun 2026, yang diselenggarakan KPA Kabupaten Banggai, Rabu (10/6/2026). FOTO: DOK. DKISP BANGGAI

BANGGAI, MERCUSUAR – Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Banggai menggelar Pertemuan Penguatan Kolaborasi Pengendalian HIV/AIDS tahun 2026, di Aula Penginapan Lambuku Syariah, Rabu (10/6/2026).

Kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai upaya memperkuat sinergi berbagai pihak dalam menekan penyebaran HIV/AIDS di Kabupaten Banggai.

Ketua Panitia, Nurul Indah Dalillah dalam laporannya menyampaikan saat ini Kabupaten Banggai menempati peringkat kedua tertinggi kasus HIV/AIDS di Sulteng. Tercatat sebanyak 578 kasus HIV dan 373 kasus AIDS, dengan jumlah kematian mencapai 129 orang.

Secara umum, jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS di Provinsi Sulteng sejak 2002 hingga September 2025 tercatat sebanyak 6.811 kasus, terdiri dari 5.123 kasus HIV dan 1.688 kasus AIDS. Kondisi tersebut, menurut Nurul, menjadi dasar pentingnya peningkatan edukasi, deteksi dini, pendampingan pengobatan, serta pengurangan stigma dan diskriminasi terhadap Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di masyarakat.

Bupati Banggai yang diwakili Asisten III Administrasi Umum Setda Banggai, Nur Djalal Amir menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah menggagas dan menyelenggarakan kegiatan tersebut.

“Pertemuan ini merupakan langkah strategis dalam memperkuat sinergi dan kolaborasi lintas sektor, guna menekan penyebaran HIV/AIDS secara komprehensif,” ujar Nur Djalal.

Ia menegaskan, HIV/AIDS tidak hanya menjadi persoalan kesehatan, tetapi juga berkaitan dengan aspek sosial, ekonomi, pendidikan, budaya, hingga ketahanan keluarga. Karena itu, pengendaliannya tidak dapat dibebankan hanya kepada sektor kesehatan, melainkan memerlukan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat.

Menurutnya, pemerintah, dunia pendidikan, organisasi kemasyarakatan, lembaga keagamaan, serta para tokoh yang memiliki pengaruh di tengah masyarakat harus mengambil peran dalam upaya pencegahan dan pengendalian HIV/AIDS.

Nur Djalal menyampaikan harapan, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi sarana sosialisasi, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang dalam membangun pengetahuan, kesadaran, dan sikap masyarakat yang tepat terhadap isu HIV/AIDS. TOP

Pos terkait